Sabtu, 21 Desember 2019

PROSESI NIKAH ADAT JAWA

Suatu waktu saya diundang oleh kerabat dekat saya di acara nikahan anaknya.
Saat saya tiba dirumahnya, sedang berlangsung acara pengajian. Acara pengajian yang dihadiri oleh ibu-ibu disekitar komplek perumahan. Pengajian ini dipimpin oleh ustadz atau pemuka agama dilingkungan itu. Tadinya saya pikir seluruh anggota keluarga harus ikut dalam pengajian tersebut. Ternyata saya salah. Keluarga sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Karena saya baru saja tiba saya langsung diajak masuk rumah. Pengajiannya diadakan di tenda depan rumah. Sekitar jam 1 siang acara pengajian selesai. Peserta pengajian bubar dan masing-masing dibagikan bingkisan. Semua dihandle oleh petugas semacam EO. Tuan rumah hanya ngikutin saja apa arahan EO.

SIRAMAN : dimulai sekitar jam 4 sore. Setelah dirias tentu dengan segala pernak perniknya, calon mempelai wanita terlebih dahulu sungkem/ sujud dikaki kedua orang tua, memohon maaf atas segala dosa dan khilaf yang telah dilakukan. Kemudian mohon ijin dan doa restu kepada kedua orang tua bahwa dia akan melangsungkan pernikahan dengan laki-laki pilihannya. Disini si calon mempelai hanya membaca scrip yang sudah disiapkan. Namun membacanya penuh penghayatan. Saya juga merasa haru. Air mata seakan mau tumpah. Saya juga punya anak perempuan.

Kemudian si ibu memberikan petuah dan mendoakan semoga si calon pengantin bahagia, hidup rukun selamanya. Diakhiri dengan mencium dan memeluk si calon pengantin wanita.

Begitu juga hal yang sama dilakukan oleh si bapak kepada calon mempelai wanita. Kedua orang tuapun hanya membaca teks yang disipakan oleh EO.

Setiap adegan diarahkan oleh sang EO bak shooting adegan film. Apakah itu posisi duduk, cara berjalan, keadaan pakaian semua diatur oleh EO.
Kemudian si calon mempelai wanita digendong oleh sang ayah menuju tempat siraman yang telah disiapkan. Gentong berisi air, kemudian ada 7 jenis air bunga dicampurkan ke dalam gentong tersebut. Calon mempelai duduk di tempat duduk khusus.


Si pembawa acara memberikan prolog setiap bagian acara dengan bahasa jawa halus yang hampir tidak bisa saya mengerti artinya.

Diawali dari si ibu, menyiramkan air tersebut secara perlahan penuh penghayatan dari kepala, pundak, tangan dan kaki.
Berikutnya giliran si ayah calon mempelai melakukan hal yang sama seperti si ibu, dan terus bergiliran dilakukan oleh keluarga yang wanita saja asal sudah memiliki anak yang nikah. Ini semacam diberi kehormatan. Semua yang diberi kesempatan melaksanakan siraman, kemudian diberi bingkisan sebagai cinderamata. Saya tidak tahu apakah ini keharusan.

Selanjutnya adalah pemecahan kendi dihadapan calon mempelai wanita. Kendinya harus pecah. Pertanda selesainya acara siraman.

 SESERAHAN : rombongan calon mempelai pria tiba dengan membawa aneka jenis barang sebagai seserahan untuk calon mempelai wanita. Saya tidak tahu berapa jumlahnya dan lupa menanyakan apakah 9 atau sepuluh atau berapa. Sepertinya ada hitungannya.
Semua keluarga calon mempelai wanita berdiri menyambut kedatangan rombongan calon mempelai pria. Perwakilan keluarga mempelai pria berbicara dalam bahasa jawa halus. Yang saya tangkap adalah untuk menyampaikan maksud kedatangannya.
Kemudian disambut oleh perwakilan keluarga mempelai wanita, juga memakai bahasa jawa halus. Intinya mungkin menerima kedatangan rombongan calon mempelai pria kemudian mempersilakan masuk dan menerima seserahan yang dibawa.
Sementara calon mempelai wanita tetap berada di dalam kamar, tidak boleh keluar menjumpai calon mempelai pria. Proses inilah yang disebut
MIDODARENI.

