Selasa, 06 Agustus 2019

Selamat jalan Sobat

Selasa 6 juli 2019, sangat sedih saat bangun pagi baca pesan di grup WA yang isinya menginformasikan bahwa seorang teman yang selama ini opname di rumah sakit Awal Bros batam telah pergi untuk selamanya, ke alam sana yang damai.
I Ketut Sugirat Jelantik, meninggal karena inveksi di hatinya dan menurut informasi teman teman juga ada gangguan pencernaan. Ketika saya bersama keluarga berkesempatan bezuk ke rumah sakit, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Masih terpasang selang oksigen dan infuse. Sepertinya masih ada respon. Ketika buang air kecil masih bias bilang ‘pipis’ meski pakai pempers. Ketika saya pamitanpun dia masih bias merespon kata-kata saya. Dia mengagguk ketika saya bilang ‘yang sabar tut, tetap semangat, pasti sembuh’.
Hanya mukjizat yang menyembuhkan suami saya, demikian kata istrinya yang setia mendampingi. Kami berusaha menghibur istrinya agar tabah dan serahkan kepada Hyang Kuasa, tetep berdoa. Keajaiban pasti datang.
Meninggalkan seorang istri yang asli jawa dan seorang putri yang sedang menginjak dewasa. Termasuk warga Bali yang senior di Batam. Bekerja di perusahaan swasta di pulau bulan.
Saya masih ingat sekitar tahun 90an. Ketika itu saya kerja di muka kuning, dan tinggal kost di daerah batu aji bersama istri saya. Tut Sugirat waktu itu datang tergopoh gopoh ke kosan saya membawa lamaran kerja. Bukan untuk dia, tapi untuk warga bali seorang gadis. Dengan senang hati saya menerimanya dan beberapa hari kemudian si gadis yang namanya saya lupa, langsung kerja. Sempat kerja satu atau dua hari saja. Namun kabur tanpa memberi tahu. Katanya lebih suka kerja di hotel. Tidak tahan duduk lama-lama di produksi yang menjemukan.
Setelah itu jarang sekali ketemu almarhum ini. Namanya juga jarang terdengar. Sudah punya istri dan anak. Saat ngantar anaknya mulai ikut sekolah agama hindu di pasraman itulah saya ketemu almarhum. Dia manggil saya Bli Ngurah. Saya inget kata-katanya ketika berjumpa di pura. Bli Ngurah sehat? Bli Ngurah awet muda. Kata dia waktu itu.
Hari ini saya sangat sedih tidak bias ikut prosesi pemulangan jenasahnya mulai dari rumah sakit, terus ke rumah duka dan selanjutnya ke bandara untuk dikirim jenazahnya ke bali. Saya kerja dan ndak bias ditinggalkan.
Selamat jalan semoga damai di alam sana. Kelaurga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan.

Di Rumah Duka - sebelum jenazah tiba

Suasana haru keluarga dan umat