Sore itu istri saya dirujuk ke rumah sakit terdekat dari rumah saya. Kalau ditarik garis lurus mungkin hanya berjarak 600M. Tapi mana ada jalan bisa lurus gitu. Emangnya bisa lewat di udara. Jalannya tetap berkelok kelok menyusuri gang/ jalan sempit perumahan, yang banyak polisi sedang tidurnya. Entah kenapa disebut polisi tidur. kenapa tidak polisi jengking. Kenapa tidak disebut sekuriti tidur saja. Entahlah.
Istri saya langsung duduk dikursi antrian depan pendaftaran. Saya tolah toleh dimana ambil antrian. Mata saya tertuju ke mesin pencetak antrian otomatis. Saya pencat dan pilih pasien bpjs. Kluarlah kertas antrian nomor 305. Berarti sudah ada 305 pasien yang mendaftar sampai detik itu. Sayapun bergegas ke petugas pendaftaran yang tidak jauh dari mesin antrian tersebut.
Saya dipanggil, tepatnya nomor antrian saya tertera di display counter, 305. Diminta isi data pasien dan disuruh menuju ruang periksa dokter. Spesialis penyakit dalam.
Jam 18.00 pasien mulai dipanggil. Sekitar satu jam kemudian nama istri saya dipanggil. Sayapun masuk nemenin istri ke ruang dokter. Perawat ngukur tekanan darah. Ternyata tensinya 189. Apa iya kata saya dalam hati. Baru kali ini tekanan darahnya tinggi, kata saya. Dokter hanya mengecek denyut jantung, itupun sambil sama sama duduk di kursi. Yang menurutku ini sangat tidak etis. Ini harus di rawat, kata dokternya. Sayapun bilang ok dok.
Kemudian cek darah dan cek kencing.
Kesan ramah tidak ada sama sekali di wajah perawat ketika masuk ke ruang administrasi rawat inap. Saya kaget, kamar kelas 1 dan 2 full, kata petugas disitu. Adanya kamar kelas 3. OKlah kata saya, yang penting istri saya di rawat dan sembuh.
Jam 10 malam istri saya baru dapat kamar, masih syukur tidak jadi ke kelas 3, katanya ada kamar kelas 2 yang kosong. Kamipun di antar ke kelas 2 yang ternyata kosong. Ada 4 tempat tidur kosong. Lho katanya tadi semua ruangan full, ini kok kosong, kata hati saya.
Di malam kedua diperiksa dokter. Besok boleh pulang. Kata dokter yang tanpa ngecek kondisi fisik istri saya. Hanya Tanya-tanya apakah masih diare, masih mual-mual? Sayapun pulang karena anak saya tidak diperbolehkan ikut nungguin di rumah sakit.
Ya syukurlah istri dah sehat kembali. Pagi itu sekitar jam 9 istri saya boleh pulang. Saya cuti 2 hari. Itulah BPJS. Yang patut disyukuri. Meski yang kata orang, kalau pasien BPJS kamar rawat inap kelas 1 pasti full, adanya kamar kelas 3. Tapi sebaliknya jika pasien umum yang bayar cash, yang ada hanya kamar kelas 1, kamar kelas 3 full. Demikian.
Jumat, 20 September 2019
Kamis, 05 September 2019
Pertemuan tanpa Perpisahan
Saya pernah nulis tentang masalah ini di blog saya ini. Beberapa hari yang lalu. Kini jadi kenyataan. Tanggal 28 Agustus 2019. Owner perusahaan memanggil kedua direktur yaitu direktur lama dan direktur baru. Sebut saja begitu. Mereka meeting di Singapore. Tersebar isu bahwa dorektur lama hari itu juga sudah tidak kerja di perusahaan ini lagi. Semua asset perusahaan yang dia pakai selama ini harus disita dan dikembalikan ke perusahaan. Laptop, kartu HP dan lain lain. Genap 10 tahun dia menjabat direktur di perusahaan ini.
Mulai hari itu dia tidak diperbolehkan masuk perusahaan lagi. Semua benda milik pribadinya dikemasin dan dihantar ke rumahnya.
