Senin, 19 Juli 2021

DISATUKAN MUSIBAH


 

Pagi itu di hari Sabtu 10 Juli 2021 saya dikirimi sebuah photo keluarga oleh salah seorang bekas teman kerja satu PT. Di keterangan photo tersebut ada kalimat bertanya, apakah saya mengenal orang di photo tersebut. Saya jawab ‘ya kenal’, emang kenapa. Terus teman saya itu mengirimi saya photo lain, photo orang sedang terkapar, dengan wajah menghitam. Di keterangan photo tertulis secara garis besar  mengatakan bahwa yang bersangkutan meninggal karena tersambar petir saat nelpon, kebetulan hujan deras. Kejadiannya dekat pasar sagulung. Wah tragis sekali, kata saya merespon WA kawan saya tersebut.

Kemudian di grup komunitas banjar warga bali, banyak komentar simpang siur. Pokoknya ngaku saling kenal baik. Terus terang respon saya bernada negatif. Saya kebetulan tahu yang bersangkutan sejak lama. Tidak pernah kepura.  Apalagi istrinya. Intinya tidak ikut ‘mebanjar’ yaitu perkumpulan wadah orang bali dalam satu wilayah.  Ada yang bilang kalau anaknya disekolah ikut pelajaran agama islam. 

Saya sarankan biar dari pihak keluarga ada yang menghubungi  ke lembaga umat Hindu di Batam. Mengingat kondisi khusus.

Setelah ada kesepakatan semua pihak, mayat diselesaikan secara Hindu. Semua bergerak. Ada yang mengurus jenazah ke rumah sakit. Ada yang mengurus ke rumah duka. Ada yang mencari perlengkapan.

Berdasarkan hasil visum rumah sakit, tidak ada gangguan kesehatan yang mengarah penyebab meninggal mendadak. Kemugkinan besar saat jalan sembari terima telpon, kaki tersandung dan jatuh. Akibatnya kepala terbentur jalan.

Hari minggunya jenazah dibawa ke rumah duka. Anggota keluarga, istri, 5 anaknya menemani di rumah duka di Baloi.

Hari senin keesokan harinya, jenazah dikremasi ke sembau nongsa. Saya nyusul ke rumah duka sebelum jam 10 pagi. Tapi ternyata rombongan sudah duluan berangkat. Sayapun bersama istri langsung nyusul ke Nongsa.

Prosesi sebelum dikremasi dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satria Yasa. Anak-anak dan istri almarhum tinggal mengikuti arahan jero mangku. Saya lihat anak-anaknya kali ini baru pertama kali mengenal sembahyang secara hindu. Sedih sekali melihatnya.

DOA BERSAMA 7 HARI SETELAH KREMASI.



Ada undangan doa bersama dari Banjar, senin 19 Juli 2021 jam 17.00. tadinya saya pikir apakah jam 7 malam yang dimaksud.  Ternyata tidak. Mengingat kondisi wabah covid-19, jam malam dibatasi. Yang datang tidak banyak. Hanya beberapa orang yang deket istri almarhum. Kebetulan ruang tamunyapun tidak terlalu luas untuk menampung banyak orang. Saya datang bersama istri. Kirain acaranya sudah mulai. Ternyata belum. Hanya saya yang bapak-bapak yang hadir pada jam itu.

Seusai doa bersama, perwakilan tokoh umat yang datangnya juga agak terlambat, berkesempatan memberikan petuah agama kepada anak-anak almarhum. Sekaligus mengajak mereka untuk memulai lembaran baru mengikuti ibadah agama secara Hindu dengan tulus dan sungguh-sungguh. Disarankan untuk segera bergabung ke perkumpulan warga Hindu agar komunikasi bisa berjalan lancar. Ini adalah amanah dari keluarga besarnya di Bali kepada Jro Mangku Putu Satria Yasa untuk membimbing keluarga ini di jalan Sanatana Dharma.

Istri almarhum terus terang mengakui bahwa dia dan suaminya memang beda keyakinan sejak awal. Kedepannya dia minta bimbingan umat tentang ajaran agama hindu. Dia dan Anak-anaknya akan menjalankan ajaran Hindu. Semoga saja musibah tersebut dapat menyatukan kita. Swaha. Dan........ kita lihat saja nanti.