Senin, 30 Oktober 2023

KESEPAKATAN RAMAI

 



Purnama kelima adalah tegak piodalan Pura Agung Amerta Bhuana Batam. Konon tidak boleh melaksanakan piodalan karena pengerjaan renovasi Padmasana sedang berlangsung. Disepakatilah dalam rapat para stake holder hanya dengan melaksanakan upacara “mapekeling”. Mungkin dalam bahasa Indonesianya “mengingatkan”. Sekaligus ditentukan apa saja sarana upakara yang harus disediakan. Seperti biasa, tugas dibagi bagi tiap banjar.

Minggu 29 Oktober 2023. Ada yang bilang acara persembahyangannya seperti biasa, seperti saat Purnama atau Tilem. Katanya. Bukan rentetan persembahyangan piodalan. Begitulah kalau tidak mau tau masalah bebantenan.

Berangkat dari rumah agak cepat, karena saya tahu bahwa meskipun sudah dijanjikan peralatan gamelan ada yang ngangkut ke atas ke mandala utama, pasti belum dilaksanakan. Saya juga memberi pengumuman agar anggota datang lebih awal. Saya tak pernah ambil pusing masalah itu. Saya tidak boleh terlalu berharap banyak. Biar tidak stress.

Jam 6 petang mulailah saya dengan anggota yang rata rata anak anak untuk megambel sembari mengiringi ibu ibu petugas banten meletakkan banten di lokasi lokasi yang ditentukan. Keringat masih membasahi baju sembahyang saya meski saya sudah ganti baju sebelumnya. Megambel sekitar satu jam lebih. Sekali sekali pembawa acara terdengar menyampaikan sesuatu lewat pengeras suara yang tak jelas terdengar, karena suara gamelan. Tidak ada koordinasi sama sekali. 

Tibalah acara persembahyangan. Diisi dengan dharma wacana yang dibawakan oleh sesepuh umat Hindu, I Wayan Jasmin. Penyampaian dhrma wacana yang tidak menarik sama sekali. Kalau tidak salah temanya Tiga Kerangka dasar Agama Hindu. Dharma wacananya selama kurang lebih 45 menit. Tidak ada yang komplin.

Sebelum melakukan Kramaning sembah, diselingi dengan acara pengukuhan Serati Banten oleh PHDI Kota Batam. Serati banten adalah orang orang yang terpilih dan mau menyiapkan sarana upakara bebantenan saat dibutuhkan. Misalnya saat hari Piodalan atau saat Nyepi. Hal yang sama untuk laki lakinya. Yang disebut Mancagra.

Selesai nunas tirta, diselingi lagi dengan acara penandatanganan kesepakatan antara pihak Pura dengan pihak Sri Lalita. Poin poin perjanjiannya sudah di share ke umat sebelumnya. Kesepakatan antara ketua PHDI dan ketua BOP dengan ketua pengurus Sri Lalita. Kemudian diketahui oleh semua kelian banjar sebaga saksi. Ada yang tidak lazim dalam surat perjanjian. Biasanya perjanjian atau kesepakatan antara dua pihak, bukan dua pihak lawan satu. Dalam hal ini seharusnya hanya antara BOP dengan Sri Lalita. Selebihnya hanya mengetahui. Inilah ketua lembaga atau kelembagaan yang cari selamat dikemudian hari. Kan sama sama semua tanda tangan. Mungkin begitu salah satu cara membentengi dirinya.

Pada kesempatan itu Sri Lalita juga menyerahkan bantuan secara simbolis uang pembangunan Pura sejumlah 125 juta rupiah. Diterima oleh ketua BOP I Made Sudarta.

Selesai persembahyangan kembali saya dan beberapa teman teman sekeha gong harus bermandikan keringat mengembalikan peralatan gamelan ke ruangan di bawah di wantilan. Berkali kali saya dengar pengumuman agar bapak bapak membantu mengangkat gamelan. Namun sepertinya semua cuek bebek.

Ya begitulah dinamika umat hindu di batam. Ada yang semangat sekali jika ada acara ngelawar atau nguling. Ada yang duduk manis dengan hpnya, ada yang asik ngobrol meski orang lain sibuk, ada yang duduk kusuk semedi seolah olah lagi ngobrol sama Tuhan, ada yang pura pura menggendong anaknya.  Ya nikmati saja.

*Photo photo lainnya bisa dilihat di https://www.facebook.com/photo/?fbid=3452086075103658&set=pcb.3452086125103653