Jumat, 20 September 2019

Nasib Pasien BPJS

Sore itu istri saya dirujuk ke rumah sakit terdekat dari rumah saya. Kalau ditarik garis lurus mungkin hanya berjarak 600M. Tapi mana ada jalan bisa lurus gitu. Emangnya bisa lewat di udara. Jalannya tetap berkelok kelok menyusuri gang/ jalan sempit perumahan, yang banyak polisi sedang tidurnya. Entah kenapa disebut polisi tidur. kenapa tidak polisi jengking. Kenapa tidak disebut sekuriti tidur saja. Entahlah.
Istri saya langsung duduk dikursi antrian depan pendaftaran. Saya tolah toleh dimana ambil antrian. Mata saya tertuju ke mesin pencetak antrian otomatis. Saya pencat dan pilih pasien bpjs. Kluarlah kertas antrian nomor 305. Berarti sudah ada 305 pasien yang mendaftar sampai detik itu. Sayapun bergegas ke petugas pendaftaran yang tidak jauh dari mesin antrian tersebut.
Saya dipanggil, tepatnya nomor antrian saya tertera di display counter, 305. Diminta isi data pasien dan disuruh menuju ruang periksa dokter. Spesialis penyakit dalam.
Jam 18.00 pasien mulai dipanggil. Sekitar satu jam kemudian nama istri saya dipanggil. Sayapun masuk nemenin istri ke ruang dokter. Perawat ngukur tekanan darah. Ternyata tensinya 189. Apa iya kata saya dalam hati. Baru kali ini tekanan darahnya tinggi, kata saya. Dokter hanya mengecek denyut jantung, itupun sambil sama sama duduk di kursi. Yang menurutku ini sangat tidak etis. Ini harus di rawat, kata dokternya. Sayapun bilang ok dok.
Kemudian cek darah dan cek kencing.
Kesan ramah tidak ada sama sekali di wajah perawat ketika masuk ke ruang administrasi rawat inap. Saya kaget, kamar kelas 1 dan 2 full, kata petugas disitu. Adanya kamar kelas 3. OKlah kata saya, yang penting istri saya di rawat dan sembuh.

Jam 10 malam istri saya baru dapat kamar, masih syukur tidak jadi ke kelas 3, katanya ada kamar kelas 2 yang kosong. Kamipun di antar ke kelas 2 yang ternyata kosong. Ada 4 tempat tidur kosong. Lho katanya tadi semua ruangan full, ini kok kosong, kata hati saya.
Di malam kedua diperiksa dokter. Besok boleh pulang. Kata dokter yang tanpa ngecek kondisi fisik istri saya. Hanya Tanya-tanya apakah masih diare, masih mual-mual? Sayapun pulang karena anak saya tidak diperbolehkan ikut nungguin di rumah sakit.
Ya syukurlah istri dah sehat kembali. Pagi itu sekitar jam 9 istri saya boleh pulang. Saya cuti 2 hari. Itulah BPJS. Yang patut disyukuri. Meski yang kata orang, kalau pasien BPJS kamar rawat inap kelas 1 pasti full, adanya kamar kelas 3. Tapi sebaliknya jika pasien umum yang bayar cash, yang ada hanya kamar kelas 1, kamar kelas 3 full. Demikian.