Senin, 10 September 2018
Wiro Sableng Pendekar Kapak Naga Geni 212
Seumur umur selama d batam baru kali ini nonton film Indonesia yg bukan komedi, sujatinya hanya demi menyenangkan si kecil dan untuk menghiasi status fb, katanya. lebih pas film ini bergenre film laga. Wiro sableng pendekar kapak naga geni 212. Ini film remake film lama di th 90an. Apa makna dari 212? Seandainya saja sebelum nonton film ini saya tau ada angka 212 mungkn saya tak jadi nonton. Terlalu apriori dan anti klo liat ato denger 212. Menurut penulis novel wiro sableng yg nota bene adalah mendiang ayah vino g bastian, 212 mulanya hanya meniru identitas tokoh seperti di james bond 007. Namun bisa juga di artikan bahwa angka 2 itu karena tuhan menciptakan sesuatu dengan berpasang pasangan, angka 1 melambangkan tuhan dan angka 2 satu lagi katanya agar jumlahnya 5, yg memiliki makna pada agama tertentu, katanya.
Film ini menceritakan kejadian di Nusantara, abad ke-16, Wiro Sableng (Vino G Bastian), seorang pemuda, murid dari pendekar misterius bernama Sinto Gendeng (Ruth Marini), mendapat titah dari gurunya untuk meringkus Mahesa Birawa (Yayan Ruhian), mantan murid Sinto Gendeng yang berkhianat. Dalam perjalanannya mencari Mahesa Birawa, Wiro terlibat dalam suatu petualangan seru bersama dua sahabat barunya Anggini (Sherina Munaf) dan Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarazi). Pada akhirnya Wiro bukan hanya menguak rencana keji Mahesa Birawa, tetapi juga menemukan esensi sejati seorang pendekar.
Penonton yg jumlahnya mungkin tidak lebih dari 50 orang, yg rata2 adalah remaja dan anak2 pada tertawa menyaksikan adegan2 yg mungkin dianggapnya lucu dan konyol. Menjelang diakhir cerita ternyata ada anak kecil kedengaran bertanya sama ibunya, mah kok yg meinggal itu dibakar mah. Mamahnya jawab sekenanya, waktu itu belum ada kuburan.
Tidak demikian halnya degan saya, malah ngantuk banget dan hamper tertidur. Ini film diproduksi oleh 20th century fox, dengan anggaran 2juta usd, saya rasa tidak match sama sekali antara bahasa, make up, kostum dan lokasinya. Ini film tidak mencerminkan /menceritakan kejadian masa lampau. Kata orang jerman, ceritanya ‘matah kial’. Musiknyapun tidak nyambung. Kalaulah boleh kasi nilai 1 – 10, saya kasi nilai 5 untuk film ini. lha wong yg kasi nilai ini juga wirasableng ngurah ray. hihihihi
Yang penasaran, silakan nonton.
