| Photo dari Group WA |
Barangkali ini hanya catatan kecil di penghujung tahun 2021, dari sekian banyak catatan yang telah dilewati dalam setahun terakhir. Dominannya adalah pandemi covid-19, yang kita syukuri bersama kondisinya telah membaik sampai dipenghujung tahun.
Hujan mengguyur kota Batam dan sekitarnya sejak pagi hari. Saya bergegas ke pura untuk menyambut kunjungan gubernur kepri Bapak Ansar Akhmad SE, MM atas fasilitasi dari Parisada Kepri. Sedianya acaranya dilaksanakan sehari sebelumnya. Karena kesibukan beliau acaranya diundur ke hari Jumat 31 desember 2021.
Saya bagian penyambutan di kesenian yaitu nabuh bersama anak-anak. Anak anak nabuh gamelan mulai pukul 9 pagi yang diiringi hujan deras. Pada akhirnya acara berlangsung di aula pasraman. Gubernur tidak berkenan ke Mandala Utama dimana kami megambel. Bagi kami tidak masalah tidak dapat bertatap muka dengan pak Gubernur meskipun ini moment langka. Yang patut disyukuri bahwa pemerintah daerah telah menyerahkan dana hibah perbaikan Padmasana konon sebesar 250 jt.
Pada pukul 11.30, gubernur telah meninggalkan lokasi karena harus melaksanakan solat Jumat. Kamipun team kesenian membubarkan diri. Bagi yang masih bisa bertahan, panitia menyediakan nasi bungkus nasi padang. Makan bersama lesehan di lantai melingkar. Terasa sekali kebersamaannya meski dominan ibu ibu.
Ketua Parisada Kepri menyampaikan banyak terima kasih kepada segenap umat yang telah mendukung acara penyambutan pak Gubernur, lewat group WA. Saya menggarisbawahi tulisan ketua Parisada tersebut dan mencopastnya :
Tidak ada persaingan di sini, tidak ada pula petandingan di sini, tidak ada juga perlombaan di sini, yang ada hanya pelayanan/sevanam ke hadapan Hyang Widhi melalui sthana beliau yg rusak, naga yg runtuh pada tgl 22 Juni 2020.
Pelaksanaan hari ini terjadi di penghujung tahun 2021, tanggal 31 Desember, mengandung makna yg luar biasa sbg persiapan menyambut tahun baru 2022. Membuka lembaran baru untuk saling membahu fokus memperbaiki Padmasana pura Agung Amerta Bhuana Batam. Mari berdoa semoga Hyang Widhi senantiasa menuntun kita tetap di jalan Dharma.
Apa yang disampaikan oleh ketua Parisada Kepri Dr. I Wayan Catra Yasa M.M tersebut benar adanya. Pura megah yang diberi nama Pura Agung Amerta Bhuana tersebut bukanlah Pura yang dibangun satu atau dua bulan yang lalu. Masih banyak pelaku sejarah dan saksi kunci yang masih ada di Batam. Tidaklah mudah mendirikan tempat ibadah dengan membuat tatanan bangunan ataupun tatanan kehidupan kemasyarakatan umatnya ditengah tengah umat mayoritas. Seperti yang kita saksikan saat ini.
Tatanan yang telah dibangun dengan susah payah itu jangan sampai dirusak oleh sekelompok oknum yang mengatasnamakan umat. Sibuk memprovokasi sebagian umat, menggalang dukungan dengan membangun opini seolah olah pemimpin yang ada selalu disisi yang salah. Ini yang harus dikontrol oleh lembaga agama. Tidak boleh dibiarkan. Berbuat sesuka hati dengan mengatasnamakan umat. Tujuannya baik tapi caranya yang tidak tepat. Tepat jika mereka menyebut diri mereka sekaa demen, demen bikin uyut. Grup atas dasar suka sama suka, yaitu suka bikin ribut. Tanpa bermaksud berprasangka buruk, sebenarnya siapa saja oknumnya, bis akita lihat. Tai wait ans see lah, kata orang melayu.
Selamat tahun baru 2022.