Jumat, 31 Desember 2021

CATATAN AKHIR TAHUN 2021

Photo dari Group WA

 Barangkali ini hanya catatan kecil di penghujung tahun 2021, dari sekian banyak catatan yang telah dilewati dalam setahun terakhir. Dominannya adalah pandemi covid-19, yang kita syukuri bersama kondisinya telah membaik sampai dipenghujung tahun.

Hujan mengguyur kota Batam dan sekitarnya sejak pagi hari. Saya bergegas ke pura untuk menyambut kunjungan gubernur kepri Bapak Ansar Akhmad SE, MM atas fasilitasi dari Parisada Kepri. Sedianya acaranya dilaksanakan sehari sebelumnya. Karena kesibukan beliau acaranya diundur ke hari Jumat 31 desember 2021.

Saya bagian penyambutan di kesenian yaitu nabuh bersama anak-anak. Anak anak nabuh gamelan mulai pukul 9 pagi yang diiringi hujan deras. Pada akhirnya acara berlangsung di aula pasraman. Gubernur tidak berkenan ke Mandala Utama dimana kami megambel. Bagi kami tidak masalah tidak dapat bertatap muka dengan pak Gubernur meskipun ini moment langka. Yang patut disyukuri bahwa pemerintah daerah telah menyerahkan dana hibah perbaikan Padmasana konon sebesar 250 jt.

Pada pukul 11.30, gubernur telah meninggalkan lokasi karena harus melaksanakan solat Jumat. Kamipun team kesenian membubarkan diri. Bagi yang masih bisa bertahan, panitia menyediakan nasi bungkus nasi padang. Makan bersama lesehan di lantai melingkar. Terasa sekali kebersamaannya meski dominan ibu ibu.

Ketua Parisada Kepri menyampaikan banyak terima kasih kepada segenap umat yang telah mendukung acara penyambutan pak Gubernur, lewat group WA. Saya menggarisbawahi tulisan ketua Parisada tersebut dan mencopastnya :

Tidak ada persaingan di sini, tidak ada pula petandingan di sini, tidak ada juga perlombaan di sini, yang ada hanya pelayanan/sevanam ke hadapan Hyang Widhi melalui sthana beliau yg rusak, naga yg runtuh pada tgl 22 Juni 2020.

Pelaksanaan hari ini terjadi di penghujung tahun 2021, tanggal 31 Desember, mengandung makna yg luar biasa sbg persiapan menyambut tahun baru 2022. Membuka lembaran baru untuk saling membahu fokus memperbaiki Padmasana pura Agung Amerta Bhuana Batam. Mari berdoa semoga Hyang Widhi senantiasa menuntun kita tetap di jalan Dharma.

Apa yang disampaikan oleh ketua Parisada Kepri Dr. I Wayan Catra Yasa M.M tersebut benar adanya. Pura megah yang diberi nama Pura Agung Amerta Bhuana tersebut bukanlah Pura yang dibangun satu atau dua bulan yang lalu. Masih banyak pelaku sejarah dan saksi kunci yang masih ada di Batam. Tidaklah mudah mendirikan tempat ibadah dengan membuat tatanan bangunan ataupun tatanan kehidupan  kemasyarakatan umatnya ditengah tengah umat mayoritas. Seperti yang kita saksikan saat ini.

Tatanan yang telah dibangun dengan susah payah itu jangan sampai dirusak oleh sekelompok oknum yang mengatasnamakan umat. Sibuk memprovokasi sebagian umat, menggalang dukungan dengan membangun opini seolah olah pemimpin yang ada selalu disisi yang salah. Ini yang harus dikontrol oleh lembaga agama. Tidak boleh dibiarkan. Berbuat sesuka hati dengan mengatasnamakan umat. Tujuannya baik tapi caranya yang tidak tepat. Tepat jika mereka menyebut diri mereka sekaa demen, demen bikin uyut. Grup atas dasar suka sama suka, yaitu suka bikin ribut. Tanpa bermaksud berprasangka buruk, sebenarnya siapa saja oknumnya, bis akita lihat. Tai wait ans see lah, kata orang melayu.

Selamat tahun baru 2022.


Kamis, 21 Oktober 2021

JAGA JARAK DEMI JAGA RASA

 


Sebagai orang ketimuran sepatutnya tetap menjaga adat budaya ketimuran. Menjaga perasaan orang lain penting. Terus siapa yang menjaga perasaan kita sendiri?

Setidaknya begitulah perasaan saya saat itu. 

Kedekatan emosional saya dengan teman-teman satu perusahaan dulu masih terjalin erat. Ini yang membuat saya tetap akrab dengan mereka. Saat saya ndak kerja lagi, saya tidak merasa kesepian. Saya masih anggota group WAnya yang memang diperuntukkan untuk hal hal diluar kerjaan, bukan sifatnya resmi. Obrolan ngalor ngidul sebagaimana halnya sebagian besar isi obrolan group-group lain. Sekedar silaturahmi.

Saya sudah mengetahui rencana mereka akan jalan jalan ke pantai. Mereka menghubungi saya apakah mau ikut, secara tidak langsung saya bilang ok. Cuman mereka masih kurang tanggap dan ragu jawaban saya. Padahal saya sudah mengalokasikan waktu untuk itu.

Rencana jam 7 pagi sudah harus start berangkat. Namun molor. Saya jemput rombongan ibu-ibu ke salah satu rumahnya (saya lupa nama perumahannya). Dari sini berangkat dua mobil. Naikkan barang dan menuju titik kumpul di sekitar kantor samsat SP.

Seandainya perasaan saya waktu itu saya tulis, rasanya tak ada kata kata yang pas untuk itu. Lha gimana tidak. Wong berangkat dari rumah duduk depan samping saya, eh akhirnya harus duduk di jok belakang. Malah mau pindah mobil. Demi menjaga perasaan seseorang katanya. Ya apa boleh buat. Kenapa kok repot banget jadinya. Kalau memang tidak ada urusan dengannya kenapa ambil pusing.

