MUBAZIR, trending topic kata dalam diskusi di grup WA. Tak banyak yang sadar makna kata tersebut. Padahal yang namanya bubazir adalah sesuatu yang sia sia alias tiada guna alias pemborosan. Kenapa menanggapinya berbeda. Ya tak terlepas dari karakter seseorang. Pengalaman seseorang. Bisa juga kadar ego yang berbeda. Sama sekali tidak bisa diterima akal sehat saya, saat mengumpulkan keperluan upacara menjelang piodalan, bagian perlengkapan mengumumkan perlu kelapa sekian sekian. Perlu telor sekian sekian. Tanpa merinci untuk apa saja dan berapa yang dibutuhkan. Orang-orang seakan berlomba untuk nyumbang. Mungkin sudah melebihi dari kebutuhan. Ya maklumlah, orang itu berbeda beda. Mungkin akan sangat senang jika dipuji.
Ketika saya usul, sebaiknya bikin list keperluan, perlu berapa, yang tersedia berapa, siapa yang bertanggung jawab, dsb. Tanggapanpun beragam. Ada yang bilang tidak usah dibuat list karena umat merasa dibatasi untuk berdana punia. Ada yang bilang list kita buat masing-masing, katanya dia tidak sempat monitor karena sibuk kerja. Welehhhhh. Saya berkesimpulan, dan harus memaklumi, meskipun merasa emosi dibuatnya, ya memang tingkat kecerdasan tiap orang berbeda. Ada yang suka kerja sistematis. Ada yang suka kerja serabutan. Saya sampai ngasi contoh bagaimana cara ngontrol kebutuhan. Saya bikinkan tabelnya, tentu meniru cara-cara tahun lalu sebagai referensi.
Begitu juga masalah besarnya iuran bagi yang anaknya ikut upacara rajasewala atau menek kelih. Di awal sudah disampaikan berapa besar iurannya, jika ada yang keberatan agar segera disampaikan ke panitia. Namun tidak ada yang usul. Berarti setuju.
Nah malah ketua lembaga yang bak pahlawan. Bukannya member solusi, malah hanya kesannya bikin masalah mentah lagi. Wong nyatanya tidak ada umat yang keberatan dengan besarnya iuran upacara tersebut, ini kok beranggapan jangan sampai ada umat yang merasa terbebani. Darimana sumbernya. Bukankah umat hindu di batam kaya kaya semua? Nah beragam pendapat, bukannya mengerucut. Hanya ngalor ngidul. Pasti sulit cari titik temu. Akhirnya saya usul ke ketua, agar ambil aja keputusan sebagai ketua. Dengan catatan para orang tua yang anaknya ikut upacara tersebut nanti diajak bicara dari hati kehati. Yang penting melaksanakan upacara dengan didasari hati tulus iklas.
Demikian sodara.