Saya bertanya ke om google, midodareni adalah proses menjelang akad nikah, dimana berasal dari kata widodari yang bermakna bidadari. Konon pada malam itu para bidadari turun dari kahyangan dan bertandang ke rumah calon mempelai wanita dengan tujuan ikut mempercantik calon pengantin wanita.

AKAD NIKAH : proses ini tidak bisa saya ikuti dari awal karena saya harus dirias pakaian adat jawa. Seumur umur baru kali ini saya menggunakan pakaian adat jawa. Pakai blangkon, baju jas, kain, sabuk yang di bali disebut bulang, keris dan sandal selop. Wah saya kelihatan gagah. Tapi bikin gerah. Akad nikah adalah proses yang kental nuansa agama. Kadang diselingi candaan dari pak penghulunya yang bikin hadirin yang menyaksikan pernikahan tersebut ger geran.

RESEPSI : prosesi disini, si mempelai wanita menuju pelaminan dimulai dari parade atau iring iringan keluarga mempelai wanita memasuki gedung. Semua keluarga kerabat dari pengantin wanita mengikuti dari belakang. Si pengantin dituntun oleh kedua orang tuanya. Wah saya benar benar punya pengalaman baru. Keluarga yang mengiringi sampai depan panggung. Si pengantin wanita duduk di pelaminan, disamping kirinya adalah orang tuanya.
Ki dalang/ pemandu acara terus memandu jalannya acara secara bergantian dengan bahasa jawa halus.
Iring-iringan pengantin pria kemudian memasuki tempat acara. Seperti halnya sewaktu acara seserahan, perwakilan keluarga mempelai pria mengutarakan maksud kedatangannya. Mungkin begitu karena menggunakan bahasa jawa halus. Kemudian disambut oleh perwakilan keluarga pengantin wanita, juga dengan menggunakan bahasa jawa halus.
Kemudian pengantin wanita dipersilakan menemui pengantin pria yang dituntun oleh kedua orang tuanya. Pengantin wanita melemparkan buntelan hingga mengenai pengantin pria, dan dibalas oleh pengantin pria, sebanyak 3 kali. Kemudian pengantin wanita membasuh kaki si pria dan membersihkannya. Maka kedua mempelai sudah boleh menuju pelaminan. Terasa sangat sacral. Sayapun tidak tahu pasti apa makna prosesi disini.
Sayapun ikut photo bersama keluarga. Desak desakan karena keluarga besar. Tak henti hentinya keluarga maupun undangan diberi kesempatan berphoto bersama pengantin.
Kaki saya terasa sangat pegel, rasanya gerah. Akhirnya saya ganti pakaian duluan. Dan duluan pulang ke hotel. Lega rasanya.

Pengalaman tak terlupakan.

Jumat, 13 Desember 2019

GOWES HUJAN


Mata saya susah terpejam lagi. Hujan mulai jam 2 pagi. Praktis saya tidur kurang lebih hanya 2 jam. Malamnya sembahyang saraswati di pura agung sampai jam 11 malam karena nungguin anak ujian agama susulan. Sampai dirumah harus persiapan gowes keesokan harinya. Dengan kerja cepat saya mompa sepeda, masang braket ke mobil, nyiapin pakaian dan safety. Beres jam 12 tengah malam, langsung tidur.

Jam 2an hujan deras, sangat berisik. Sampai pagi saya ndak bisa tidur lagi. Sesekali keluar lihat aliran air hujan di parit yang meninggi dan surut secara perlahan. Suara tetesan air dari atap bocor sangat mengganggu di plapon kamar tidur.

