Minggu 16 Nopember 2014 tatkala saya mengkoordinir perayaan
hari kelahiran Bhagavan Sri Sathya Sai Baba ke 89 yang bertempat di aula
pasraman jnana sila bhakti batam, suatu pelajaran yang dapat diambil hikmahnya.
Pertama, acara yang dihadiri juga oleh 48 orang bhakta singapore itu rencananya
akan dilaksanakan di bale paselang mandala utama pura agung seperti tahun tahun
sebelumnya, kini disarankan untuk dilaksanakan di aula pasraman dengan alasan lebih
memadai lagipula untuk memanfaatkan sarana yang ada, mengingat ada umat yang
memberi masukan kepada parisada, kemudian parisada menyampaikan kepada
pengelola pura dalam hal ini Badan Otorita Pura atau BOP. Cukup bijak langkah
yang diambil Parisada dan Ketua BOP.
Yang menjadi pertanyaan saya adalah yang mengatas namakan
umat dan langsung direspon oleh parisada. Jangan-jangan ini hanya ulah segelintir
orang yang mengatas namakan umat namun mengapa langsung direspon oleh parisada.
Ataukah ini adalah ulah dari orang atau bahkan ikut jadi pengurus lembaga
keagamaan dan tidak jauh-jauh dari lingkungan penulis. Penulis sendiripun
adalah umat, yang mungkin tidak berlebihan jika saya menyebut diri saya seorang
umat yang ‘peteng lemah’di lingkungan pura. Apakah seorang ketua Parisada yang
sangat jarang turun ke lapangan atau Pura dengan gampang menerima masukan.
Yang kedua, penulis diminta oleh Bahkta Singapore memberikan
10 kupon kepada anak-anak pasraman/ paud untuk ikut pada acara potong kue agar
tidak terlalu banyak anak-anak di deket altar. Kupon dititipkan ke gurunya,
namun rupanya entah dibagikan semua atau tidak. Malah pengurus Paud sibuk
bicara kesana kemari kenapa kok ndak semua dikasi kupon. Saya kok jadi heran, bukannya
bersyukur sudah dikasi, ini malah protes. Bahkan setelah beberapa anak yang
hadir di acara mendapat hadih, ada orang tua malah ribut berkata ‘anakku punya
kupon kok tidak dikasi hadiah’. Waduh dari tadi saat acara berlangsung anaknya
entah kemana diajak orang tuanya, setelah lihat teman-temannya bawa hadiah baru
ribut. Nah uniknya lagi, salah seorang pengurus malah sibuk membagi-bagikan
bingkisan kepada anak-anak dari biaya sendiri. Bagi sebagian orang yang tidak
jeli mungkin hal ini biasa saja, namun penulis melihatnya sesuatu yang unik,
istilah kerennya tebar pesona agar dikagumi orang lain.
Yang ketiga, saya dimintai ada penari bali di acara tersebut
dan sudah dijanjikan ada 4 penari. Sayapun menginformasikan ke bhakta singapore
ada 4 penari, tolong disiapkan bingkisan. Ternyata yang sanggup hanya dua
penari. Sayapun tidak tahu persis apa alasannya, apa orang tua tidak mendukung
atau alasan lain. Tentunya hanya yang bersangkutan yang tahu.
Yang keempat, kami panitia menyediakan 250 paket gado-gado
gratis untuk bhakta dan semua umat yang hadir. Bagi yang hatinya masih
lurus-lurus dan polos, tidak ada masalah mau memakannya. Namun segelintir orang
yang menyimpan rasa iri dan dengki, rela menahan laparnya karena gengsi ikut
makan pemberian kami. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Apakah merasa gengsi
karena dikasi gratis? Atau perasaan lain?
Tahun tahun sebelumnya, yang dipermasalahkan adalah sampah
bekas makanan setelah acara serupa selesai. Tidak rela orang lain yang membuang
sampah. Kata-kata sinis dilontarkannya. Jadi sebenarnya apa yang dibicarakan
selama ini, apa hanya ngerumpi menebarkan sifat iri dan dengki. Bukannya
hal-hal positif yang dibicarakan, malah mengajak orang lain menebarkan rasa
kebencian. Sangat bijaksana jika ada yang mengatakan ‘nak irage jak liu, nak
mule keto’. Padahal kata-kata bijak ini meninabobokkan kita, menjerumuskan
kita, bukan menyelesaikan masalah. Terima kasih.