Jumat, 10 Juli 2020

PERSEMBAHYANGAN ERA NEW NORMAL

Sabtu 4 juli 2020 bertepatan dengan hari raya Saraswati dimana umat Hindu khususnya di Indonesia meyakini Hari Saraswati sebagai moment hari memperingati turunnya Ilmu Pengetahuan. Pada umumnya keluarga mengadakan upacara persembahan di rumah masing-masing dimana buku-buku atau yang berhubungan dengan alat tulis akan diupacarai dengan banten saraswati. Termasuk juga kalau ada yang memiliki lontar, juga diupacarai. Tidak heran jika masih ada pandangan bahwa di hari Saraswati tidak boleh belajar. Jika belajar atau baca-baca buku maka akan menjadi bodoh. Hal ini adalah pandangan turun temurun, dimana jika ditelusuri ada benarnya juga. Karena saat hari saraswati buku-buku diupacarai istilah Balinya dibantenin. Meskipun sebenarnya kalau jaman sekarang paling juga beberapa buku yang diupacarai sebagai perwakilan buku.

Dari sudut pandang spiritual, mengapa pada hari Saraswati tidak diperkenankan baca-baca buku, adalah karena disaat hari Saraswati kita diajak untuk berkontemplasi, atau mereview diri bahwa ilmu yang telah kita dapatkan selama ini seberapa jauh memberi manfaat dalam hidup kita, baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. 

Sepertinya tidak ada pengaturan tata cara sembahyang bersama setelah diterapkan era new normal. Hampir terlupakan untuk mengikuti Protokol kesehatan Covid-19. Saat saya bersama keluarga sampai di Pura Agung persembahyangan ternyata sudah hamper selesai. Katanya dibuat beberapa gelombang agar posisi duduk tidak berhimpitan. Saya perhatikan posisi duduk yang sembahyang di gelombang pertama posisi duduknya biasa saja. Tidak ada pengaturan jarak atau physical distancing. 

Agak aneh yang mengatur jalannya persembahyangan justru Jro Mangku. Mengapa tidak pengurus BOP yang mengatur.

Saat saya datang belum ada petugas yang mengukur suhu badan. Mungkin petugasnya terlambat datang.
Saya menggelar tikar di deretan paling depan. Duduk berempat bersama istri dan anak. Kemudian petugas menghimbau agar duduknya jangan berdekatan. Minimal satu atau dua meter. Sepertinya bagi yang sudah duduk nyaman enggan pindah. Apalagi duduk tanpa tikar, sayang kambennya. Petugas sampai beberapa kali mengumumkan agar mengatur jarak. Akhirnya dimaklumi untuk satu keluarga boleh duduknya satu kelompok. Padahal dalam protokol kesehatan tidak ada perkecualian seperti itu.

Persembahyangan berlangsung sekitar 1 jam. Sembahyang bersama yang super kilat, tercepat. Biasanya persembahyangan paling tidak memakan waktu dua jam lebih.