Saya menanggapinnya masih dingin karena terus terang saya ragu dengan apa yang disampaikan bu Isti (istri almarhum Pak Yudistira) yang asli Palembang yang kembali ke jalan Dharma. Apalagi setelah pak Yudistira tiada.
Kini tinggal Ibu Isti bersama 4 anaknya yang satu orang lagi sudah berumah tangga dan sedang menunggu lahiran. Inilah satu anak perempuannya yang tetap memeluk islam. Tinggal 33 anak laki dan 1 anak perempuan.
Ketika itu jam 11 tengah malam. Saya terima WA dari Ibu Isti yang mengabarkan bahwa mereka akan berangkat ke Bali 2 hari kemudian, tepatnya hari Minggu 23 Agustus 2020 sore. Saya balas dengan singkat. Ya bu hati hati dijalan, semoga selamat sampai di tujuan. Kami cukup panjang chatting di WA. Biasalah selalu diakhiri dengan mohon bantuan saya karena tidak punya dana sama sekali. Lha saya sempat berpikir, ndak punya biaya bagaimana caranya beli tiket. Bagaimana caranya nanti bayar transport darat. Saya sempat bertanya apakah sudah berkoordinasi dengan para tokoh umat. Katanya sudah, namun hanya ucapan selamat jalan dan semoga selamat sampai tujuan.
Yang mengherankan saya kok tidak ada satu orangpun yang memberi tahu saya. Saya ndak habis pikir dan bertanya-tanya dalam hati. Ada apa gerangan.
Saya ndak peduli, terserah nanti apa kata orang. Saya posting di salah satu grup WA. Kok juga tidak ada yang merespon. Hanya dua orang kawan yang tadinya memang saya japri yang merespon saya di grup. Padahal saya juga sudah sertakan bukti tiket pesawat.
Terkumpullah duit 2 juta rupiah. Dari urunan bertiga.
Di hari minggu hujan deras tiada henti dari pagi hingga siang.
Sekitar jam 11 siang saya bersama keluarga berangkat ke pura menjemput bu Isti untuk diantar ke bandara. Saat itu masih turun ujan gerimis. Saya menuju ruang Pasraman dimana Bu Isti dan anak-anaknya nginap selama ini. Bayangan saya mereka semua akan sedih. Namun ternyata semua raut wajahnya ceria.
Jam 1 siang kamipun berangkat dengan 3 mobil. Satu mobil dibawa oleh bro Made, satu dibawa Jro Mangku dan satu lagi saya.
Sampai di bandara ada tambahan satu lagi pengantar yaitu keluarga Wayan Betran.
Kamipun salam-salaman, dan uang titipan saya serahkan ke bu Isti dalam amplop, sambil berpesan dan berharap semoga selamat sampai tujuan dan senantiasa sehat selalu.
Kalau memang bertekad di jalan dharma, jangan mikirin yang aneh aneh lagi. Harus focus ke tujuan. Jangan lagi bimbang setelah tiba di tujuan. Sampai jumpa.