Kamis, 11 Agustus 2016

Bunga yang Tertuduh

Tulisan ini pernah saya posting di Fb saya, tidak ada yang mengomentari mungkin bingung mau komentar apa.

judulnya : bunga yang tertuduh. hi hi hi sadis amat. ini photo kenangan 6 bulan yang lalu yg diambil google map street view tepatnya bulan  Februari 2016. nama lazimnya bunga kembang kertas, nama kerennya bougenville. salah satu bunga yang paling rajin berbunga baik musim kering maupun musim hujan. hidup dengan mudah di mana saja asal cukup zat yg dibutuhkannya. pohonnya berduri terutama rantingnya, agak susah jika mau memangkasnya karena rawan kena durinya. dulu banyak yang mencarinya sebagai sarana mendekatkan diri pada yang kuasa. kini nasibmu berubah, engkau bagai tertuduh karena menghambat jalan memuja yang kuasa. batangmu yang dulu kokoh kini dibabat hanya menyisakan ranting kering sebagai tempat bertenggernya gantungan sampah. Kalaupun masih tumbuh, hanya sekedar hidup tak terurus. Kadang ada orang meminta rantingnya untuk ditanam.

Menolong Penipu

Suatu hari tepatnya 1 agustus 2016, aku diemail oleh salah satu temen di kantor, seorang ibu-ibu yang kebetulan tinggal di rusunawa belakang top100 tembesi. Intinya dia minta sumbangan suka rela untuk membantu satu keluarga yang kondisinya sangat memprihatinkan. Si ibu ini sudah minta bantuan ke perkumpulan muslim di perusahaan dan juga kepada para penghuni blok rusun tempat si ibu tinggal. Salah satu pengurus di rusun juga sudah mengekspose bantuan ini di medsos. Nah terkumpullah sejumlah uang yang cukup untuk membantu berobat dan beli tiket satu keluarga ke kampung halamannya. Akupun menyanggupi bantu sekarung beras, karena itu yang kebetulan ada. Sebelum menyanggupi nyumbang, akupun minta kawanku itu untuk memastikan apakah orang itu memang benar-benar lagi kesusahan.
Ceritanya begini (versi penuturan si ibu yang satu pt denganku): suatu malam ada warga rusun menjumpai sepasang suami istri dengan 3 anaknya yang masih kecil-kecil tidur berdesakan di pos security. Akhirnya dilaporkan ke penjaga rusun dan disarankan tidur sementara di gudang rusun deket mushola. Menurut pengakuan si suami terakhir keluarga ini tinggal di perumahan belakang SP plasa, karena ada konflik dengan sesama penghuni kos akhirnya dia pergi. Ngakunya KTPnya di tahan bidan di sagulung yang membantu saat melahirkan dan tidak sanggup  melunasi biaya bersalin. Ngakunya juga tidak memiliki HP sehingga tidak bisa menghubungi sanak keluaganya di luar batam. Cara penuturanya memang sangat memprihatinkan. Si suami katanya lagi susah buang air. Istrinya masih sakit karena baru beberapa hari habis melahirkan.
Sebenarnya kawanku itu ada sedikit ragu karena ada beberapa hal janggal. Tapi karena dia tidak mau berprasangka buruk ke orang lain, ya tetep tak perlu curiga.


Sepulang kerja akupun ke sana ke rusun menjumpai orang itu sambil membawa satu karung beras yang ku janjikan. Aku dibantu kawanku mengangkat beras ke kamar orang itu. Si suami keliahatan ragu menerimaku, ya kami cerita sekedarnya saja. Terus terang aku tidak merasakan iba melihat kondisi keluarga itu, hanya aku menaruh perhatian ke anaknya yang baru lahir. Firasatku berkata lain. Saat pualng dari sana, kawanku minta tolong mengantar istrinya orang itu berobat ke bidan. Rasanya aku terpaksa mengantarkannya ditemani dua orang ibu rusun, hari sudah magrib lagian aku ngajak anakku yang kecil.