Praktis selama di pantai saya tidak bisa menikmati acaranya. Suasana juga kebetulan hujan deras. Saya hanya ambil photo-photo beberapa kali saja. Itu bagian dari hobby saya.

Saya duluan pulang sekitar jam setengah 3 sore. Masih gerimis kecil. Biarlah kusimpan perasaan ini sendiri.


Senin, 27 September 2021

SATU NAGA, DUA NAGA, TIGA NAGA

 Saat tulisan ini dibuat proses renovasi padmasana pura agung Amerta Bhuana Batam sedang berlangsung. Rencana awalnya hanya merenovasi bagian paling bawah dari bangunan padmasana. Kalau kita naik dari tangga yang di apit dua naga itu, nah area di kanan dan kiri ujung atas tangga itulah yang mengalami keretakan cukup lebar dan permukaannya turun. Ini akibat struktur bangunan dimana filler untuk nimbun ke dalam padmasana kurang padat.

Maka dibulan juni 2020 dimulailah renovasi dengan melobangi beton yang retak dan ditimbun. Menurut dugaan saya saat melakukan pengeboran dan pembongkaran disekitar naga, yang diberinama naga Taksaka itu, otomatis penyangga naga ikut lemah. Dan tentu saja akibatnya sang naga ambruk berkeping keping. Naga yang selalu saya amati dimana dalam cuaca apapun pada gigi atas naga selalu keluar air. Entah bagaimana fenomena itu terjadi. Seperti halnya stalagtit kalau di gua gua. 


Fenomena itu membuat saya selalu teringat akan di rumah di kampung dimana kusen pintu salah satu kamar, meskipun sudah usianya bertahun tahun dan juga sudah dicat tebal, ternyata masih juga mengeluarkan getah. Lagi pula setiap saya pulang kampung dan tidur di kamar tersebut, dalam salah satu malam saya pasti mimpi ada pencuri masuk rumah. Karena masih remaja, saya ndak ambil peduli dengan mimpi begitu. Setelah dewasa dan tua baru berpikir mengapa ada fenomena seperti itu.

Nah setelah ambruknya kepala naga, renovasi sempat berhenti agak lama. Ditambah lagi ada wabah pandemi covid19. Perdebatanpun mulai muncul. Akankah direnovasi dengan mengembalikan ke bentuk semula ataukah membangun dua naga sekaligus. Mungkin acuan yang mau dipakai tidak ada dasarnya, maka perdebatan tidak kunjung selesai. Dibukalah momen diskusi denga mengundang dua Pedanda yang dianggap memiliki pengetahuan tentang padmasana. Salah satunya beliau pernah lama berkecimpung dengan umat di kegiatan di pura. Meetingnya di zoom secara online. Pada tanggal  03 agustus 2021. Di pertemuan tersebutlah diambil keputusan bahwa renovasi akan dikembalikan seperti kondisi semula. (saat ini saya masih menyimpan rekaman zoom meeting tersebut).

Seiring berjalannya waktu dan renovasi sedang berlangsung, ternyata masih ada umat yang nota bene ikut saat zoom meeting, tapi diem, masih mempermasalhkan berapa naga seharusnya dibangun. Alasannya dimana mana jumlah naga harus dua. Lha photo yang ditunjukkanpun adalah photo dikedua sisi tangga entah dipura mana.

Seiring perubahan jaman dan berjalannya waktu harusnya manusia berpikiran semakin maju. Bila perlu berpikir sampai ke luar angkasa. Lha orang sudah berdoa dari luar angkasa meski hanya kurang lebih 10 menit, kita masih ribut ngurusin satu naga, dua naga, tiga naga. Padahal urusan naga itu urusan orang main scatter. 

Kok naga jahat ditaruh disitu. Ada juga yang berkata begitu. Entah darimana ilmunya.

Apakah lupa, dulu saya pernah bersama sama sembahyang dibelakang bangunan padmasana sekarang itu. Bahkan sempat nanam pedagingan dan bikin turus lumbung disana. Beralaskan seadanya. Kalau habis ujan tanahnya becek. Tidak ada listrik. Malah saya yang bertugas membawa dan menyalakan lampu petromak setiap ada persembahyangan bersama. Bayangkan, tidak ada air kran. Tangan masih bau minyak tanah saat nunas tirta.

Jikapun sekarang anda dibuatkan satu naga, anda maunya dua naga, apakah anda tidak akan sembahyang ke pura lagi? Apakah keimanan anda akan berkurang? 


Rabu, 25 Agustus 2021

Ke Jalan Dharma

 Om swastyastu,

Cerita lain.

anak remaja 15 tahun asli aceh yg mau memeluk agama hindu.

Namanya ‘putra’ inipun nama pemberian orang kepadanya. Katanya hidup yatim piatu, tempat tinggalnya kost di daerah aceh sana, kerja di usaha bunga, tamat madrasah mts setingkat smp saja. Suatu saat katanya pingin punya nama ala nama orang bali. Katanya pingin jadi pemangku. Ambisi belajar hindu sangat tinggi. Ikuti kisahnya dari rangkuman hasil obrolan saya di awal Agustus 2021, tepatnya tanggal 5 agustus sore, selama 88 menit 19 detik, yg ternyata dia nelpon dengan pulsa, saya kira lewat WA. Wow. Mari simak kisahnya sebagai berikut.

Putra lahir dan besar di lingkungan keluarga muslim. Seperti kita ketahui aceh identik dengan islam, bahkan dulu sering disebut serambi mekah. Putra tumbuh di lingkungan pesantren sudah pasti sangat baik pengetahuan agamanya.

Putra :  Itu kalau dilihat dari luar. Putra sering harus makan nasi basi, sementara kawan kawanbisa makan enak. Saya di pesantren kan  gratis tidak bayar, harus bayar pakai apa, sedangkan kawan kawan yang dapat makan enak karena mereka bayar.

