Hari minggu 14 Maret 2021 bertepatan dengan hari Raya Nyepi tahun Caka 1943. Tidak ada terasa special di hari raya kali ini, masih dalam kondisi Covid-19, bertepatan dengan hari Minggu juga. Apalagi di rantauan. Sudah dua kali Nyepi dilewati selama musim pandemic.
Seperti biasa kalau hari Nyepi saya hanya tinggal di rumah bersama anak istri. Tentu semua melaksanakan ibadah puasa. Melaksanakan tradisi yang disebut catur brata penyepian. Tidak bepergian, tidak makan minum, tidak bekerja dan tidak menyalakan api. Tentu sudah banyak di bahas maksud dari ajaran catur brata tersebut. Disini saya tidak menguraikan itu lagi.
Saya bangun pagi sebelum matahari terbit. Membersihkan badan, sembahyang. Tidak ada istilah sahur seperti agama lain. Karena sujatinya puasa tidak perlu sahur. Apalagi puasa yang seharusnya dilaksanakan selama 24 jam dari pagi sampai pagi berikutnya. Namun saya sekeluarga melaksanakannya hanya selama 12 jam. Dari pagi sampai senja hari.
Saya masih buka Hp, Laptop dan nyalakan TV. Namun volume disetel agar tidak terlalu berisik. Sebagian besar waktu saya isi dengan baca baca buku dan tidur. ini waktunya tubuh saya istirahat, setahun sekali, semua kotoran akan mengendap dan akan dikeluarhan sesaat setelah kita mulai minum dan makan. Di saat senja setelah matahari terbenam, saya mengakhiri puasa saya dengan minum the hangat dan makan buah-buahan. Setelah sekitar satu jam kemudian, saya makan nasi yang porsinya lebih berat.
Sejak pagi saya memperhatikan medsos terutama WA. Hanya dua orang yang mengucapkan selamat hari Raya Nyepi. Salah satunya mungkin karena saya sering minjemin dia duit. Sekarang seharusnya sudah jaman lebih maju. Seharusnya pengetahuan agama semakin maju, bukan sebaliknya jaman semakin modern tapi agama justru membelenggu kehidupan kita. Betapa takutnya anda masuk neraka jika memberikan ucapan selamat hari raya ke agama lain. Alangkah naifnya. Entahlah saya tidak tahu, hanya mereka yang faham.
Pagi hari ada dua anak muda panggil-panggil dari depan pagar. Saya menemuinya. Katanya minta uang gotong royong karena saya tidak ikut gotong royong hari miinggu itu. Saya katakana, maaf saya tidak ikut gotong royong karena kami sedang merayakan hari raya nyepi. Dua anak muda itu hanya planga plongo. Mungkin tidak pernah tahu Nyepi itu hari raya agama apa. Waduh. Separah itukan pengetahuan anak sekolah jaman sekarang. Akhirnya saya kasi 10 ribu sebagaimana kesepakatan warga jika tidak bisa ikut gotong royong maka dikenakan sumbangan 10ribu. Saya bilang ‘salam sama pak RT saya tidak ikut goro karena lagi hari Raya’. Ini salah satu cobaan.