Kamis, 05 September 2019

Pertemuan tanpa Perpisahan

Saya pernah nulis tentang masalah ini di blog saya ini. Beberapa hari yang lalu. Kini jadi kenyataan. Tanggal 28 Agustus 2019. Owner perusahaan memanggil kedua direktur yaitu direktur lama dan direktur baru. Sebut saja begitu. Mereka meeting di Singapore. Tersebar isu bahwa dorektur lama hari itu juga sudah tidak kerja di perusahaan ini lagi. Semua asset perusahaan yang dia pakai selama ini harus disita dan dikembalikan ke perusahaan. Laptop, kartu HP dan lain lain. Genap 10 tahun dia menjabat direktur di perusahaan ini.
Mulai hari itu dia tidak diperbolehkan masuk perusahaan lagi. Semua benda milik pribadinya dikemasin dan dihantar ke rumahnya.
Ending masa jabatan yang memprihatinkan. Bagaimana tidak, tanpa kata perpisahan yang sempat disampaikannya ke karyawan. Seandainya saja dia dikeluarkan secara baik-baik, mungkin akan ada acara perpisahannya.
Ataukah ini sebuah karma. Bisa jadi. Dulu sewaktu dia baru masuk perusahaan menggantikan direktur sebelumnya juga dia sama sekali tidak ada respeknya kepada mantan direktur yang digantikannya. Sama sekali tidak menghargai mantan direktur itu. Bahkan sempat mantan direktur sebelumnya itu ditinggalnya di suatu acara, bahkan harus naik taxi sendiri.
Kini hal yang sama menimpa dirinya. Bahkan lebih sadis, mungkin. Dia baru beberapa hari masuk kerja setelah 10 hari cuti berlibur kebeberapa Negara bersama keluarganya yang di Indonesia. Di Indonesia, di batam dia juga punya istri "muda"orang Indonesia.
Mantan direktur ini sebenarnya baik dan sangat familiar hal manajerial perusahaan. Meski sering marah-marah, orangnya temperamental, tapi itu demi kemajuan perusahaan. Banyak memiliki gagasan-gagasan ide sebagai terobosan perbaikan. Improvement, kaizen, dia pacu. Bagaimana mengurangi cost. Menaikkan penjualan. Melokalisasi pemasokan bahan baku. Disiplin karyawan juga dia monitor. Tidak segan segan dia akan mengeluarkan karyawan yang tidak disiplin, atau kontraknya tidak diperpanjang jika masih terikat kontrak.
Dia juga sangat mensupport urusan welfare karyawan. Ada family gathering tiap tahun. Ada olah raga bulu tangkis. Ada futsal. Ada senam aerobic. Ada olah raga sepeda, yang kalau ada event keluar kota, tidak pernah lupa membelikan oleh-oleh bagi anggota team yang tidak bisa ikut. Entah kenapa biasanya yang diminta beli oleh-oleh itu adalah saya.
Sisi kurang baiknya, atau minimal yang jadi beban membekas yang dipendam karyawan yaitu suka memarahi tanpa kenal tempat. Termasuk saya sendiri memendam rasa itu.
Dimanapun.
Paling suka marah saat meeting. Jarang memarahi karyawan hanya empat mata. Paling doyan gebrak meja saat meeting.
Dulu jika diperhatikan, jika sorenya ada jadwal meeting dengan staff, dia tidur dulu, setelah bangun dia ukur sendiri tensinya. Jika tekanan darahnya lagi naik, dipastikan dia berusaha mengurangi amarahnya saat meeting. Dan sebaliknya jika tensinya rendah maka dia marah seenaknya dalam rapat. Itulah ciri khasnya.
Jika mau manggil karyawan untuk menghadap, harus dicari, tidak peduli sedang ngapain. Bisa dibilang sangat egois.
Suka tidur bahkan ngorok di kursi kerjanya. Padahal mejanya satu ruangan dengan staff. Dia tidur tanpa pandang jam. Klo ngantuk ya tidur. Meja saya kebetulan di depan dia. Sangat risih jika denger dia mendengkur.
Satu kesalahan fatal yang dilakukan yaitu terlalu mengikuti kemauan orang ketiga, yang deket dengan istrinya, yang mengisi kantin perusahaan. Orang ketiga ini terlalu jauh ikut campur urusan perusahaan. Karyawan yang dia tidak sukaipun bisa dia rekomendasikan agar dikeluarkan. Luar biasa pengaruhnya.
Terakhir sang direktur ini buka PT baru bersama orang ketiga tersebut. Anak dari yang punya kantin itu. Disinilah fatalnya. Keuangan perusahaan jadi tidak sehat lagi.
Kita lihat nanti apa yang terjadi. Apakah masih kuat atau hanya tinggal kenangan.