Selasa, 13 Agustus 2019

Niat Bantu (‘catatan pribadi’)

Malam itu 8 agustus 2019, untuk ketiga kalinya ibu itu datang ke rumah. Pinjem duit untuk bayar listrik dan beli obat untuk suaminya. Tiap bulan pinjam duit. Sebelumnya pada bulan Juni, Juli sudah pinjam. Janji akan dikembalikan tanggal 25 agustus setelah anak-anaknya gajian. Saya was was juga jika nanti ternyata tanggal yang dijanjikan tidak juga dibayar. Entahlah. Itu janji mereka. Selebihnya serahkan kepada Yang di atas. Menurut apa yang dia sampaikan di WA hanya kamilah yang bias membantu kesulitan mereka.
Kondisi keluarga ini kurang lebih seperti tulisan saya yang berjudul ‘Mengubah Jalan Hidup’. Benar tidaknya nanti kedepannya, ya hanya mereka sekeluarga yang tau dan yang di atas.
Suatu hari minggu, kami ajak si ibu dan suaminya ini bagi sembako. Sepertinya mereka suka diajak bakti social begini. Memang suka ataukah ada niat lain, saya tidak tau.
Banyak suara suara yang mengganggu di ingatan saya yang sampai ke telinga saya. Diantaranya dengan nada mengingatkan untuk berhati-hati karena hanya dimanfaatkan. Kita bantu orang hindu dari bali saja, demikian kata yang lainnya. Kalau dia ternyata balik lagi ke islam, bagaimana. Demikian omongan-omongan mereka. Ditambah lagi suatu waktu istri salah satu Jro mangku pernah melabrak si ibu itu saat berjualan ternyata menggunakan penutup kepala/kerudung. Mereka memang pernah bilang ke saya bahwa si ibu itu berjualan dengan berjilbab hanya untuk menarik simpati pembeli yang dilingkungan mayoritas muslim. Yang penting hati kami hindu. Hanya Hyang Widhi yang tau, demikian kata si ibu waktu itu, dan saat di mandala utama Pura Agung.
Bias jadi warga hindu satu banjar dengannya merasa terbebani. Bias jadi. Saya tidak tau. Hubungan keluarga si ibu ini dengan warga banjarnya sepertinya tidak harmonis. Saya belum pernah nanya apakah ikut ‘mebanjar’ ikut suka duka perkumpulan banjar atau tidak.
Seandainya warga banjar tidak sreg dengan si ibu itu, kenapa harus dijauhi. Bukankah harusnya dirangkul, diarahkan. Dengan demikian dia semakin tebal keyakinan hindunya. Apalagi anak-anaknya sudah pada beranjak dewasa. Tentu pergaulannya dengan umat agama lain.
Terakhir saya denger ketua lembaga kota yang juga seorang guru agama hindu sudah berkunjung ke tempat tinggal ibu itu didampingi penyelenggara hindu kota batam. Ini gara-garanya saya memposting atau memprovokasi anggota grup WA agar bertindak sesuatu membantu keluarga tersebut. Tahun ajaran baru sekolah sudah berjalan. Sementara anak si ibu itu yang paling kecil tidak bias sekolah. Kesulitan tehnis ngurus kepindahannya. Tak terbayang bagaimana psikis anak kecil yang tidak sekolah sementara melihat kawan kawannya pada sekolah. Syukurlah ada janji untuk membantu si anak tersebut untuk sekolah.
Saya menyarankan kepada si ibu agar berusaha mengajak anaknya ikut sekolah agama hindu di pasraman. Minimal dia mulai bias bergaul dengan sesame anak hindu.
Semoga semuanya dalam keadaan baik-baik saja.
Nanda (kaos merah)