Kamis, 27 September 2018

SUDAH GRATIS MINTA LEBIH

Suasana Persiapan Pembagian Bingkisan
Saya ingin menulis berita tapi rasanya susah mencari judul yang pas. Focus berita juga sulit ditentukan. Maklum bukanlah seorang penulis atau berlatar belakang  jurnalistik.
Dalam acara rutin yang diselenggarakan tiap bulan yang disebut seva, pelayanan suci kepada masyarakat. Berupa pembagian bingkisan secara gratis kepada masyarakat ‘kurang mampu’. Kali ini dilaksanakan di sebuah kampong yang agak jauh dari kota, sekitar 25 Km kearah Barelang (Batam Rempang Galang). Pulau Batam dihubungkan dengan enam pulau-pulau kecil yang hamper dalam satu garis lurus. Yang terkenal adalah jembatan pertama, yang biasa  disebut jembatan satu. Padahal tiap jembatan mempunyai nama melayu, namun tidak popular. Yang popular adalah sebutan jembatan satu, dua, tiga, dst. Ada yang mengatakan jika pergi ke Batam belum sah jika tidak  mengunjungi dan berphoto di Jembatan Barelang, jembatan satu ini. Disamping juga tulisan monument di bukit clara batam center sekitar 300 meter dari kantor wali kota batam ‘WELCOME TO BATAM’.
Jalan utama Muka Kuning – Batu Aji, ada simpang lampu merah yang biasa disebut simpang barelang. Sekitar 3 Km dari simpang tersebut kea rah Barelang ada namanya simpang gundap. Kurang lebih 1km sebelum Yonif 136TS.
Masuk jalan tanah ke kiri, jalanan menurun tajam, jika hujan pasti licin dan lengket. Jika supir tidak terbiasa dengan medan begini, jangan harap bisa kembali dengan lancer.
Jam 10 pagi, masyarakat sudah berkumpul dibawah terik matahari. Ada yang berteduh di emperan rumah penduduk sekitar, ada yang berteduh dibawah  pohon. Sambil menyiapkan bingkisan, ketua RT dan perangkat RT/ RW mengajak warganya bernyanyi-nyanyi, pak polisi dari polsek Sagulung memvideokan warga dengan tema mari mendukung pemilu yang damai.
Ada sekitar 30 biji kacamata baca, kacamata plus dibagikan secara gratis kepada orang tua. Dengan range +2.00 ~ +3.50.
Meski suasana panas terik, pembagian bingkisan berjalan lancer, aman terkendali. Pukul 11.30 bingkisan sudah habis dibagikan. Masyarakat kembali ke rumah masing-masing. Tinggal beberapa orang dilokasi termasuk para pengurus RT. Ketika akan berpamitan ibu tuan rumah, istrinya pak RT hendak memberikan bingkisan hasil kebun kepada rombongan, cuman sedikit terkendala komunikasi bahasa. Sementara siibu ambil bungkusan ke dalam, dan rombongan masih saling tanda Tanya, mungkin dalam hati, ada seorang warga, perempuan dengan sedikit menor, saya kebetulan disampingnya, dia berkata kok tuan rumah tidak dapat apa-apa sudah capek, rumahnya dipakai. Tapi untung rombongan dari Singapore sepertinya tidak mengerti maksud si wanita menor itu. Ketika si ibu RT keluar bawa bungkusan tas kresek yang berisi sayur dan ubi, si wanita itu langsung diem. Saya perhatikan wajahnya masam.
Bagi saya ini hal biasa dimana masih banyak yang tidak mengerti bahwa sudah dikasi gratis kok malah minta lebih lagi.