Penulis : lho kok bisa.  (Tentu saya tidak akan menulis disini apa pandangan dia selama hidup di pesantren).  Nah mengapa putra tertarik hindu ?

Putra melanjutkan kisahnya. Beruntung sekali bisa bicara lewat telpon dengan bapak, kalau chat di WA harus di enter per kalimat agar lebih enak dibaca, kata dia. Setelah keluar dari pesantren dan tamat dengan ijazah MTs (mungkin setingkat SMP, saya kurang paham) bathin putra mulai berkelana mencari tahu agama lain yang cocok dihatinya. Agama yang paling masuk akal yang mau dia cari. Menurut versi dia tentunya. Dia mengatakan agamanya hanya ajaran dengan om..... ko..... (sensor). Agama yang merasa paling benar. Hanya dia yang beragama sementara orang yang bukan seiman adalah kafir. Masak di sorga disediakan 72 bidadari cantik cantik. Kan tidak masuk akal sifat sifat duniawi masih ada di sorga. Kata dia.

Lagi pula bidadarinya perawan terus. Kalau bapak sih seneng aja disediain bidadari cantik dan perawan. Kata saya sambil ketawa. Putrapun ikut tertawa. 

Disinilah Tuhan itu tidak adil. Kata Putra. Kalau memang hanya agama tertentu saja yang benar, mengapa Tuhan harus menciptakan agama-agama lain. Saya sudah belajar agama kristen katolik, kristen protestan, budha dan terakhir agama Bahai. Bapak pernah denger agama Bahai? Tanya Putra.

Ooo tahu, pernah denger dan dulu pernah ikut beberapa kali pertemuannya. Kayak pengajian gitu. Bapak diundang boss tempat kerja dulu di acaranya. Kebetulan istrinya orang iran dan pemeluk bahai. Itu kalo tak salah ajarannya dibawa dari Iran kan. Kata saya.

 Iya pak, hampir mirip islam, kata Putra.

Kalau bapak sih ndak bisa komentar dan menilai ajaran agama lain selain hindu, bapak tidak mempelajari agama lain. Daripada salah menilai. Kata saya. Padahal mungkin semua agama mengajarkan yang baik tapi praktek pemeluknya yang keliru.

Setelah saya mempelajari semua agama yang saya sebutkan itu, tak ada satupun yang cocok di hati saya. Kata Putra. Nah di bulan February 2021 entah kenapa, saya seperti di arahkan sang hyang widhi.   Demikian kata Putra.

Nah di bulan February 2021 entah kenapa, saya seperti di arahkan sang hyang widhi untuk belajar agama Hindu. Saya mulai browsing di internet mencari tau apa itu Hindu. Saya baca di wikipedia, agama hindu berasal dari India, kitab sucinya Weda, tempat sucinya Pura, dan sebagainya. Padahal tadinya saya menilai hindu itu agama kuno, agama primitif. Kok orang bali masih juga beragama Hindu. Demikian kata Putra. Ternyata saya salah. Agama hindu adalah agama universal. Semuanya masuk akal. Dari konsep kelahiran, hidup dan kematian. Kalau di islam ada aliran yang namanya sufi (maaf kalo salah nulis, red) sama juga sifatnya universal. Banyak berkembang di timur tengah, kata dia. Tadinya saya kira Tuhan hindu banyak jumlahnya. Terus menyembah patung. Ternyata ada di sebutkan di bait tri sandhya bahwa Tuhan itu satu tidak ada duanya. Kata dia.

Ya betul, di bait ke-2 kata saya.

Jadi Tuhan dengan Dewa itu beda ya pak. Tanya Putra.  Trus orang Hindu menyembah Tuhan apa menyembah Dewa pak. 

Umat Hindu menyembah satu Tuhan. Secara umum di Indonesia sebutan Tuhan adalah Sang Hyang Widhi Wasa atau Hyang Widhi. Sedangkan Dewa adalah sinar suci dari tuhan. Dewa jumlahnya buanyak menurut tugas atau fungsinya. Coba  Putra cari cari lagi referensi di internet yang menjelaskan apa itu Dewa. Demikian kata saya.

O ya pak. Kata Putra. Saya tau dewa dewa dalam Tri Murti. Yaitu dewa  Brahma, Wisnu, Siwa. Saya sudah tau panca srada. Lima dasar keyakinan agama hindu. Percaya adanya Brahman atau Tuhan. Percaya adanya atman, Karma phala, Punarbhawa dan Moksa, kata dia. Saya pingin sekali punya buku-buku hindu, dasar-dasar ajaran agama hindu. Saya pingin punya buku kayak yang dipegang anak kecil photo profile bapak. Demikian kata Putra.

Lalu saya jawab, ooo itu photo anak saya waktu kecil megang buku sekelumit sejarah hindu di jawa jaman dulu. Judulnya Sabdapalon dan Dharmagandhul. Itu bagian koleksi buku saya. Tidak saya berikan ke orang lain. Nanti saya coba cari donatur yang bisa menyumbangkan buku buku hindu, seperti Upadeca yg di Bali banyak ada bukunya.

Saya lihat di website hindu-batam.com di batam ada pasraman juga ya pak. Itu website punya bapak ya pak. Saya mau masuk pasraman. Buku bukunya juga banyak ya pak. Boleh saya dikirimi buku buku itu pak. Kata Putra.

Saya jawab, ya itu website milik umat di batam atau kepri. Itu dirintis sejak tahun 2004. Saya hanya sebagai adminnya. Di batam ada pasraman seperti halnya daerah daerah lain di indonesia. Fungsinya kalau diluar bali adalah untuk menyelenggarakan pelajaran agama hindu dari usia paud sampai perguruan tinggi. Karena di sekolah tidak ada guru agama hindunya. Buku-buku hindu di pasraman sangat buanyak. Tak banyak  yang baca. Itu buku proyek pemerintah. Bukunya belum begitu terurus dengan baik, mungkin dah kemakan rayap. Masih banyak yang masih utuh dalam box bertahun tahun. Kalau dik Putra ke Batam, ambil saja itu bukunya semua untuk dibaca. Demikian kata saya sejujurnya.

