Kamis, 21 Oktober 2021

JAGA JARAK DEMI JAGA RASA

 


Sebagai orang ketimuran sepatutnya tetap menjaga adat budaya ketimuran. Menjaga perasaan orang lain penting. Terus siapa yang menjaga perasaan kita sendiri?

Setidaknya begitulah perasaan saya saat itu. 

Kedekatan emosional saya dengan teman-teman satu perusahaan dulu masih terjalin erat. Ini yang membuat saya tetap akrab dengan mereka. Saat saya ndak kerja lagi, saya tidak merasa kesepian. Saya masih anggota group WAnya yang memang diperuntukkan untuk hal hal diluar kerjaan, bukan sifatnya resmi. Obrolan ngalor ngidul sebagaimana halnya sebagian besar isi obrolan group-group lain. Sekedar silaturahmi.

Saya sudah mengetahui rencana mereka akan jalan jalan ke pantai. Mereka menghubungi saya apakah mau ikut, secara tidak langsung saya bilang ok. Cuman mereka masih kurang tanggap dan ragu jawaban saya. Padahal saya sudah mengalokasikan waktu untuk itu.

Rencana jam 7 pagi sudah harus start berangkat. Namun molor. Saya jemput rombongan ibu-ibu ke salah satu rumahnya (saya lupa nama perumahannya). Dari sini berangkat dua mobil. Naikkan barang dan menuju titik kumpul di sekitar kantor samsat SP.

Seandainya perasaan saya waktu itu saya tulis, rasanya tak ada kata kata yang pas untuk itu. Lha gimana tidak. Wong berangkat dari rumah duduk depan samping saya, eh akhirnya harus duduk di jok belakang. Malah mau pindah mobil. Demi menjaga perasaan seseorang katanya. Ya apa boleh buat. Kenapa kok repot banget jadinya. Kalau memang tidak ada urusan dengannya kenapa ambil pusing.

Praktis selama di pantai saya tidak bisa menikmati acaranya. Suasana juga kebetulan hujan deras. Saya hanya ambil photo-photo beberapa kali saja. Itu bagian dari hobby saya.

Saya duluan pulang sekitar jam setengah 3 sore. Masih gerimis kecil. Biarlah kusimpan perasaan ini sendiri.