Pada hari sabtu, sesuai rencana awal bahwa keluarga itu mau pulang ke medan, tapi berubah rencana katanya mau ke dumai atau kemana gitu (aku ndak merespon lagi) ada saudaranya di sana yang bisa bantu dan mau berangkat hari minggu. Nah pada hari minggunya berangkatlah keluarga itu ke pelabuhan diantar oleh beberapa ibu dari rusun naik taxi. Sebelum berangkatpun si suaminya ini masih beralasan tidak mau membawa barang-barangnya karena nanti akan balik lagi ke batam. Setelah dipaksa oleh ibu-ibu rusun akhirnya si suaminya ini membawa semua barangnya. Si suami juga sempat mengatakan bahwa dia betah sekali tinggal di rusun tersebut, bagaimana tidak wong penghuni rusun sana ngasi makan tiga kali sehari.
Sampai di pelabuhan tiketpun sudah terbeli kemudian ditinggal oleh warga yang mengantarnya. Tiba-tiba ada supir taxi disana ada yang melihat dan memberi tahu si warga yang mengantarkannya bahwa si keluarga malang tersebut adalah modus, hanya berpura-pura kesusahan yang sesungguhnya tujuannya menipu. Sudah terbiasa katanya menipu orang dengan cara begitu.
Semoga keluarga malang tersebut sehat dan diberikan kesadaran nurani oleh yang maha kuasa sehingga tidak lagi menipu orang lain.
BERHATI-HATILAH MEMBANTU ORANG LAIN.


Jumat, 29 Juli 2016

Yang Penting Ada Untung

Bekerja bertahun-tahun di perusahaan asing pada posisi dan jabatan yang sama bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Kadang rasa minder muncul tatkala memperhatikan orang-orang disekitar yang tanpa perlu sekolah tinggi, hanya tamatan sma, toh jabatannya melesat jauh. Kalau begitu, apalah gunanya orang kuliah tinggi-tinggi? Namun tidaklah sepenuhnya benar.
Bergaul dengan orang-orang dengan mayoritas suku P dan B dari pulau Sumatera masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Persamaannya tatkala ada penerimaan karyawan baru. Masing-masing suku berusaha membawa orang yang dari daerahnya masing-masing. Tentu ada juga sisi positifnya jika didominasi oleh suku tertentu misalnya mereka menjadi lebih kompak karena komunikasi lancar. Sisi negatifnya barangkali akan memunculkan egois kesukuan. Kalau ada ide biasanya selalu didukung oleh kawannya.
Banyak contoh yang bisa kita perhatikan, misalnya tentang transparansi kegiatan. Ambil contoh, ada grup sepedaan atau yang biasa disebut grup gowes. Perusahaan memberikan tunjangan kegiatan setiap bulan meskipun tidak terlalu banyak namun tidak pernah ada laporan keuangan kepada anggota. Grup ini mayoritas anggotanya dari suku P dan ketuanyapun dipegang orang P. Kegiatan yang mengatasnamakan grup tidak diadakan setiap bulan, mestinya dananya tidak digunakan. Sebenarnya kan perlu diinformasikan dana ada berapa, pengeluaran berapa dan saldo berapa.

Demikian juga halnya jika ada kegiatan family day perusahaan. Kalau diperhatikan usulan-usulan dari orang-orang P selalu menjurus ke cara-cara yang tidak transparan. Bagaimana sistem pembagian hadiah misalnya. Ini tidak perlu dibuatkan sistem yang jelas agar nantinya panitia bisa bermain.

Selasa, 31 Mei 2016

Korban Traffiking - bagian dua (habis)

Sebagai penutup tulisan saya sebelumnya tentang kejadian yang menimpa seorang umat hindu yang bekerja di malaysia.

Pada tanggal 20 Mei 2016 saat menghadiri rapat banjar di salah satu rumah warga di taman lestari batu aji, kebetulan hadir juga sebagai tamu salah seorang umat senior yang sudah pindah ke bali. Kebetulan dia dan istrinya datang ke batam bersama istrinya mengurus asset yang belum terjual.

singkat cerita, dia bercerita tentang kisah salah seorang warga bali yang jadi korban traffiking di malaysia. Kebetulan pak Gede ini sempat mampir ke rumah si korban. Kondisi keluarganya memang seperti si korban ceritakan. Namun ada satu hal yang disampaikan pak Gede membuat saya terperanjat, bahwa si korban ini sebenarnya bukan korban traffiking seperti yang dia ceritakan sewaktu di batam. Ini semua adalah akal-akalan dia saja bersama pacarnya di malaysia.
Dia bukan korban perkosaan, tapi akibat pacaran. Karena si korban ini kemungkinan kerja di malaysia bukan lewat jalur resmi, makanya saat kena kasus dia takut ketahuan pihak polisi malaysia. Makanya dia melarikan diri ke batam, dan memang sedikit aneh kok seperti ada skenarionya.

