Jumat, 29 Maret 2019

MENGUKUR SUKSES TIDAKNYA ACARA

Apakah yang dipakai patokan untuk mengatakan sukses tidaknya sebuah acara?. Umat Hindu di Kepri khususnya di Batam baru saja mengadakan acara dharma sahnati nyepi saka 1941. Tepatnya tanggal 24 maret 2019. Ini adalah puncak perayaan nyepi.
Diadakan di resto kak dadut di kawasan pura agung. Pilihan tempat ini diputuskan seminggu sebelum acara. Yaitu rapat terbatas para waka di bandung resto sebrang duta mas. Alasannya kalau diadakan di hotel biayanya sangat mahal, dan jika dilaksanakan siang hari/ sore hari, di hari minggu banyak umat yang harus kerja. Yang kedua, jika umat tidak dapat makan, maka umat akan kapok, sudah iuran tapi ndak dapat makan. Nah begitulah usulan yang disetujui bersama.
Dari hari sabtu, bergeser ke hari minggu. Alasannya karena sabtu, gubernur dan walikota masih ada acara. Tidak bias hadir. Diputuskanlah hari minggu malam, dapat makan, semua umat dan undangan.
Semua dipersiapkan dalam waktu seminggu. Sayangnya sekretaris pelit banget mesosialisasi hasil hasil rapat.
Kesenian, pengisi acara, penabuh, perlengkapan, pecalang semua mulai nyusun rencana. Namun sepertinya hanya mengalir bagaikan air saja, entah siapa yang mengarahkan. Barangkali Tuhan.
Tiba hari sabtu, saatnya persiapan panggung dan penataan ruangan. Di WAG cukup semangat semua bilang siap jika diinformasikan perlu bantuan. Tapi ternyata waka yang membidangi perlengkapan dan dekorasi kerja sendirian. Panggung, lighting, sound system diurus subcont. Dekorasi ala bali, harus kita yang buat. Kok bias begitu. Saya meluncur ke kak dadut, terserah nanti bias mengerjakan apa saja, minimal nemanin orang kerja. Mohon dimaklumi umat kita masih sibuk cari nafkah di siang  hari, demikian alasan yg muncul. Mudah mudahan malamnya umat banyak yang dating.
Malamnya gladi bersih. Seperti biasa pada kebingungan, siapa pengarah acara? Kok jalan sendiri-sendiri. Jam sudah hamper menunjukkan jam 9 malam. Toh sama saja, umat atau orang tua tidak banyak yang dating gotong royong. Kecuali yang anaknya ikut nari atau ngisi acara. Gladi bersih selesai jam 00.30 tengah malam.
Pada hari H, minggu 24 maret 2019, make up untuk penari dimulai jam 10 pagi. Bagi yang tidak terbiasa ini pasti menjemukan. Apalagi kondisi cuaca yang sangat panas. Tapi nyatanya semangat semua.
Disisi lain, beberapa umat masih melengkapi di panggung, di resto kak dadut. Apa yang kurang harus dilengkapi. Apa yang perlu dibeli, harus beli. Waktu terus berjalan. Jam 5 sore undangan sudah mulai berdatangan. Pra acara dimulai. Dipandu oleh MC Pra Acara Si Putu Sumardaya. Pertama diisi lagu lagu rohani oleh kelompok kesadaran khrisna. Sepertinya ndak ada pembatas waktunya, hingga di stop untuk sembahyang bersama pada jam 6 sore.
Selesai sembahyang, anak-anak pentas megambel. Sepertinya para orang tua lagi sibuk ambil nasi kotak dan makan malam sehingga anak-anak nabuh kurang diperhatikan. Saya yang bersama anak-anak yang nabuh, masih pegang Kendang, saya perhatikan hanya beberapa tamu undangan yang sudah hadir yang menyaksikan saat anak-anak nabuh. Empat lagu tetabuhan selesai dibawakan anak-anak. Tepuk tangan penonton cukup antusias.
Acara inti dimulai. MC utama ambil peran. Susunan acara dibacakan. Menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Dirigen belum siap, music sudah dimulai. Entah siapa seksi yang bertugas di sound system. Ini ndak pernah dibahas siapa-siapa PICnya. Termasuk saat menyusun slide show susunan acara. Menjelang detik-detik acara, slide show baru siap.
Acara demi acara berlalu, sambutan Gubernur seharusnya terakhir, malah sambutan pertama. Karena Gubernur masih ada acara di tempat lain. Baru kemudian disusul laporan ketua panitia. Nyat Kadir, sebagai anggota DPR RI juga memberikan kata sambutan untuk kesan dan pesan Tokoh Adat Melayu.
Acara Tari Nusantara, dibawakan oleh siswa siswi pasraman, yang ditata apik oleh coreografernya, GA Putri Laksmi dan Ibu Agung Adi. Membawakan Tari Nusantara dari daerah pulau Sumatera sampai Irian. Pakaian dan tarian sangat serasi. Patut diacungi jempol. Penari anak-anak sangat antusias.
Hiburan kedua adalah Bondres dan Joged Bumbung. Bondres, dialog lawakan dimainkan empat orang, mengambil tema sekitar pemilu. Lumayan menghibur, meski dialognya masih didominasi satu pemain, pemain lain kurang bisa mengimbangi. Joged Bumbung adalah Tari Pergaulan yang dibawakan oleh beberapa wanita dan mengajak tamu undangan untuk ikut menari, alakadarnya.
Acara terakhir, pembagian cenderamata dan photo bersama.
Panggung harus dibuka malam itu juga, keesokan harinya restoran harus buka seperti biasa. Peralatan dikembalikan ke asalnya. Praktis dikerjakan oleh beberapa orang yang masih mau bertahan. Ini hal yang lumrah terjadi begini. Apalagi keesokan harinya hari kerja dan hari sekolah bagi anak-anak dan hari ujian juga.
Keesokan harinya baru ramai di grup WA. Sampah berserakan, barang2 masih ada yang tertinggal. Jro Mangku Istri yang membersihkan. Sorenya dibantu beberapa umat yang kebetulan ada waktu.