Senin, 10 September 2018

Wiro Sableng Pendekar Kapak Naga Geni 212


Seumur umur selama d batam baru kali ini nonton film Indonesia yg bukan komedi, sujatinya hanya demi menyenangkan si kecil dan untuk menghiasi status fb, katanya. lebih pas film ini bergenre film laga. Wiro sableng pendekar kapak naga geni 212. Ini film remake film lama di th 90an. Apa makna dari 212? Seandainya saja sebelum nonton film ini saya tau ada angka 212 mungkn saya tak jadi nonton. Terlalu apriori dan anti klo liat ato denger 212. Menurut penulis novel wiro sableng yg nota bene adalah mendiang ayah vino g bastian, 212 mulanya hanya meniru identitas tokoh seperti di james bond 007. Namun bisa juga di artikan bahwa angka 2 itu karena tuhan menciptakan sesuatu dengan berpasang pasangan, angka 1 melambangkan tuhan dan angka 2 satu lagi katanya agar jumlahnya 5, yg memiliki makna pada agama tertentu, katanya.
Film ini menceritakan kejadian di Nusantara, abad ke-16, Wiro Sableng (Vino G Bastian), seorang pemuda, murid dari pendekar misterius bernama Sinto Gendeng (Ruth Marini), mendapat titah dari gurunya untuk meringkus Mahesa Birawa (Yayan Ruhian), mantan murid Sinto Gendeng yang berkhianat. Dalam perjalanannya mencari Mahesa Birawa, Wiro terlibat dalam suatu petualangan seru bersama dua sahabat barunya Anggini (Sherina Munaf) dan Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarazi). Pada akhirnya Wiro bukan hanya menguak rencana keji Mahesa Birawa, tetapi juga menemukan esensi sejati seorang pendekar.
Penonton yg jumlahnya mungkin tidak lebih dari 50 orang, yg rata2 adalah remaja dan anak2 pada tertawa menyaksikan adegan2 yg mungkin dianggapnya lucu dan konyol. Menjelang diakhir cerita ternyata ada anak kecil kedengaran bertanya sama ibunya, mah kok yg meinggal itu dibakar mah. Mamahnya jawab sekenanya, waktu itu belum ada kuburan.
Tidak demikian halnya degan saya, malah ngantuk banget dan hamper tertidur. Ini film diproduksi oleh 20th century fox, dengan anggaran 2juta usd, saya rasa tidak match sama sekali antara bahasa, make up, kostum dan lokasinya. Ini film tidak mencerminkan /menceritakan kejadian masa lampau. Kata orang jerman, ceritanya ‘matah kial’. Musiknyapun tidak nyambung. Kalaulah boleh kasi nilai 1 – 10, saya kasi nilai 5 untuk film ini. lha wong yg kasi nilai ini juga wirasableng ngurah ray. hihihihi
Yang penasaran, silakan nonton.

Senin, 03 September 2018

KFC Fun day

Gowes sepi peminat.

Minggu 2 September 2018, KFC Tiban mengadakan Gowes bareng dalam rangka ultahnya yang kedua. Saya sampai di sana sekitar jam 6.30 pagi. Di tiket tercantum acara dimulai jam 6.00 yang diawali dengan senam zumba. Kok sepi. Hanya segelintir orang. Saya parkir mobil agak diluar dengan maksud agar mudah keluar kalau pulang.
Saya ikut pemanasan yang dipandu 3 orang instruktur dengan gerakan gerakan yang sulit saya ikuti. Senam Zumba. Matahari kian beranjak tinggi. Keluar keringat karena sudah terasa panasnya matahari. Tak banyak penambahan peserta yang datag. Paling sekitar 100 peserta. Tidak ada kata sambutan dari top management atau perwakilan dari pemerintah. Tanda pelepasan dimulainya acara gowes dilakukan barangkali oleh karyawan KFC.
Keluar dari KFC belok kiri ikut arus lalu lintas, langsung tanjakan. Kemudian belok kiri di tiban center, terus nanjak. Ini daerah yang pernah saya lalui sekitar akhir 2016 saat saya nyari nyari penjual tanaman hydroponic.
Belok kiri lagi yang rata rata menanjak. Semuanya bisa saya lalui dengan baik. Masuk perumahan Winner Mangrove Millenium di daerah Tiban Mentarau. Istirahat sambil  menikmati snack. Ada penanaman mangrove secara simbolis. Rupanya pengembang ini mengambil kesempatan mempromosikan perumahannya. Bentuk rumahnya unik. Bentuk atap dibuat miring. Bagian puncak rabung dipasang hiasan. Mirip ukiran bali. Kalau tidak salah namanya Patra Punggel.
Keluar dari perumahan tersebut belok kanan menuju jembatan mentarau yang ternyata daerah pesisir pantai. Kontur daerahnya berbukit. Melewati perumahan penduduk. Sampa pertigaan dangas, saya salah ngikut rombongan lain. Mereka belok kanan. Saya ngikut belok ke kanan. Untung saya diberitau kalau mereka mau ke bukit dangas. Belum terlalu jauh. Mungkin mereka lihat saya pakai jersey KFC. Akhirnya saya terpaksa balik lagi menuju rombongan. Eh ternyata saya jadi paling belakang.
Lega rasanya setelah mencapai kawasan hotel Acasia, yang dulu bernama Hill Top hotel. Tidak ada tanjakan lagi, praktis hanya pegang stang tak perlu ngayuh sampai di kawasan sekupang.
Belok kiri lewat depan Sangrilla, STC belok kiri dan kembali ke KFC.
Hujan deras mengguyur disertai petir dan guruh. Sambil menunggu acara pengundian Lucky draw dan redanya hujan, makan ayam KFC. Ternyata hujan tidak reda juga. Akhirnya karena juga ada keperluan, saya cabut duluan. Acara selanjutnya diadakan di dalam ruanagan.