Rabu, 22 Juli 2020

GOWES COVID-19


Minggu 19 juli 2020, gowes perdana bersama team Perusahaan. Saya memang kebiasaan kalau ada acara bareng gitu susah tidur. jam 12 tengah malam baru membaringkan badan. Sekitar jam 4 subuh sudah bangun dan susah tidur lagi.

Kumpul di Mall Top 100 tembesi. Masih sepi ketika saya sampai. Sempat berpikir apakah saya salah loksai kumpul. Eh ternyata jam 7an pada baru nongol. Cuaca sudah mulai terasa panas oleh matahari.
Dari rencana yang ikut ada 15 orang. Tapi ternyata hanya 9 orang. 5 laki dan 4 perempuan.

Jam 7.15 start dari Top 100. Pertama jalan beriringan. Namun karena ada peserta yang tidak kuat maka terpaksa saya yang sampai duluan di jembatan satu harus menunggu beberapa saat. Setelah semua datang saya langsung meluncur lagi hingga sampai disuatu tempat gubuk kecil. Saya istirahat sambil nunggu rombongan.

Perjalanan dilanjutkan, sampai disimpang setokok menunggu pick up tiba. Belok kea rah pantai setokok. Satu anggota kebablasan sampai jembatan 4.
Jalanan menuju pantai naik turun, curam dan mendaki.

Masuk pantai, dijaga petugas. Mungkin orang kampong sana. Minta karcis masuk. Setelah bayar kami diijinkan masuk. Satu orang rp. 10 ribu. Total 10 orang termasuk supir pick up.
Di pantai harus sewa satu gazebo untuk berteduh. Bayar 60 ribu. Perbekalan semua dikeluarkan. Ada jagung rebus, pisang rebus, roti, telor ayam kampong dan kelapa muda. Haus dan lapar cukup terobati.
Semakin siang pengunjung semakin ramai. Orang pada mandi di laut meski air laut lagi surut. Mungkin pada sudah lama tidak mandi di laut semenjak wabah corona.

Jam 11 tak terasa. Sinar matahari serasa semakin panas di kulit. Siapa yang sanggup melanjutkan gowes kembali ke top 100 tembesi. Ndak ada yang sanggup. Terpaksa berhimpit himpitan di pick up yang dengan 9 sepeda saja sudah penuh.

Sepanjang perjalanan kendaraan cukup ramai, baik mobil, motor atau sepeda. Seakan ndak ada lagi yang namanya wabah corona. Semoga saja aman-aman semua. Bahkan antrean kendaraan di pom bensin arah barelang yang biasanya sepi terlihat antrean cukup panjang.

Akhirnya kami bubar di tempat start tadinya yaitu di Top100 tembesi. Tinggal menyisakan rasa pegal di kaki dan wajah terasa panas.

Jumat, 10 Juli 2020

PERSEMBAHYANGAN ERA NEW NORMAL

Sabtu 4 juli 2020 bertepatan dengan hari raya Saraswati dimana umat Hindu khususnya di Indonesia meyakini Hari Saraswati sebagai moment hari memperingati turunnya Ilmu Pengetahuan. Pada umumnya keluarga mengadakan upacara persembahan di rumah masing-masing dimana buku-buku atau yang berhubungan dengan alat tulis akan diupacarai dengan banten saraswati. Termasuk juga kalau ada yang memiliki lontar, juga diupacarai. Tidak heran jika masih ada pandangan bahwa di hari Saraswati tidak boleh belajar. Jika belajar atau baca-baca buku maka akan menjadi bodoh. Hal ini adalah pandangan turun temurun, dimana jika ditelusuri ada benarnya juga. Karena saat hari saraswati buku-buku diupacarai istilah Balinya dibantenin. Meskipun sebenarnya kalau jaman sekarang paling juga beberapa buku yang diupacarai sebagai perwakilan buku.

Dari sudut pandang spiritual, mengapa pada hari Saraswati tidak diperkenankan baca-baca buku, adalah karena disaat hari Saraswati kita diajak untuk berkontemplasi, atau mereview diri bahwa ilmu yang telah kita dapatkan selama ini seberapa jauh memberi manfaat dalam hidup kita, baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. 

Sepertinya tidak ada pengaturan tata cara sembahyang bersama setelah diterapkan era new normal. Hampir terlupakan untuk mengikuti Protokol kesehatan Covid-19. Saat saya bersama keluarga sampai di Pura Agung persembahyangan ternyata sudah hamper selesai. Katanya dibuat beberapa gelombang agar posisi duduk tidak berhimpitan. Saya perhatikan posisi duduk yang sembahyang di gelombang pertama posisi duduknya biasa saja. Tidak ada pengaturan jarak atau physical distancing. 

Agak aneh yang mengatur jalannya persembahyangan justru Jro Mangku. Mengapa tidak pengurus BOP yang mengatur.

Saat saya datang belum ada petugas yang mengukur suhu badan. Mungkin petugasnya terlambat datang.
Saya menggelar tikar di deretan paling depan. Duduk berempat bersama istri dan anak. Kemudian petugas menghimbau agar duduknya jangan berdekatan. Minimal satu atau dua meter. Sepertinya bagi yang sudah duduk nyaman enggan pindah. Apalagi duduk tanpa tikar, sayang kambennya. Petugas sampai beberapa kali mengumumkan agar mengatur jarak. Akhirnya dimaklumi untuk satu keluarga boleh duduknya satu kelompok. Padahal dalam protokol kesehatan tidak ada perkecualian seperti itu.

Persembahyangan berlangsung sekitar 1 jam. Sembahyang bersama yang super kilat, tercepat. Biasanya persembahyangan paling tidak memakan waktu dua jam lebih.