Betapa kecewanya rasanya lembaga dan tokoh masyarakat hindu di batam telah dibohongi. Bahkan pemerintah juga dibohongi. Rumah sakit apalagi. Semua yang menanggung biayanya adalah rumah sakit BK. Ada tokoh Hindu disana dengan gigihnya membantu.

Penguburan Bayinya juga dilakukan oleh umat hindu di Batam. Ada yang meninggalkan pekerjaannya demi menolong umat kemalangan. Rela berpanas-panasan dikuburan dari menggali kubur sampai penguburan bayinya. Ada yang bagian gali lubang, ada yang mempersiapkan peti mayatnya, ada yang nyari bunga pinang, ada yang nyiapkan bantenya, ada yang ngatur kepulangan bayinya dari rumah sakit. Semua dikerjakan dengan iklhas.

Beberapa hari kemudian, para tokoh mengadakan rapat membantu kepulangan si korban ini. Lembaga membantu membelikan tiket kepulangannya. Karena lugu atau bodoh, si korban seolah-olah beranggapan yang menanggung kepulangan dia adalah lembaga.

Tapi tak apalah daripada semuanya kecewa dan kasus bisa jadi jadi panjang lagi, biarlah disimpan saja. Ambil positifnya karena kita telah menolong orang, toh sudah berlalu.

Senin, 22 Februari 2016

Korban Traffiking

Rabu, 17 feb'16
Ada undangan lewat WA dari penyelenggara hindu kota batam yang berbunyi 'mengundang semua ketua lembaga dan kelembagaan umat di batam untuk rapat sehubungan dengan adanya seorang umat yang telah melahirkan bayi namun tidak ada ayahnya'. Demikian inti dari pesan di WA tersebut.
Sayapun mereplynya akan datang sekalian ada latihan nabuh rutin setiap rabu malam.

Singkat cerita rapat dimulai dan dibuka oleh penyelenggara Hindu dan selanjutnya dipersilakan menceritakan kronologi permasalahan kepada ketua paruman walaka, yang sempat di interupsi karena belum doa bersama. akhirnya pembawa acara memimpin doa bersama pembuka rapat.

Cerita dilanjutkan, seketika terasa trenyuh mendengarkan kronologi kejadian. kemudian beberapa tanggapan dari peserta rapat. Apa yang akan dilakukan kedepannya. Ada yang mengusulkan agar tidak kembali terjadi lagi dikemudian hari dan menimpa umat kita di Bali. Karena ini masalah hukum, kita harus minta bantuan kepada umat kita di kepolisian. Bukannya apa-apa, mendengar ini saya masih apriori. Apa sih yang bisa dibantu oleh umat yang dikepolisian?

Inti ceritanya sebagai berikut : si korban adalah seorang janda muda sudah memiliki seorang anak saat ini sudah 4 tahun, berasal dari sebuah desa di singaraja Bali. Ada yang menawari untuk bekerja di Malaysia, yang bersangkutan kepingin berangkat dan memutuskan untuk berangkat padahal kedua orang tuanya tidak mengijinkan. Berangkatlah dia ke Jawa Timur dan sempat ganti nama dan ganti Agama. Lama tidak diberangkatkan, akhirnya dibawa ke Malang dan dari sinilah dia berangkat ke Malaysia. Di Malaysia dipekerjakan di rumah seorang pilot, harusnya orang intelek. Namun apa daya malah dia diperkosa, dan malangnya lagi ketika dilaporkan kepada istrinya malah dia yang kena marah. Akhirnya dia berhasil melarikan diri dan ditolonglah oleh seorang Madura. Rupanya dia belum bernasib baik, lepas dari mulut singa malah jatuh ke mulut buaya. Malah dia diperkosa berkali-kali. Akhirnya dia telat menstruasi beberapa bulan dan akhirnya dia dipulangkan lewat Batam namun passport ditahan dia. Sampailah dia di Batam dengan terombang ambing naik pompong lewat pelabuhan 'tikus'. Dari keluarganya di denpasar, dia diminta untuk membantu memulangkan ke denpasar naik pesawat, namun keburu mau melahirkan. akhirnya dia melahirkan di rmah sakit BK batam. Sampailah berita ini ke beberapa tokoh orang BAli di Batam.
si bayi lahir sedikit ada cacat dan bobotnya hanya 6ons lebih.

Memang sih pada akhirnya ada umat hindu yang berpropesi sebagai polisi bersedia menampung si korban. Mudah-mudahan niat baik ini mendapatkan imbalan dari Yang Maha Kuasa.