Rabu, 30 Oktober 2019

Menjaga Kesucian Pura

Pura wajib dijaga kesuciannya. Siapa lagi yang harus menjaga kesucian pura, kecuali kita umat hindu. Bagaimana kita memberi contoh batasan-batasan kesucian pura baik itu kepada internal umat hindu maupun kepada orang luar yang kebetulan berkunjung ke pura sementara kita sendiri yang tidak tau batasannya.
Coba perhatikan photo di bawah.

Photo tersebut adalah photo setelah pelaksanaan ngenteg linggih di salah satu Pura di Tanjung Pinang Kepri. Situasinya mungkin dalam euphoria kegembiraan karena baru saja selesai diadakan upacara ngenteg linggih pura tersebut.

Umat berjejer di area yang kalau umat Hindu sembahyang ya menghadap ke sana. Dan disana pula letak 'altar' Jro Mangku saat memimpin persembahyangan bersama. Barisan belakang bagian tengah kelihatan posisinya lebih tinggi, apakah mereka naik ke atas altar jro mangku? Saya tidak tau persis karena saya tidak berada di situ saat itu.

Klarifikasi salah satu umat yang kebetulan hadir di acara tersebut, kemungkinan iya.
Seharusnya daerah tersebut adalah daerah suci. Disarankan untuk tidak naik sampai kesana karena tidak berkepentingan.
Kenapa kalau berphoto tidak cukup di area tempat duduk yang biasa umat saat sembahyang. Jadi tidak melebihi altar pemujaan jro mangku, bahkan jangan sampai menginjaknya.
Apa nanti tindakan kita jika orang luar melakukan hal yang sama dengan itu.
Diam ataukah menegurnya?
Masih ingatkah saat kita memulai membiasakan diri melepas alas kaki jika masuk ke mandala utama.
Sulit bukan? Apalagi mandala utama dalam kondisi basah atau becek. Rasanya kaki ngilu nginjek tanah. Apalagi ditambah alas kakinya baru dan mahal. Tambah ndak konsentrasi sembahyang ke mandala utama. Tapi begitu menjadi kebiasaan, semuanya jadi biasa saja.

Demikianlah sekelumit kisah.