 

Sampai disini apa pendapat bapak sama putra. Setelah putra cerita pengalaman saya itu. Demikian tanya putra.

Ya tentu saja patut bersyukur. Ini anugerah yang luar biasa dari Hyang Widhi. Tidak semua orang diberi anugerah seperti Putra. Kenapa orang lain tidak, ini tidak terlepas dari karma Putra dimasa lalu. Demikian kata saya.

Saya ingin pergi ke Batam. Batam adalah kota vaporit saya setelah Bali. Saya lihat perkembangan hindu di batam sangat maju. Puranya besar. Saya ngumpulin uang dulu. Kalau saya ke batam apakah bapak mau jadikan Putra anak angkat bapak? Bisakah bapak bantu Putra untuk sudiwadani ? Saya juga lihat di erofa sudah ada pura. Kalau saya cukup uang saya juga mau ke selandia baru. Kehidupan di sana kayaknya enak. Di sana saya mau mendirikan pura. Dan kalau ada orang lain mau mendirikan pura harus seijin saya. Demikian kata Putra penuh semangat.

Ya mudah mudahan covid ini cepat berlalu, dan kondisi normal kembali. Putra kumpulin uang dulu biar bisa ke batam. Banyak nanti yang bisa jadi bapak angkat Dik Putra di batam. Prihal sudiwadani, itu bukan masalah. Ada lembaga yang menghandle itu, namanya parisada kota batam. Ada jro mangku nanti yang mengupacarai. Yang terpenting dik Putra siapkan mental dan pengetahuan agama hindu dulu. Di batam sangat sueriiing ada sudiwadani. Ada yang suaminya orang hindu malaysia atao singapore, si calon istri orang indonesia. Ya tergantung kepentingannya juga. Biasanya sebelum di sudiwadani ada konseling dulu. Tergantung ketersediaan waktu. Nanti semua tata caranya akan dijelaskan terlebih dulu.  Demikian jawaban saya.  (tambahan  : beberapa kali penulis perhatikan, sebaiknya copy lembar sudiwadani diberikan ke calon yang disudiwadani untuk dipelajari agar pengucapan bagian doa/ mantra saat acara tidak terkesan S3 - sangat sangat susah).

Demikian akhir percakapan saya dengan Putra.

Om Shanti Shanti Shanti, Om

Senin, 26 Juli 2021

SELAMAT JALAN PRABU

 


Semoga kelak tulisan ini menjadi catatan bersejarah mengenang kepergian sahabatku I Wayan Mesra Ariawan. Sesuai ajaran yang diikuti, beliau sudah bergelar Prabu. Sabtu 24 Juli 2021 sebenarnya hari suci Purnama. Tatkala saya bangun pagi, seperti biasa yang pertama saya ambil adalah hp, buka WA. Baca kalau ada informasi up to date, atau dengan kata lain informasi penting.

Amor ing Acintya 

Mewali ring Sangkan Paraning Dumadi

Saudara tercinta,

Wayan Mesra Ariayawan

Dumogi polih genah sane Becik

Manunggal ring Brahman

lugrayang tiang nunas sinampure agung paripurne antuk Wenten  wicara lan pari laksana , tiang madue Saudara sane sampun ke margiang daweg maurip ,  turmaning dumogi ledang Semeton Sareng sami arse  ngerestitiyang sang  lampus ngemolihan genah sane becik sekadi karme wasane ipun dumun

wantah asapuniki tiang preside mapaungu atur tune liwat tune langkung ngiring druenang Sareng Sareng .

Ketut Santosa & Keluarga.

Itulah informasi di salah satu grup WA warga Bali. Saya langsung mengucapkan turut berduka cita yang mendalam di gup tersebut. Kebetulan dulu pernah jadi teman baiknya Wayan. Di Bali saya kebetulan satu kecamatan dengan dia. Orangnya humoris, banyak senyum dan tawa. Orangnya baik, humble dan banyak punya ide. Awal kenal saat sama-sama di Sai Baba. Kemudian dia aktif di Hare Krishna. Mulai saat itulah saya jarang ketemu dia.

Informasi yang saya dapatkan, Wayan ini sudah beberapa hari yang lalu mengalami demam tinggi sekeluarganya. Tidak mau test antigen, takut hasilnya positif. Namun 4 hari yang lalu sebelum almarhum, Wayan tidak bisa gerak dan tidak bisa bicara. Akhirnya sempat dibawa ke beberapa rumah sakit. Hasil testnya negatif, namun ada flek di photo rontgen paru parunya. Jantungnya bengkak dan tensi tidak normal. Di test PCR, hasilnya positif covid. Hingga terakhir sempat dapat penanganan khusus di RSBK dan sampai meninggal. Istrinya masih dalam suasana isolasi.

Warga banjar atau umat tidak memungkinkan untuk mengiringi kepergian Wayan dalam kondisi covid seperti ini. Hanya disarankan untuk berdoa. Hanya beberapa orang yang bisa mendampingi saat di kremasi di sembau pada hari itu juga. Tidak perlu ada persiapan khusus secara keagamaan. Harus mengikuti prosedur penanganan jenazah terpapar covid. Jenazah tidak mungkin dikirim ke bali.

Jero Mangku yang mengiringi kepergian Wayan adalah Jero Mangku Arif. Jero Mangku Putu Satria yasa sedang kondisi kesehatannya kurang baik.

Saat nganyut abu jenazah juga dituntun oleh Jro Mangku Arif, pada hari minggunya ke esokan harinya.

Selamat jalan Sobat, semoga tenang dan damai di alam sana. 



