Selasa, 10 November 2020

ENAKNYA ORANG ENAK (Bagian 2)

 Batasi job dan ambil aset

Ketika ada karyawan yang merasa tidak nyaman, dia melaporkan apa yang dialaminya ke yang punya perusahaan di Negara asalnya sana. Saya tidak tahu pasti tentang apa yang dia laporkan. Terlepas dari benar atau salah, saya pikir tindakannya untuk menyampaikan yang sebenarnya. Meski ada yang mempertanyakan, apa urusannya dia lapor ke orang yang posisinya paling tinggi. Apa untung buat dia. Atau kerugian apa yang dia alami. Kecurigaan saya sih hanya mau mencari simpati si owner perusahaan saja.

Ternyata apa yang disampaikan karyawan tersebut direspon owner perusahaan. Tentu dipertanyakan oleh si owner, mengapa hal sepele begitu tidak bisa diselesaikan, mengapa owner harus turun tangan. Apa saja kerja kalian bertiga di sana. Mungkin seperti itu. Kebetulan ada 3 orang asing di perusahaan ini.

Akhirnya management ambil tindakan kepada karyawan tersebut. Hingga pada akhirnya yang bersangkutan harus di warning dan dipaksa menandatangani surat warning. Tentu saja yang bersangkutan tidak terima karena dia merasa tidak bersalah.

Laptop diambil paksa oleh yang berwenang dengan menunjukkan surat tugas dari atasannya. Si karyawan tidak mau melepas laptopnya. Katanya disuruh si owner untuk mempertahankan sampai ada keputusan dari jepang. Saya saksikan sendiri saat laptopnya mau diambil.

Email si karyawan telah di blok. Internetnya juga di blok. Otomatis tidak bisa berhubungan lagi lewat email/ internet. Entah apakah dia bisa internetan dengan teetering dari handphonenya. Saya perhatikan hari hari sudah tidak ada kerjaan lagi. Jadwal masuk malam ya masuk malam, hanya begadang, mungkin. Sepintas kasian sekali lihatnya. Entahlah.


Sabtu, 07 November 2020

KANTOR SAMSAT

 Kebetulan ada kawan yang bertugas di samsat kota. Saya minta saran bahwa saya mau balik nama kendaraan roda empat. Saat perpanjangan STNK 5 tahunan. Prosesnya di kantor samsat Polda, setau saya memang harus disana ngurusnya.

Berangkat dari rumah jam  7 pagi bersama anak saya. Tujuan saya agar ada pengalaman ngurus STNK di kemudian hari.

Tiba di Samsat Polda sekitar jam setengah 9 pagi. Masih sepi. Tidak seperti biasanya. Atau mungkin karena pas hari sabtu dimana  perkantoran buka setengah hari. Langsung menuju pendaftaran di bagian check physic. Isi formulir, gosok nomor mesin dan menuju gedung utama di lantai 2. Check kelengkapan dokumen, lancer. Kemudian bayar biaya ganti BPKB dan biaya map sebesar 280 ribu. Proses selesai dan disuruh langsung ngurus STNK ke Samsat Kota.

Hujan cukup deras. Langsung menuju bagian pendaftaran. Ada beberapa yang perlu di photo copy. Kemudian disuruh ke lantai 2 ke Loket 1.

Jam menunjukkan pukul 10.30, kemudian antri nunggu panggilan ke loket Bank. Sekitar jam 11.30 dipanggil loket pembayaran. Total kena 2juta delapan ratus ribuan. Untung bawa kartu ATM, duit cash tidak mencukupi. Kemudian nunggu lagi panggilan dari loket penyerahan. Jam 12.15 dipanggil penyerahan STNK. Lega meski harus sabar antri dan menunggu. Kini STNK sudah atas nama sendiri.

Tinggal ambil plat nomor dan ambil BPKB satu bulan kemudian.


Kamis, 05 November 2020

BERANTEM DI PURA

 Bertepatan dengan tegak piodalan Pura Agung Amerta Bhuana Batam, sabtu 31 oktober 2020. Purnama Kalima menurut perhitungan sasih. Suasana dingin karena baru saja diguyur hujan deras. Tidak seperti piodalan sebelumnya. Meriah karena umat yang bersebahyang cukup banyak.

Kali ini berhubung ada wabah pandemic covid-19, upacara piodalan dilaksanakan dengan sangat sederhana.

Saya langsung menuju bale paselang, mengeluarkan peralatan gamelan dan mendampingi anak-anak megambel.

Ada orang yang menyampaikan bahwa barusan ada umat yang ‘mesiat’ atau berkelahi. Dalam hati saya berkata, ah masak sih berantem di pura. Sayapun tidak menanggapi omongan tersebut.

Kemudian saat akan sembahyang bersama, ada dharma wacana panjang lebar yang dibawakan oleh ketua Parisada Kepri. Menyinggung sejarah pendirian pura dan sampai nangis nangis bahwa tanggung jawab umat ada dipundaknya. Kenapa harus ada umat yang berkelahi. Kalau ada yang salah, salahkanlah saya. Demikian kata pendharma wacana tersebut.

Setelah beberapa hari kemudian, kebetulan ada yang menyinggung masalah berantem saat piodalan itu. Saya agak kaget. Rupanya kejadiannya serius juga. Menurut versi yang cerita, katanya kelian banjar, pak AS di Tanya oleh pak MS saat di Jaba pura. Pak MS bertanya masalah iuran warga di banjar, karena pak MS satu banjar juga.

Ditanya begitu, klian banjar katanya mukul perut pak MS. Apakah hanya salah paham. Menurut logika saya tidak mungkinlah pak AS mukul beneran perut pak MS. Saya kenal baik pak AS. Orangnya professional, berpendidikan, pengalaman luas. Katanya, karena dipukul perutnya, pak MS kemudian membalas dengan ‘menahan’ leher pak AS. Apa ya bahasa indonesianya yang tepat.

Kebetulan pak AS perawakannya lebih kecil dari pak MS. Hingga muka pak AS dipukulnya hingga berdarah. Syukurlah bisa didamaikan. Kalau sampai ke aparat keamanan, urusannya akan panjang.

Waduh, kok di pura berantem.