Selasa, 18 November 2014

MENEBAR FITNAH MENGHARAP SIMPATI

Minggu 16 Nopember 2014 tatkala saya mengkoordinir perayaan hari kelahiran Bhagavan Sri Sathya Sai Baba ke 89 yang bertempat di aula pasraman jnana sila bhakti batam, suatu pelajaran yang dapat diambil hikmahnya. Pertama, acara yang dihadiri juga oleh 48 orang bhakta singapore itu rencananya akan dilaksanakan di bale paselang mandala utama pura agung seperti tahun tahun sebelumnya, kini disarankan untuk dilaksanakan di aula pasraman dengan alasan lebih memadai lagipula untuk memanfaatkan sarana yang ada, mengingat ada umat yang memberi masukan kepada parisada, kemudian parisada menyampaikan kepada pengelola pura dalam hal ini Badan Otorita Pura atau BOP. Cukup bijak langkah yang diambil Parisada dan Ketua BOP.
Yang menjadi pertanyaan saya adalah yang mengatas namakan umat dan langsung direspon oleh parisada. Jangan-jangan ini hanya ulah segelintir orang yang mengatas namakan umat namun mengapa langsung direspon oleh parisada. Ataukah ini adalah ulah dari orang atau bahkan ikut jadi pengurus lembaga keagamaan dan tidak jauh-jauh dari lingkungan penulis. Penulis sendiripun adalah umat, yang mungkin tidak berlebihan jika saya menyebut diri saya seorang umat yang ‘peteng lemah’di lingkungan pura. Apakah seorang ketua Parisada yang sangat jarang turun ke lapangan atau Pura dengan gampang menerima masukan.
Yang kedua, penulis diminta oleh Bahkta Singapore memberikan 10 kupon kepada anak-anak pasraman/ paud untuk ikut pada acara potong kue agar tidak terlalu banyak anak-anak di deket altar. Kupon dititipkan ke gurunya, namun rupanya entah dibagikan semua atau tidak. Malah pengurus Paud sibuk bicara kesana kemari kenapa kok ndak semua dikasi kupon. Saya kok jadi heran, bukannya bersyukur sudah dikasi, ini malah protes. Bahkan setelah beberapa anak yang hadir di acara mendapat hadih, ada orang tua malah ribut berkata ‘anakku punya kupon kok tidak dikasi hadiah’. Waduh dari tadi saat acara berlangsung anaknya entah kemana diajak orang tuanya, setelah lihat teman-temannya bawa hadiah baru ribut. Nah uniknya lagi, salah seorang pengurus malah sibuk membagi-bagikan bingkisan kepada anak-anak dari biaya sendiri. Bagi sebagian orang yang tidak jeli mungkin hal ini biasa saja, namun penulis melihatnya sesuatu yang unik, istilah kerennya tebar pesona agar dikagumi orang lain.
Yang ketiga, saya dimintai ada penari bali di acara tersebut dan sudah dijanjikan ada 4 penari. Sayapun menginformasikan ke bhakta singapore ada 4 penari, tolong disiapkan bingkisan. Ternyata yang sanggup hanya dua penari. Sayapun tidak tahu persis apa alasannya, apa orang tua tidak mendukung atau alasan lain. Tentunya hanya yang bersangkutan yang tahu.
Yang keempat, kami panitia menyediakan 250 paket gado-gado gratis untuk bhakta dan semua umat yang hadir. Bagi yang hatinya masih lurus-lurus dan polos, tidak ada masalah mau memakannya. Namun segelintir orang yang menyimpan rasa iri dan dengki, rela menahan laparnya karena gengsi ikut makan pemberian kami. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Apakah merasa gengsi karena dikasi gratis? Atau perasaan lain?

Tahun tahun sebelumnya, yang dipermasalahkan adalah sampah bekas makanan setelah acara serupa selesai. Tidak rela orang lain yang membuang sampah. Kata-kata sinis dilontarkannya. Jadi sebenarnya apa yang dibicarakan selama ini, apa hanya ngerumpi menebarkan sifat iri dan dengki. Bukannya hal-hal positif yang dibicarakan, malah mengajak orang lain menebarkan rasa kebencian. Sangat bijaksana jika ada yang mengatakan ‘nak irage jak liu, nak mule keto’. Padahal kata-kata bijak ini meninabobokkan kita, menjerumuskan kita, bukan menyelesaikan masalah. Terima kasih.