Sampai pagi hujan tidak kunjung berhenti. Chat di grup WA cukup ramai. Ada yang tidak jadi gowes, ada yang bertekad tetap gowes, ada yang menunggu hujan reda.

Saya sendiri sudah komit harus tetap gowes. Mau tetap hujan atau reda.
Saya samperin satu teman kerumahnya, dan berangkat bareng. Sementara rombongan yang jadi berangkat sudah pergi duluan dengan pick-up.

Wah sampai di lokasi, Harris barelang, hujan masih belum reda. Goweser pada dikasi mantel. Sudah siap-siap di garis start. Sayapun langsung mengikuti dari belakang meski ujan-ujanan.
Sampai di pitstop di Marinir Barelang, yang jaraknya sekitar 8 Km dari titik start, dengan guyuran hujan, para goweser diminta memasukkan kupon undian. Kemudian balik lagi menuju Harris sebagai titik finish.

Sempat berphoto-photo di jembatan 1.

Dengan pakaian basah kuyup, luar dalam, akhirnya sampai dititik finish. Sarapan nasi goreng. Cuaca masih gerimis. Acara diadakan di pantai. Pasirnya becek sehingga sepatu sering masuk lumpur pasir.
Acara demi acara berlangsung. Saya pulang duluan, tidak tahan semuanya basah.


Rabu, 11 Desember 2019

TANGKIL KE PURA MANDARA GIRI SEMERU AGUNG

Sehari sebelum kembali ke Batam saya berkesempatan ‘tangkil’ yang bahasa gampangnya adalah sembahyang, ke Pura Mandara Giri Semeru di Lumajang Jawa Timur. Menempuh perjalanan yang sangat jauh. Melewati Tol arah Probolinggo. Saya yang tidak tahu arah jalan harus dipandu oleh abang (kakak laki-laki) yang duduk di samping saya. Harus rajin ngasi komando, kiri, kanan, lurus, berhenti, dsb. Jika tidak ingin tersesat atau kebablasan.

Berangkat dari rumah sekitar jam 9 pagi. Itupun harus saya kejar-kejar karena pada malas-malasan. Antara jadi ke Lumajang atau ke tujuan lain. Saya putuskan, ke Lumajang. Ini semacam bayar kaul. Dulu sempat berjanji jika anak saya lulus kuliah, saya akan tangkil ke pura terbesar di Jawa Timur yaitu di Lumajang.

Sesekali saya ngobrol dengan kakak saya yang duduk disamping kemudi. Untuk mengurangi rasa ngantuk. Sementara kedua anak saya, istri dan ipar duduk di jok belakang dan tertidur. Karena ngobrol sesekali itulah sempat sekali kelewatan di tol pandaan. Harusnya belok kiri. Tapi tidak sempat baca plang arah tujuan. Terpaksa harus kluar tol terdekat dan muter lagi. Ternyata muternya tidak terlalu jauh. Inilah hebatnya perancang jalan tol. Mungkin sudah dipikirkan bagaimana mengantisipasi orang salah jalan.

Tiba di Lumajang sekitar jam 12 siang. Kaki saya lumayan kaku. Inilah resiko nyetir mobil manual. Apalagi di daerah yang macet.

Perut sudah mulai keroncongan. Tapi ditahan saja dulu. Toh belum ada yang komplin karena lapar.
Saya teringat Pura di Gunung Salak Bogor.  Lokasi pura sama-sama disebelah kanan tanjakan jalan. Arsitekturnya sedikit beda. Yang ini memadukan arsitektur bali dan Jawa timur. Memasuki jaba sisi, ada bangunan lumayan besar, cukup tinggi dari pondasinya. Ya style Bali. Kalau di Bali namanya Wantilan. Biasanya untuk pentas seni. Saya naik ke wantilan, banyak pengunjung yang duduk duduk bahkan tidur-tiduran. Mungkin terasa nyaman karena lantainya adem.Ternyata ini masih daerah untuk umum. Melihat dari pakaiannya, bisa dipastikan bukan orang hendak sembahyang.

