Suatu hari tepatnya 1 agustus 2016, aku diemail oleh salah satu temen di kantor, seorang ibu-ibu yang kebetulan tinggal di rusunawa belakang top100 tembesi. Intinya dia minta sumbangan suka rela untuk membantu satu keluarga yang kondisinya sangat memprihatinkan. Si ibu ini sudah minta bantuan ke perkumpulan muslim di perusahaan dan juga kepada para penghuni blok rusun tempat si ibu tinggal. Salah satu pengurus di rusun juga sudah mengekspose bantuan ini di medsos. Nah terkumpullah sejumlah uang yang cukup untuk membantu berobat dan beli tiket satu keluarga ke kampung halamannya. Akupun menyanggupi bantu sekarung beras, karena itu yang kebetulan ada. Sebelum menyanggupi nyumbang, akupun minta kawanku itu untuk memastikan apakah orang itu memang benar-benar lagi kesusahan.
Ceritanya begini (versi penuturan si ibu yang satu pt denganku): suatu malam ada warga rusun menjumpai sepasang suami istri dengan 3 anaknya yang masih kecil-kecil tidur berdesakan di pos security. Akhirnya dilaporkan ke penjaga rusun dan disarankan tidur sementara di gudang rusun deket mushola. Menurut pengakuan si suami terakhir keluarga ini tinggal di perumahan belakang SP plasa, karena ada konflik dengan sesama penghuni kos akhirnya dia pergi. Ngakunya KTPnya di tahan bidan di sagulung yang membantu saat melahirkan dan tidak sanggup melunasi biaya bersalin. Ngakunya juga tidak memiliki HP sehingga tidak bisa menghubungi sanak keluaganya di luar batam. Cara penuturanya memang sangat memprihatinkan. Si suami katanya lagi susah buang air. Istrinya masih sakit karena baru beberapa hari habis melahirkan.
Sebenarnya kawanku itu ada sedikit ragu karena ada beberapa hal janggal. Tapi karena dia tidak mau berprasangka buruk ke orang lain, ya tetep tak perlu curiga.
Sepulang kerja akupun ke sana ke rusun menjumpai orang itu sambil membawa satu karung beras yang ku janjikan. Aku dibantu kawanku mengangkat beras ke kamar orang itu. Si suami keliahatan ragu menerimaku, ya kami cerita sekedarnya saja. Terus terang aku tidak merasakan iba melihat kondisi keluarga itu, hanya aku menaruh perhatian ke anaknya yang baru lahir. Firasatku berkata lain. Saat pualng dari sana, kawanku minta tolong mengantar istrinya orang itu berobat ke bidan. Rasanya aku terpaksa mengantarkannya ditemani dua orang ibu rusun, hari sudah magrib lagian aku ngajak anakku yang kecil.
Pada hari sabtu, sesuai rencana awal bahwa keluarga itu mau pulang ke medan, tapi berubah rencana katanya mau ke dumai atau kemana gitu (aku ndak merespon lagi) ada saudaranya di sana yang bisa bantu dan mau berangkat hari minggu. Nah pada hari minggunya berangkatlah keluarga itu ke pelabuhan diantar oleh beberapa ibu dari rusun naik taxi. Sebelum berangkatpun si suaminya ini masih beralasan tidak mau membawa barang-barangnya karena nanti akan balik lagi ke batam. Setelah dipaksa oleh ibu-ibu rusun akhirnya si suaminya ini membawa semua barangnya. Si suami juga sempat mengatakan bahwa dia betah sekali tinggal di rusun tersebut, bagaimana tidak wong penghuni rusun sana ngasi makan tiga kali sehari.
Sampai di pelabuhan tiketpun sudah terbeli kemudian ditinggal oleh warga yang mengantarnya. Tiba-tiba ada supir taxi disana ada yang melihat dan memberi tahu si warga yang mengantarkannya bahwa si keluarga malang tersebut adalah modus, hanya berpura-pura kesusahan yang sesungguhnya tujuannya menipu. Sudah terbiasa katanya menipu orang dengan cara begitu.
Semoga keluarga malang tersebut sehat dan diberikan kesadaran nurani oleh yang maha kuasa sehingga tidak lagi menipu orang lain.
BERHATI-HATILAH MEMBANTU ORANG LAIN.