Senin, 19 Juli 2021

DISATUKAN MUSIBAH


 

Pagi itu di hari Sabtu 10 Juli 2021 saya dikirimi sebuah photo keluarga oleh salah seorang bekas teman kerja satu PT. Di keterangan photo tersebut ada kalimat bertanya, apakah saya mengenal orang di photo tersebut. Saya jawab ‘ya kenal’, emang kenapa. Terus teman saya itu mengirimi saya photo lain, photo orang sedang terkapar, dengan wajah menghitam. Di keterangan photo tertulis secara garis besar  mengatakan bahwa yang bersangkutan meninggal karena tersambar petir saat nelpon, kebetulan hujan deras. Kejadiannya dekat pasar sagulung. Wah tragis sekali, kata saya merespon WA kawan saya tersebut.

Kemudian di grup komunitas banjar warga bali, banyak komentar simpang siur. Pokoknya ngaku saling kenal baik. Terus terang respon saya bernada negatif. Saya kebetulan tahu yang bersangkutan sejak lama. Tidak pernah kepura.  Apalagi istrinya. Intinya tidak ikut ‘mebanjar’ yaitu perkumpulan wadah orang bali dalam satu wilayah.  Ada yang bilang kalau anaknya disekolah ikut pelajaran agama islam. 

Saya sarankan biar dari pihak keluarga ada yang menghubungi  ke lembaga umat Hindu di Batam. Mengingat kondisi khusus.

Setelah ada kesepakatan semua pihak, mayat diselesaikan secara Hindu. Semua bergerak. Ada yang mengurus jenazah ke rumah sakit. Ada yang mengurus ke rumah duka. Ada yang mencari perlengkapan.

Berdasarkan hasil visum rumah sakit, tidak ada gangguan kesehatan yang mengarah penyebab meninggal mendadak. Kemugkinan besar saat jalan sembari terima telpon, kaki tersandung dan jatuh. Akibatnya kepala terbentur jalan.

Hari minggunya jenazah dibawa ke rumah duka. Anggota keluarga, istri, 5 anaknya menemani di rumah duka di Baloi.

Hari senin keesokan harinya, jenazah dikremasi ke sembau nongsa. Saya nyusul ke rumah duka sebelum jam 10 pagi. Tapi ternyata rombongan sudah duluan berangkat. Sayapun bersama istri langsung nyusul ke Nongsa.

Prosesi sebelum dikremasi dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satria Yasa. Anak-anak dan istri almarhum tinggal mengikuti arahan jero mangku. Saya lihat anak-anaknya kali ini baru pertama kali mengenal sembahyang secara hindu. Sedih sekali melihatnya.

DOA BERSAMA 7 HARI SETELAH KREMASI.



Ada undangan doa bersama dari Banjar, senin 19 Juli 2021 jam 17.00. tadinya saya pikir apakah jam 7 malam yang dimaksud.  Ternyata tidak. Mengingat kondisi wabah covid-19, jam malam dibatasi. Yang datang tidak banyak. Hanya beberapa orang yang deket istri almarhum. Kebetulan ruang tamunyapun tidak terlalu luas untuk menampung banyak orang. Saya datang bersama istri. Kirain acaranya sudah mulai. Ternyata belum. Hanya saya yang bapak-bapak yang hadir pada jam itu.

Seusai doa bersama, perwakilan tokoh umat yang datangnya juga agak terlambat, berkesempatan memberikan petuah agama kepada anak-anak almarhum. Sekaligus mengajak mereka untuk memulai lembaran baru mengikuti ibadah agama secara Hindu dengan tulus dan sungguh-sungguh. Disarankan untuk segera bergabung ke perkumpulan warga Hindu agar komunikasi bisa berjalan lancar. Ini adalah amanah dari keluarga besarnya di Bali kepada Jro Mangku Putu Satria Yasa untuk membimbing keluarga ini di jalan Sanatana Dharma.

Istri almarhum terus terang mengakui bahwa dia dan suaminya memang beda keyakinan sejak awal. Kedepannya dia minta bimbingan umat tentang ajaran agama hindu. Dia dan Anak-anaknya akan menjalankan ajaran Hindu. Semoga saja musibah tersebut dapat menyatukan kita. Swaha. Dan........ kita lihat saja nanti.


Selasa, 22 Juni 2021

PRE WEDDING DI PURA

 Agak kaget ketika menjumpai beberapa photo di fb yang katanya itu acara pre wedding entah anak atau ponakan salah satu umat Hindu di Batam. Photo photo pre wed tersebut diunggah di fb pada tanggal 21 juni. Sah sah saja pengambilan photo  pre wed di Pura. Asal tau tata caranya. Eh apakah pernah dibuat tata caranya? Ya paling tidak mestinya tau norma norma bagaimana seharusnya bersikap di tempat suci.

Kenapa mesti di Pura ya. Bukankah banyak tempat lain yang indah. Bisa jadi Pura dianggap tempat unik, tempat langka di rantauan. Sepertinya kurang etis rasanya mengadakan photo prewed di dalam tempat suci yaitu Pura.

Perhatikan photo berikut. Calon mempelai memakai pakaian adat Bali yang identik dengan Hindu di Indonesia. Yang sedikit mengganjal dihati saya adalah pakaian si calon mempelai wanitanya. Pakaian rias bali tapi masih menggunakan kerudung yang mencirikan yang bersangkutan beragama islam. Setau saya tidak ada pakem pakaian tradisional bali dengan kombinasi kerudung. Ini sudah keluar dari pakem. Meskipun saya bukan seorang budayawan bali, ya  aneh saja menurut saya.


Photo diambil dari FB





Saya tidak berani mengomentari photo tersebut. Saya tidak ingin mengusik orang yang sedang berbahagia. jangan sampai orang yang sedang berbahagia malah jadi sedih. Saya hanya membaca beberapa komentar di tread photo tersebut. Sepintas yang laki dari namanya berbau Bali sementara yang perempuan bukanlah orang bali.