Ending masa jabatan yang memprihatinkan. Bagaimana tidak, tanpa kata perpisahan yang sempat disampaikannya ke karyawan. Seandainya saja dia dikeluarkan secara baik-baik, mungkin akan ada acara perpisahannya.
Ataukah ini sebuah karma. Bisa jadi. Dulu sewaktu dia baru masuk perusahaan menggantikan direktur sebelumnya juga dia sama sekali tidak ada respeknya kepada mantan direktur yang digantikannya. Sama sekali tidak menghargai mantan direktur itu. Bahkan sempat mantan direktur sebelumnya itu ditinggalnya di suatu acara, bahkan harus naik taxi sendiri.
Kini hal yang sama menimpa dirinya. Bahkan lebih sadis, mungkin. Dia baru beberapa hari masuk kerja setelah 10 hari cuti berlibur kebeberapa Negara bersama keluarganya yang di Indonesia. Di Indonesia, di batam dia juga punya istri "muda"orang Indonesia.
Mantan direktur ini sebenarnya baik dan sangat familiar hal manajerial perusahaan. Meski sering marah-marah, orangnya temperamental, tapi itu demi kemajuan perusahaan. Banyak memiliki gagasan-gagasan ide sebagai terobosan perbaikan. Improvement, kaizen, dia pacu. Bagaimana mengurangi cost. Menaikkan penjualan. Melokalisasi pemasokan bahan baku. Disiplin karyawan juga dia monitor. Tidak segan segan dia akan mengeluarkan karyawan yang tidak disiplin, atau kontraknya tidak diperpanjang jika masih terikat kontrak.
Dia juga sangat mensupport urusan welfare karyawan. Ada family gathering tiap tahun. Ada olah raga bulu tangkis. Ada futsal. Ada senam aerobic. Ada olah raga sepeda, yang kalau ada event keluar kota, tidak pernah lupa membelikan oleh-oleh bagi anggota team yang tidak bisa ikut. Entah kenapa biasanya yang diminta beli oleh-oleh itu adalah saya.
Sisi kurang baiknya, atau minimal yang jadi beban membekas yang dipendam karyawan yaitu suka memarahi tanpa kenal tempat. Termasuk saya sendiri memendam rasa itu.
Dimanapun.
Paling suka marah saat meeting. Jarang memarahi karyawan hanya empat mata. Paling doyan gebrak meja saat meeting.
Dulu jika diperhatikan, jika sorenya ada jadwal meeting dengan staff, dia tidur dulu, setelah bangun dia ukur sendiri tensinya. Jika tekanan darahnya lagi naik, dipastikan dia berusaha mengurangi amarahnya saat meeting. Dan sebaliknya jika tensinya rendah maka dia marah seenaknya dalam rapat. Itulah ciri khasnya.
Jika mau manggil karyawan untuk menghadap, harus dicari, tidak peduli sedang ngapain. Bisa dibilang sangat egois.
Suka tidur bahkan ngorok di kursi kerjanya. Padahal mejanya satu ruangan dengan staff. Dia tidur tanpa pandang jam. Klo ngantuk ya tidur. Meja saya kebetulan di depan dia. Sangat risih jika denger dia mendengkur.
Satu kesalahan fatal yang dilakukan yaitu terlalu mengikuti kemauan orang ketiga, yang deket dengan istrinya, yang mengisi kantin perusahaan. Orang ketiga ini terlalu jauh ikut campur urusan perusahaan. Karyawan yang dia tidak sukaipun bisa dia rekomendasikan agar dikeluarkan. Luar biasa pengaruhnya.
Terakhir sang direktur ini buka PT baru bersama orang ketiga tersebut. Anak dari yang punya kantin itu. Disinilah fatalnya. Keuangan perusahaan jadi tidak sehat lagi.
Kita lihat nanti apa yang terjadi. Apakah masih kuat atau hanya tinggal kenangan.
