Tidak ada niatan untuk saling menyalahkan. Karena dasarnya semua ngayah. Berlindunglah dibalik kata ngayah, maka anda akan aman. Kata ngayah ini bagaikan kata sacral, suci, tak seorangpun bisa membantahnya. Kata ngayah seolah-olah sebagai pembenaran untuk bekerja setengah hati. Lha wong ndak ada sangsi atau denda apalagi ‘kesepekang’.
Di kampong saya ngayah adalah kegiatan yang sifatnya wajib yang dilakukan secara bersama-sama, biasanya menjelang hari raya atau piodalan di pura. Kalau di rantauan apapun yang dilakukan secara sukarela, tepatnya yang tidak ada ikatan, itu namanya ngayah. Mungkin semacam pengabdian.
Terus apa hubungannya ngayah dengan judul tulisan ini. Mari kita simak kejadian berikut. Tanggal 1 nopember 2018 saya dikirimi photo yang diambil dari Instragrams, photo seorang anak muda naik ke bale papelik di mandala utama pura Agung. Bale Papelik nota bene adalah bangunan suci tempat ‘beristirahatnya’ ida betare. Photonya hasil screen shoot hp. Di photo tersebut kelihatan si kawan saya ini justru meminta maaf kepada orang yang ada dalam photo tersebut. Mohon maaf jangan diulangi lagi, karena ini tidak baik. Kalau masuk pura alas kaki harus dilepas. Demikian komentar kawan saya ini. Maklum yang namanya orang ketimuran ya memang begitu.
 |
| Screen shoot HP |
Beberapa saat kemudian saya forward photo tersebut ke salah satu grup WA. Tidak banyak komentar. Ada yang memforwardnya lagi ke grup lain. Ada yang komentar ‘semoga dia mendapat hukuman dari yang di atas’. Komentar semacam ini hanya beda tipis antara memang bijak dengan malas ngomong. Kalaulah semua orang punya prinsip begitu, ngapain kita susah susah bikin pagar, ngapain masang CCTV yang biayanya puluhan juta, yang begitu dibuka hasil rekamannya ternyata hard disk kosong. Yang saat kehilangan rekamannya tidak ada, yang katanya tumben lupa ngunci pintu pura, dan sebagainya.
 |
| Pintu dari arah Lalita |
 |
| Pintu di depan Kori Agung (bawah) |
 |
| Pintu sebelah kiri Kori |
 |
| Pintu sebelah kanan Kori |
 |
| Pintu Bale Barong |
Yang jelas sehari setelah issue ini beredar di grup, pengurus segera ambil tindakan dengan menggembok semua pintu masuk. Depan kori Agung, sisi kiri ke Lalita, dan pintu pemesuan kiri kanan kori agung. Di photo dan informasikan ke semua umat. Aman. Tak ada lagi orang masuk pura sembarangan. Tapi kasian, Ida Betare tidak bebas bisa keluar, bagai dikerangkeng.
Terlepas dari itu semua, berapa lama kah gembok ini akan bisa bertahan. Sampai kapan si gembok tidak akan digergaji. Apakah suatu saat kita saksikan jika pintunya digembok namun kondisinya terbuka. Hihihi lucu. Tapi praktis. Kadang jadi realita.