Menurut saya masih rancu batasan sampai dimana area boleh dimasuki. Hindu mengenal istilah cuntaka, kotor.

Apakah demi uang kita mengorbankan etika. Satu sisi, itu adalah bisnis. Bisnis rias, bisnis menyewakan pakaian pengantin. Tapi apakah harus mengorbankan norma etika di tempat suci? Bayangkan bagaimana jika ada yang bikin photo pre wed dengan pakaian adat bali tapi lokasinya di dalam mesjid.

Entahlah, semoga saja ada yang peduli dengan hal-hal begituan.


Sabtu, 19 Juni 2021

NAGA SEMBILAN

Saya baru tahu kalau ternyata ada grup WA (WAG) ‘sembilan naga’ untuk komunikasi antar umat Hindu di batam. Saya pun tak tahu siapa saja anggota grup tersebut, siapa  adminnya dan fokus diskusinya  tentang apa saja. Padahal dalam tradisi Hindu hanya dikenal tiga Naga. Kebetulan di Pura Agung ada tiga naga dan saat ini satu naga dalam keadaan ambruk. Adakah kaitannya grup sembilan naga dengan pembangunan Naga?

Konon ada puluhan WAG dalam komunitas Hindu di Batam/ Kepri. Saya tahu ketika Tokoh kita menyampaikan di grup ini saat muncul satu grup yang diberi nama “Umat Hindu Kota Batam”. Nomor saya pun di add oleh adminnya. Itu tanggal Minggu 13 Juni 2021. Beberapa anggota berharap semoga grup WA ini dapat memperkuat komunikasi yang ada selama ini. Informasi selama ini bisa jadi tidak sampai ke akar rumput. Jika demikian halnya, maka tujuan grup ini sangat positif. Seperti yang disampaikan penggagas grup ini yaitu I Made Sudarta, bahwa tujuan dari grup ini adalah untuk menjalin tali silaturahmi sesama umat Hindu dalam rangka pelaksanaan gotong royong rutin khususnya pembangunan Bale Panjang. Entah dari siapa pencetusan nama bale Panjang. Mungkin karena bentuk fisiknya memanjang.

Bale Panjang memang rencananya dibangun dari pembuatan pondasi sampai finishing akan mengandalkan swadaya umat secara gotong royong. Semoga kwalitasnya tidak membahayakan.

Tapi menurut saya pribadi, mudah-mudahan saya tidak berlebihan memberikan penilaian, grup ini tidak ubahnya seperti dulu ada yang namanya sekeha demen yang biasanya dikoordinir oleh teman deket saya juga. Yang kini sudah duluan pulang ke bali. Sekehe demen didasari oleh kegiatan informal atas dasar rasa suka suka, karena jika di formalkan biasanya grup itu langsung bubar.

Akankan WAG ini juga demikian? Kita lihat saja nanti. Mengingat para anggota yang paling banyak komentar di chating adalah orang-orang yang bebas sepertinya tidak terbiasa ada dalam aturan formal. Saya menjaga diri untuk tidak turut berkomentar. Hanya nyimak saja obrolan mereka. Menghindari terjadinya kesalahpahaman, apalagi dalam media digital sangat rawan salah paham.

Paling tidak sampai kapankah masih bisa solid tanpa ada yang mulai mutung. Tanpa ada yang merasa direndahkan atau tidak dihargai. Tetap solid seperti halnya semangat ngelawar.

Gebrakannya terlihat manakala dibuka kesempatan bagi yang hendak berdana punia rangka baja ringan bale panjang. Berapa kebutuhan, dan diupdate berapa persennya sudah terpenuhi. Terkesan berlomba lomba untuk berdana punia/ nyumbang. Tentu ini sangat positif. Jikalaulah dibuka kesempatan untuk nyumbang 9 naga atau 10 nagapun pasti terwujud.

Sabtu, 24 April 2021

VIDEO DMD

Photo dari Grup WhatsApp

 

Beberapa hari ini media social dihebohkan dengan viralnya sebuah tayangan video di channel youtube dimana isinya seorang berinitial dmd sedang memberikan ceramah agama yang menceritakan pengalamannya sewaktu kecil sebagai orang Hindu Bali. Kini yang bersangkutan sudah memeluk agama islam.

Jika di simak videonya, isinya sangat menyinggung perasaan umat  Hindu khususnya Hindu yang di Bali yang kental dengan nuansa Budaya Balinya. Bagaimana tidak sakit hati mendengar ceramah ibu dmd itu. Mungkin anak kecil saja yang lahir dan besar di Bali tidak sebodoh itu pengetahuannya. Nah ini seorang akedemisi, seorang dosen dan calon Doktor pula. Harusnya dia mengedepankan rasional berpikirnya. Sehingga apa yang disampaikan tidak bertentangan dengan norma-norma adat budaya atau agama. 

Apalagi orang yang mendengarkan ceramah yang bersangkutan dalam video tersebut, klihatan terpana dengan mulut menganga saking penasarannya. Barangkali sesuatu yang baru yang pernah di dengar dan kali ini dapat penjelasan dari orang yang tepat. Mungkin itu pikirannya. Padahal sujatinya mereka sedang kena racun. Isi ceramah ibu DMD hanyalah curhatan atas perasaan dia pribadi.

Menyikapi viralnya video tersebut pro kontra bermunculan. Lembaga hindu pusat dan kementrian agama turun tangan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Maka diadakanlah pertemuan beberapa tokoh lembaga, tokoh masyarakat hindu dan tokoh ormas hindu dengan menghadirkan yang bersangkutan si ibu dmd. Pertemuan dilaksanakan di aula Pura Mustika Cijantung  tanggal 17 April 2021 jam 19.00. turut hadir pada pertemuan tersebut yaitu rector UHAMKA, direktur PMK, ketua WHDI, ibu DMD, dirjen Hindu Tri Handoko Seto, ketua PHDI Pusat, dekan UNJ.