Mulai hari itu dia tidak diperbolehkan masuk perusahaan lagi. Semua benda milik pribadinya dikemasin dan dihantar ke rumahnya.
Ending masa jabatan yang memprihatinkan. Bagaimana tidak, tanpa kata perpisahan yang sempat disampaikannya ke karyawan. Seandainya saja dia dikeluarkan secara baik-baik, mungkin akan ada acara perpisahannya.
Ataukah ini sebuah karma. Bisa jadi. Dulu sewaktu dia baru masuk perusahaan menggantikan direktur sebelumnya juga dia sama sekali tidak ada respeknya kepada mantan direktur yang digantikannya. Sama sekali tidak menghargai mantan direktur itu. Bahkan sempat mantan direktur sebelumnya itu ditinggalnya di suatu acara, bahkan harus naik taxi sendiri.
Kini hal yang sama menimpa dirinya. Bahkan lebih sadis, mungkin. Dia baru beberapa hari masuk kerja setelah 10 hari cuti berlibur kebeberapa Negara bersama keluarganya yang di Indonesia. Di Indonesia, di batam dia juga punya istri "muda"orang Indonesia.
Mantan direktur ini sebenarnya baik dan sangat familiar hal manajerial perusahaan. Meski sering marah-marah, orangnya temperamental, tapi itu demi kemajuan perusahaan. Banyak memiliki gagasan-gagasan ide sebagai terobosan perbaikan. Improvement, kaizen, dia pacu. Bagaimana mengurangi cost. Menaikkan penjualan. Melokalisasi pemasokan bahan baku. Disiplin karyawan juga dia monitor. Tidak segan segan dia akan mengeluarkan karyawan yang tidak disiplin, atau kontraknya tidak diperpanjang jika masih terikat kontrak.
Dia juga sangat mensupport urusan welfare karyawan. Ada family gathering tiap tahun. Ada olah raga bulu tangkis. Ada futsal. Ada senam aerobic. Ada olah raga sepeda, yang kalau ada event keluar kota, tidak pernah lupa membelikan oleh-oleh bagi anggota team yang tidak bisa ikut. Entah kenapa biasanya yang diminta beli oleh-oleh itu adalah saya.
Sisi kurang baiknya, atau minimal yang jadi beban membekas yang dipendam karyawan yaitu suka memarahi tanpa kenal tempat. Termasuk saya sendiri memendam rasa itu.
Dimanapun.
Paling suka marah saat meeting. Jarang memarahi karyawan hanya empat mata. Paling doyan gebrak meja saat meeting.
Dulu jika diperhatikan, jika sorenya ada jadwal meeting dengan staff, dia tidur dulu, setelah bangun dia ukur sendiri tensinya. Jika tekanan darahnya lagi naik, dipastikan dia berusaha mengurangi amarahnya saat meeting. Dan sebaliknya jika tensinya rendah maka dia marah seenaknya dalam rapat. Itulah ciri khasnya.
Jika mau manggil karyawan untuk menghadap, harus dicari, tidak peduli sedang ngapain. Bisa dibilang sangat egois.
Suka tidur bahkan ngorok di kursi kerjanya. Padahal mejanya satu ruangan dengan staff. Dia tidur tanpa pandang jam. Klo ngantuk ya tidur. Meja saya kebetulan di depan dia. Sangat risih jika denger dia mendengkur.
Satu kesalahan fatal yang dilakukan yaitu terlalu mengikuti kemauan orang ketiga, yang deket dengan istrinya, yang mengisi kantin perusahaan. Orang ketiga ini terlalu jauh ikut campur urusan perusahaan. Karyawan yang dia tidak sukaipun bisa dia rekomendasikan agar dikeluarkan. Luar biasa pengaruhnya.
Terakhir sang direktur ini buka PT baru bersama orang ketiga tersebut. Anak dari yang punya kantin itu. Disinilah fatalnya. Keuangan perusahaan jadi tidak sehat lagi.
Kita lihat nanti apa yang terjadi. Apakah masih kuat atau hanya tinggal kenangan.
Langganan:
Komentar (Atom)
