![]() |
| Praktek Ngulat Klangsah |
Secara umum klangsah digunakan sebagai atap bangunan diladang atau sawah, atau atap bangunan sementara di lingkungan rumah. Dapat juga digunakan sebagai dinding dan pembatas.
Saya merasakan sesuatu yang aneh ketika di rantauan mungkin sekitar 80% dari umat hindu dari bali yang tidak tahu bagaimana ‘ngulat’ klangsah yang menurut saya sangat gampang. Pengalaman saya sekitar 40 tahun yang lalu, ketika usia saya dibawah 10 tahun. Ketika itu sering diajak bapak atau panggilan saya ‘aji’ membantu tetangga yang akan punya hajatan, dalam istilah bali disebut metulungan. Nah bagi anak-anak seusia saya pekerjaan yang paling mudah dilakukan adalah ngulat kelangsah. Saya memperhatikan bagaimana orang menyiapkan daun kelapa sebelum dianyam dan cara menganyam agar rapi. Termasuk diajarin itungannya, patokannya bagaimana. Seperti berapa anyaman yang efektif. Tidak perlu dianyam sampai ke ujung helai daun.
Suatu saat atau pada akhirnya nanti, sebagian besar kemungkinan yang di rantauan akan balik ke kampong halaman ke bali. Apa tidak ditertawakan orang kampong, cuman ngulat klangsah saja tidak bisa.
Kini usia saya sudah setengah abad, pengalaman atau ilmu tersebut tidak sirna dari memory saya. Padahal praktis setelah tamat sekolah dasar pengalaman tersebut tidak pernah dipraktekkan lagi karena saya sekolah ke kota dan merantau.
Kalau dikampung saya di Bali sana, siapapun pasti bisa ngulat klangsah. Tidak pandang apakah dia I Wayan, I Gusti atau Ida Bagus.
Masih jelas dalam ingatan saya bagaimana orang masang kelangsah sebagai atap bangunan atau atap pondok. Bagaimana menyusunnya. Bagaimana mengikatnya. Dari arah mana mulai masang.
Kurang setuju kalau dirantauan itu ada yang mengatakan, oh tidak boleh anyamannya begini, tidak boleh begitu. Padahal itu hanya bawaan dari kebiasaan dari daerah asal masing-masing di bali.
Igstng-dalam rangka persiapan piodalan purnama kalima 2018.