Dalam video liputan pertemuan tersebut masing-masing diberikan kesempatan untuk memberikan keterangan termasuk ibu DMD. Apa yang disampaikan rata-rata sifatnya normative. Intinya ibu DMD sudah mengakui kesalahannya dan umat Hindu memaafkannya namun jika ada pihak pihak yang melanjutkan proses hukumnya dipersilakan dengan catatan tetap mengedepankan situasi yang kondusif.

Di akhir pertemuan tersebut ibu DMD menyerahkan pernyataan permohonan maafnya yang diterima oleh ketua Parisada Pusat dan disaksikan oleh Dirjen Hindu.

Mari kita tunggu dan lihat apa kelanjutan dari peristiwa tersebut. Adakah actor intelektual dibalik isi ceramah ibu DMD tersebut. Entahlah. Hanya yang kuasa yang tau.


Senin, 15 Maret 2021

Nyepi bukanlah sepi

 Hari minggu 14 Maret 2021 bertepatan dengan hari Raya Nyepi tahun Caka 1943. Tidak ada terasa special di hari raya kali ini, masih dalam kondisi Covid-19, bertepatan dengan hari Minggu juga. Apalagi di rantauan. Sudah dua kali Nyepi dilewati selama musim pandemic.

Seperti biasa kalau hari Nyepi saya hanya tinggal di rumah bersama anak istri. Tentu semua melaksanakan ibadah puasa. Melaksanakan tradisi yang disebut catur brata penyepian. Tidak bepergian, tidak makan minum, tidak bekerja dan tidak menyalakan api. Tentu sudah banyak di bahas maksud dari ajaran catur brata tersebut. Disini saya tidak menguraikan itu lagi.

Saya bangun pagi sebelum matahari terbit. Membersihkan badan, sembahyang. Tidak ada istilah sahur seperti agama lain. Karena sujatinya puasa tidak perlu sahur. Apalagi puasa yang seharusnya dilaksanakan selama 24 jam dari pagi sampai pagi berikutnya. Namun saya sekeluarga melaksanakannya hanya selama 12 jam. Dari pagi sampai senja hari.

Saya masih buka Hp, Laptop dan nyalakan TV. Namun volume disetel agar tidak terlalu berisik. Sebagian besar waktu saya isi dengan baca baca buku dan tidur. ini waktunya tubuh saya istirahat, setahun sekali, semua kotoran akan mengendap dan akan dikeluarhan sesaat setelah kita mulai minum dan makan. Di saat senja setelah matahari terbenam, saya mengakhiri puasa saya dengan minum the hangat dan makan buah-buahan. Setelah sekitar satu jam kemudian, saya makan nasi yang porsinya lebih berat.

Sejak pagi saya memperhatikan medsos terutama WA. Hanya dua orang yang mengucapkan selamat hari Raya Nyepi. Salah satunya mungkin karena saya sering minjemin dia duit. Sekarang seharusnya sudah jaman lebih maju. Seharusnya pengetahuan agama semakin maju, bukan sebaliknya jaman semakin modern tapi agama justru membelenggu kehidupan kita. Betapa takutnya anda masuk neraka jika memberikan ucapan selamat hari raya ke agama lain. Alangkah naifnya.  Entahlah saya tidak tahu, hanya mereka yang faham.

Pagi hari ada dua anak muda panggil-panggil dari depan pagar. Saya menemuinya. Katanya minta uang gotong royong karena saya tidak ikut gotong royong hari miinggu itu. Saya katakana, maaf saya tidak ikut gotong royong karena kami sedang merayakan hari raya nyepi. Dua anak muda itu hanya planga plongo. Mungkin tidak pernah tahu Nyepi itu hari raya agama apa. Waduh. Separah itukan pengetahuan anak sekolah jaman sekarang. Akhirnya saya kasi 10 ribu sebagaimana kesepakatan warga jika tidak bisa ikut gotong royong maka dikenakan sumbangan 10ribu. Saya bilang ‘salam sama pak RT saya tidak ikut goro karena lagi hari Raya’.  Ini salah satu cobaan.


Selasa, 23 Februari 2021

GOWES GOLF

saya paling ujung kanan rombongan


Minggu 21 Feb 2021, saya ikut gowes yang diadakan oleh Batam Hill Golf. Ada sekitar 10 orang dari rombongan PT. peserta keseluruhan tidak terlalu banyak, mungkin karena masih dalam situasi covid-19. Peserta harus mematuhi protocol kesehatan, memakai masker, jaga jarak dan tidak bergerombol.

Start awal dimulai sekitar jam 07.30, dimana pada saat di garis start peserta dibatasi setiap sekitar 25 orang. Agar ada jarak antar satu rombongan dengan rombongan berikutnya.

Route gowes mengikuti rute mobil cady di semua lapangan dari hole 1 sampai hole 18. Peserta bebas mengambil spot photo asal tidak menginjak rumput lapangan. Tentu ini kesempatan langka karena tidak sembarangan boleh masuk ke area lapangan kecuali memang berkenan mengeluarka sejumlah uang. Konon setiap sabtu minggu lintasan ini dibuka untuk umum yang hobby bersepeda.

Kondisi sekitar lintasan memang masih asri karena masih dikelilingi hutan. Namun kondisi lapangan sepertinya perawatannya kurang maximal, mungkin karena lagi musim kemarau. Tidak ada yang istimewa bagi saya.

Gowes yang tidak terasa bikin capek. Keringet karena cuaca panas.

Di lokasi acara dibagikan minuman kopi panas, the, minuman botol dan nasi goreng.

Ada atraksi sepeda dari anak anak, entah dari club apa, saya kurang memperhatikan. Saya asyik makan sarapan nasi goreng.

Ada puluhan luckydraw yang diundi yang kebanyakan hadiah hiburan. Hadiah terbesar adalah sepeda gunung, cuman kelas standard.

