Bertepatan dengan tegak piodalan Pura Agung Amerta Bhuana Batam, sabtu 31 oktober 2020. Purnama Kalima menurut perhitungan sasih. Suasana dingin karena baru saja diguyur hujan deras. Tidak seperti piodalan sebelumnya. Meriah karena umat yang bersebahyang cukup banyak.
Kali ini berhubung ada wabah pandemic covid-19, upacara piodalan dilaksanakan dengan sangat sederhana.
Saya langsung menuju bale paselang, mengeluarkan peralatan gamelan dan mendampingi anak-anak megambel.
Ada orang yang menyampaikan bahwa barusan ada umat yang ‘mesiat’ atau berkelahi. Dalam hati saya berkata, ah masak sih berantem di pura. Sayapun tidak menanggapi omongan tersebut.
Kemudian saat akan sembahyang bersama, ada dharma wacana panjang lebar yang dibawakan oleh ketua Parisada Kepri. Menyinggung sejarah pendirian pura dan sampai nangis nangis bahwa tanggung jawab umat ada dipundaknya. Kenapa harus ada umat yang berkelahi. Kalau ada yang salah, salahkanlah saya. Demikian kata pendharma wacana tersebut.
Setelah beberapa hari kemudian, kebetulan ada yang menyinggung masalah berantem saat piodalan itu. Saya agak kaget. Rupanya kejadiannya serius juga. Menurut versi yang cerita, katanya kelian banjar, pak AS di Tanya oleh pak MS saat di Jaba pura. Pak MS bertanya masalah iuran warga di banjar, karena pak MS satu banjar juga.
Ditanya begitu, klian banjar katanya mukul perut pak MS. Apakah hanya salah paham. Menurut logika saya tidak mungkinlah pak AS mukul beneran perut pak MS. Saya kenal baik pak AS. Orangnya professional, berpendidikan, pengalaman luas. Katanya, karena dipukul perutnya, pak MS kemudian membalas dengan ‘menahan’ leher pak AS. Apa ya bahasa indonesianya yang tepat.
Kebetulan pak AS perawakannya lebih kecil dari pak MS. Hingga muka pak AS dipukulnya hingga berdarah. Syukurlah bisa didamaikan. Kalau sampai ke aparat keamanan, urusannya akan panjang.
Waduh, kok di pura berantem.