Dari tatanan tri mandala, daerah ini adalah nisata mandala/ jaba sisi. Dimana aktifitas social ekonomi masih berlangsung. Istri saya membeli sarana sembahyang berupa canang di daerah ini. Kebetulan ada ibu-ibu yang menawarkan canang. Ternyata canang dihargai sukarela.

Kemudian naik ke mandala utama pelataran tempat sembahyang. Disamping tangga naik ada tulisan DILARANG MASUK KECUALI SEMBAHYANG. Istri saya menyiapkan saranya sembahyang dan aturan. Lapor ke Jro Mangku yang bertugas saat itu. Kami duduk agak jauh dari tempat Jro Mangku Mepuja cari tempat teduh. Cuaca sangat panas.

Ternyata saya salah. Saya pikir pura ini rame oleh pendatang yang hendak sembahyang. Ternyata sepi. Apalagi hari minggu, yang kalau di Batam hari minggu adalah hari sekolah minggu bagi anak-anak pasraman.

Sambil menuju parkiran saya keliling dan tengok kiri kanan sambil ambil beberapa photo. Lingkungannya cukup asri. Disisi kiri ada bangunan seperti penginapan. Ada toilet/ kamar mandi.

Senin, 09 Desember 2019

SARJANA BARU


Akhir Nopember 2019 saya menghadiri undangan sidang terbuka wisuda Sarjana anak saya. Anak saya kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya yaitu dibawah naungan Yayasan Assosiasi Wartawan Surabaya. Biasa desebut AWS STIKOSA Surabaya. Mulai kuliah awal Agustus 2015. Ujian tugas akhir pada 22 Oktober 2019 dan dinyatakan lulus. Bisa ikut wisuda 30 Nopember 2019.
Cerdas berkomunikasi di era digital. Demikian tema sidang terbuka senat tersebut. Dilaksanakan di gendung Dyandra Convention Center Surabaya. Tema tersebut juga menjadi dasar pembekalan wisudawan yang disampaikan oleh dua narasumber, salah satunya adalah pemilik salah satu media online di Surabaya.
Saya membayangkan suasana menjelang wisuda akan rame sekali dan peserta wisuda dan para orang tua akan berjejal. Ternyata saya salah. Jumlah wisudawan/i hanya 84 orang. Para orang tua ketika saya masuk ternyata sudah duduk rapi yang rata-rata dua orang yaitu ibu dan bapaknya. Undangan memang hanya untuk 2 orang. Tak ada terdengar suara anak-anak yang berisik. Hanya saya datang bertiga dengan anak saya berumur 10 tahun. Saya duduk di barisan yang kebetulan masih kosong. Sesekali saya ambil gambar backdrop stage dari posisi tempat duduk.
Acara dimulai tepat jam 09.00. pimpinan STIKOSA dan diikuti ketua Yayasan, para dosen memasuki ruangan. Paling depan adalah tarian daerah jawa timur.
Acara juga dimeriahkan dengan paduan suara mahasiswa stikosa.
Tibalah pada puncak acara pengukuhan sarjana. Satu persatu calon wisudawan dipanggil ke atas panggung. Saya sangat terharu ketika anak saya dapat giliran naik ke panggung. Rasanya air mata ini mau tumpah. Selesai pengukuhan, para sarjana baru dipersilakan menemui orang tua masing-masing di tempat duduknya. Sayapun menyalami dan memeluk erat anak saya sambil mengucapkan selamat nak. Saya seakan bisu, ndak ada kata-kata keluar dari mulut saya selain mengucapkan selamat. Saya sangat bangga. Kini anak saya sudah menjadi sarjana.
Terima kasih semuanya yang telah mensupport anak saya, kakek neneknya di bali, saudara-saudaranya yang sengaja datang dari Bali untuk menghadiri acara wisuda anak saya.