Saya sendiri dapat kebagian luckydraw handuk olah raga dan angpao 5000 rupiah. Hahahaha.


Kamis, 04 Februari 2021

RATU NGURAH

 Kisah menarik  di awal bulan February 2021. Diawali dengan postingan sebuah poto KTP oleh ketua Lembaga Hindu lewat grup WA. Ada pesan ‘hati-hati kalau berjumpa dengan orang ini’. Tentu orang membaca akan bertanya Tanya. Ada apa dengan orang tersebut.

Di KTP tersebut tercantum atas nama Ratu Ngurah Wijaya Kusuma SH, MH. Laki-laki lahir di Batur tanggal 5 Mei 1975. Agama Islam. Beralamat di Jalan Tapanuli No B 7, Sei Agul, Medan Barat. Status Kawin, Wiraswasta.

Mengapa hati-hati? Katanya yang bersangkutan serba tidak jelas. Mengapa datang ke pura, padahal jelas-jelas dia beragama islam.

Akhirnya disepakati dibahas di Zoom meeting dengan mengundang beberapa tokoh, ketua lembaga dan para klian banjar. Tema meeting ‘penanganan/ perlindungan umat bermasalah’. Yang bersangkutan sudah numpang tinggal di Pura.  Persisnya menempati salah satu ruangan kelas di Pasraman.

Pada intinya semua peserta meeting tidak setuju yang bersangkutan tinggal di areal Pura. Namun tidak ada kesepakatan berapa lama diijinkan tinggal di Pura.

Saya copast beberapa hasil meeting untuk kalangan terbatas. 

Mas Jumadi

2. Ratu Ngurah lama tinggal di Medan kurang lebih 5 tahun

3. Sempat aktif di pura, 

4. Sempat ada masalah dengan keluarga lalu nginap di Pura

5. Sempat di modalin untuk ulang kampung ke Bali

6. Tiba - tiba datang ke Medan lagi dan tinggal di Pura tanpa ijin

7. Warga tidak mengijinkan Ratu Ngurah untuk tinggal di Pura karena beliau kurang menyakinkan

8. Setelah tidak diijinkan tinggal di Pura beliau hilang kontak

Jro Mangku Putu

9. 31 Jan 2021 pukul 6.30 datang ke Pura, mohon ijin tinggal di Pura sementara karena tidak punya pekerjaan.

10. Sempat bekerja di pembibitan bunga selama 6 bulan tanpa digaji.

11. Setiap istrinya hamil selalu digugurkan.

12. Istrinya tidak pernah mau sembahyang ke Pura dengan alasan sakit.

13. Dengan alasan itu, beliau pisah dengan istrinya.

14. KTP nya di curi oleh istrinya untuk diganti Agamanya.

15. Tinggal sementara di Pura sampai mendapat kerja, setelah mendapat kerja dan mendapat bekal yang cukup akan pulang ke Bali.

16. Beliau mengaku sebagai paranormal

Made Karmawan

17. Dibali sering di bantu orang dan sempat melarikan sepeda Ibu Mangku



Saya memberikan komentar di grup WA bahwa sebaiknya saat itu juga yang bersangkutan diminta untuk meninggalkan kawasan Pura.

Besok paginya memang ada tindak lanjut dari hasil meeting tersebut. Kesimpulannya yang bersangkutan harus meninggalkan Pura. Dan sore harinya memang pergi entah kemana. Yang bersangkutan sempat update status facebooknya bahwa dia sedang berada di Pura Agung disertai beberapa photo Pura. Bahkan sempat membuat akun baru dengan nama eyang prabu erlangga.


Senin, 04 Januari 2021

PINDAH SHIFT

 Senin 7 Desember 2020. Saya seharusnya masuk malam, sesuai jadwal pergantian shift semenjak wabah corona. Saya telah menjalani rapid test pada hari Jumat sebelumnya di salah satu klinik di batam center.

Terasa kagok ketika berjumpa dengan orang orang lawan shift yang hampir setahun atau tepatnya 10 bulan tidak berjumpa. Suasananya terasa kaku sekali. Sebelum ke ruangan kantor saya menuju smooking area dulu, merokok. Ada beberapa karyawan di sana. Saya menyapanya dan salam covid ke semuanya.

Saya menuju meja kerja saya dan menyalakan computer. Orang-orang yang saya jumpai menyapa saya dengan ramah.

Hari itu saya diajak meeting persiapan stock taking akhir tahun. Si Boss besar ikut. Meetingnya muter-muter. Ya biasalah. Sementara beberapa manager yang ikut dalam meeting tersebut pemain kung fu semua. Pertanyaan memojokkan banyak ditujukan ke saya. Terus terang saya sampai emosi. Pertanyaannya sangat tidak jelas begitu. Antar tidak paham dan susah paham. Hanya bisa bilang salah, tapi tidak tahu yang benar bagaimana.

Bikin dongkol.

Hari berikutnya meeting lagi dengan orang orang store dan lapangan yang menghandle inventory. Sama juga pertanyaan-pertanyaan si big boss tidak jelas. Entah apa yang ditanyakan. Padahal sudah dijelaskan, selang beberapa menit Tanya hal yang sama lagi. Capek deh. Di depan orang banyak malah dia menunjukkan betapa bencinya dia kepada saya.

Sementara pada hari pelaksanaan stock taking, para manager pada cuti. Ada yang pulang kampong, ada yang liburan. Saya mengawasi pelaksanaan stock taking. Tiap hari si big boss nelpon saya, apakah persiapan dan pelaksanaan inventory lancer. Saya selalu bilang, sampai saat ini belum ada masalah.

Kembali ke grup shift semula.

Seelah 4 minggu masuk pagi, saya beruntung masuk grup saya kembali. Saya kembali harus di rapid test. Otomatis tidak jumpa dengan big boss. Agak lega rasanya.