| Suasana Persiapan Pembagian Bingkisan |
Dalam acara rutin yang diselenggarakan tiap bulan yang disebut seva, pelayanan suci kepada masyarakat. Berupa pembagian bingkisan secara gratis kepada masyarakat ‘kurang mampu’. Kali ini dilaksanakan di sebuah kampong yang agak jauh dari kota, sekitar 25 Km kearah Barelang (Batam Rempang Galang). Pulau Batam dihubungkan dengan enam pulau-pulau kecil yang hamper dalam satu garis lurus. Yang terkenal adalah jembatan pertama, yang biasa disebut jembatan satu. Padahal tiap jembatan mempunyai nama melayu, namun tidak popular. Yang popular adalah sebutan jembatan satu, dua, tiga, dst. Ada yang mengatakan jika pergi ke Batam belum sah jika tidak mengunjungi dan berphoto di Jembatan Barelang, jembatan satu ini. Disamping juga tulisan monument di bukit clara batam center sekitar 300 meter dari kantor wali kota batam ‘WELCOME TO BATAM’.
Jalan utama Muka Kuning – Batu Aji, ada simpang lampu merah yang biasa disebut simpang barelang. Sekitar 3 Km dari simpang tersebut kea rah Barelang ada namanya simpang gundap. Kurang lebih 1km sebelum Yonif 136TS.
Masuk jalan tanah ke kiri, jalanan menurun tajam, jika hujan pasti licin dan lengket. Jika supir tidak terbiasa dengan medan begini, jangan harap bisa kembali dengan lancer.
Jam 10 pagi, masyarakat sudah berkumpul dibawah terik matahari. Ada yang berteduh di emperan rumah penduduk sekitar, ada yang berteduh dibawah pohon. Sambil menyiapkan bingkisan, ketua RT dan perangkat RT/ RW mengajak warganya bernyanyi-nyanyi, pak polisi dari polsek Sagulung memvideokan warga dengan tema mari mendukung pemilu yang damai.
Ada sekitar 30 biji kacamata baca, kacamata plus dibagikan secara gratis kepada orang tua. Dengan range +2.00 ~ +3.50.
Meski suasana panas terik, pembagian bingkisan berjalan lancer, aman terkendali. Pukul 11.30 bingkisan sudah habis dibagikan. Masyarakat kembali ke rumah masing-masing. Tinggal beberapa orang dilokasi termasuk para pengurus RT. Ketika akan berpamitan ibu tuan rumah, istrinya pak RT hendak memberikan bingkisan hasil kebun kepada rombongan, cuman sedikit terkendala komunikasi bahasa. Sementara siibu ambil bungkusan ke dalam, dan rombongan masih saling tanda Tanya, mungkin dalam hati, ada seorang warga, perempuan dengan sedikit menor, saya kebetulan disampingnya, dia berkata kok tuan rumah tidak dapat apa-apa sudah capek, rumahnya dipakai. Tapi untung rombongan dari Singapore sepertinya tidak mengerti maksud si wanita menor itu. Ketika si ibu RT keluar bawa bungkusan tas kresek yang berisi sayur dan ubi, si wanita itu langsung diem. Saya perhatikan wajahnya masam.
Bagi saya ini hal biasa dimana masih banyak yang tidak mengerti bahwa sudah dikasi gratis kok malah minta lebih lagi.