Senin, 23 Maret 2020

SAYA BUKAN SIAPA SIAPA

Akhirnya saya beserta anak dan istri saya pulang ke Bali tanggal 22 Maret 2020. Sejujurnya saya merasa sedih ketika istri saya nanya saat keluar dari ruang kedatangan, ‘siapa yang jemput kita’?, Tanya istri saya. Saya bilang kita naik taxi saja. Meski terasa asing sekali alias kagok. Dimana harus nunggu taxi, mana yang namanya gedung parker. Mana lift parker.

Seakan saya tidak punya siapa-siapa.

Adik tidak bisa jemput dengan mobil bututnya karena sibuk persiapan upacara mendiang ayah saya. Bersama masyarakat. Kebetulan kakak di Surabaya sudah duluan pulang, bahkan bawa dua mobil, stand by. Jarak bandara dengan kampong lumayan jauh. Apakah taxi mau sampai di kampong.
Saya coba pancing perasaan kakak. Kebetulan jenazah ayah masih dititip di rumah sakit di desa kapal (di kota). Apakah tidak ada rencana ‘memunjung’ ke rumah sakit. Yaitu membawakan sajen dan 'makan' untuk orang meninggal yang dianggap masih hidup. Syukurlah, ada kesamaan pikiran. Bisa jumpa di rumah sakit. Saya bertiga naik taxi dari bandara menuju rumah sakit kapal. Rombongan kakak bawa mobil yang disupiri oleh tetangga. Meskipun saya denger kabar, istri kakak saya tidak iklas sekalian jemput saya. Kenapa saya ndak naik taxi saja sampai di rumah. begitu kata isu yang saya denger.

Akhirnya bertemu di rumah sakit. Kebetulan hari libur, diminta masuk lewat pintu belakang. Kebetulan kamar jenazah deket pintu belakang. Belakang Rumah Sakit ada tanah kosong untuk parkir kendaraan.

Dalam perjalanan pulang sempat mampir di pasar 'senggol' tabanan kota. Ini pasar favorit saya waktu kecil. Betapa senangnya jika diajak orang tua mampir ke pasar senggol. Beli sate kambing atau tahu tipat. 

Dari jalan raya menuju rumah, tepatnya dari pertigaan Pucuk, di ujung jembatan baru, disinilah pertigaan yang penuh kenangan saat saya sekolah di kota maupun saat saya kuliah di UGM Jogja. Sampai di simpang jalan inilah saya biasa nunggu ankutan umum, atau nunggu bus malam ke Jogja. Begitu juga sebaliknya jika saya pulang ke kampung. Di simpang inilah biasanya saya turun menunggu di jemput bapak saya. Dari simpang ini menuju desa dalang, jalan desa sudah sejak lama kondisinya rusak. Boleh dibilang parah. Lobang sana sini. Memperihatinkan. Jika ada kendaraan khususnya mobil yang datang dari arah berlawanan, salah satu harus menepi.

Selama melintasi jalanan rusak, saya berpikir bagaimana saya menuju rumah jika tidk ada tumpangan. Teringat waktu SMP dulu di tahun 77 – 79, harus jalan kaki sejauh kurang lebih 12 Km dari jalan raya menuju rumah. Karena tidak ada kendaraan. Atau kalau kebetulan ayah saya tidak bisa jemput.
Saya sadar, saya bukan siapa siapa, ternyata.  Mencari rumah dimana dulu dilahirkan kok betapa sulitnya.