Dari sudut pandang spiritual, mengapa pada hari Saraswati tidak diperkenankan baca-baca buku, adalah karena disaat hari Saraswati kita diajak untuk berkontemplasi, atau mereview diri bahwa ilmu yang telah kita dapatkan selama ini seberapa jauh memberi manfaat dalam hidup kita, baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat.
Sepertinya tidak ada pengaturan tata cara sembahyang bersama setelah diterapkan era new normal. Hampir terlupakan untuk mengikuti Protokol kesehatan Covid-19. Saat saya bersama keluarga sampai di Pura Agung persembahyangan ternyata sudah hamper selesai. Katanya dibuat beberapa gelombang agar posisi duduk tidak berhimpitan. Saya perhatikan posisi duduk yang sembahyang di gelombang pertama posisi duduknya biasa saja. Tidak ada pengaturan jarak atau physical distancing.
Sepertinya tidak ada pengaturan tata cara sembahyang bersama setelah diterapkan era new normal. Hampir terlupakan untuk mengikuti Protokol kesehatan Covid-19. Saat saya bersama keluarga sampai di Pura Agung persembahyangan ternyata sudah hamper selesai. Katanya dibuat beberapa gelombang agar posisi duduk tidak berhimpitan. Saya perhatikan posisi duduk yang sembahyang di gelombang pertama posisi duduknya biasa saja. Tidak ada pengaturan jarak atau physical distancing.
Agak aneh yang mengatur jalannya persembahyangan justru Jro Mangku. Mengapa tidak pengurus BOP yang mengatur.
Saat saya datang belum ada petugas yang mengukur suhu badan. Mungkin petugasnya terlambat datang.
Saya menggelar tikar di deretan paling depan. Duduk berempat bersama istri dan anak. Kemudian petugas menghimbau agar duduknya jangan berdekatan. Minimal satu atau dua meter. Sepertinya bagi yang sudah duduk nyaman enggan pindah. Apalagi duduk tanpa tikar, sayang kambennya. Petugas sampai beberapa kali mengumumkan agar mengatur jarak. Akhirnya dimaklumi untuk satu keluarga boleh duduknya satu kelompok. Padahal dalam protokol kesehatan tidak ada perkecualian seperti itu.
Persembahyangan berlangsung sekitar 1 jam. Sembahyang bersama yang super kilat, tercepat. Biasanya persembahyangan paling tidak memakan waktu dua jam lebih.
Saat saya datang belum ada petugas yang mengukur suhu badan. Mungkin petugasnya terlambat datang.
Saya menggelar tikar di deretan paling depan. Duduk berempat bersama istri dan anak. Kemudian petugas menghimbau agar duduknya jangan berdekatan. Minimal satu atau dua meter. Sepertinya bagi yang sudah duduk nyaman enggan pindah. Apalagi duduk tanpa tikar, sayang kambennya. Petugas sampai beberapa kali mengumumkan agar mengatur jarak. Akhirnya dimaklumi untuk satu keluarga boleh duduknya satu kelompok. Padahal dalam protokol kesehatan tidak ada perkecualian seperti itu.
Persembahyangan berlangsung sekitar 1 jam. Sembahyang bersama yang super kilat, tercepat. Biasanya persembahyangan paling tidak memakan waktu dua jam lebih.