![]() |
| ogoh-ogoh 2020 |
Setiap tahun umat hindu di kota Batam khususnya membuat ogoh-ogoh. Pertama kali pada tahun 2012. Sejak itu pula alasan mengapa ada pawai ogoh-ogoh. Katanya untuk menunjang pariwisata. Tentu selain alasan ritual.
Pernah satu kali pawai dengan mengarak ogoh-ogoh dilaksanakan di seputaran engku putri. Diakhir acara ogoh-ogoh juga dibakar di alun-alun engku putri. Saat itu juga sepertinya ada hadir dari dinas pariwisata batam. Dia berjanji akan mensupport acara ini untuk menarik wisatawan ke batam. Tapi, hanya sebatas wacana. Tidak pernah terealisasi. Bahkan ada juga umat hindu yang bergerak di bisnis pariwisata. Sering juga berjanji bakal menjembatani kegiatan kebudayaan dengan pemerintah daerah. Tapi seingat saya ndak pernah terwujud.
Membuat satu ogoh-ogoh memerlukan dana yang tidak sedikit. Sekitar 10 sampai 15 juta jika dihitung termasuk ongkos pembuatannya. Pengerjaannyapun biasanya butuh waktu lebih dari satu bulan. Itupun biasanya pengerjaannya secara keroyokan untuk menghemat ongkos pengerjaan.
Hamper tidak ada sisi negative yang bisa dikatakan. Dengan catatan kalau kita mau membuang sisi negatifnya. Pembuatan ogoh-ogoh mempererat tali persaudaraan, memupuk jiwa gotong royong. Yang tidak kenal menjadi saling kenal. Yang sudah kenal menjadi semakin akrab. Sebagai daya tarik umat untuk ikut upacara tawur kesanga atau pengerupukan. Bisa jadi pengerupukan akan sepi jika tidak ada pawai ogoh-ogoh. Para pemudanya tidak akan datang. Begitu rumornya. Masyarakat batam menjadi tahu tentang keberadaan umat hindu di batam.
Tidak tanggung-tanggung, tahun ini katanya akan ada 3 buah ogoh-ogoh. Satu buah dari anggaran panitia nyepi. Satu dari swadaya umat HIndu. Satu lagi sumbangan dari salah satu umat yang punya jiwa seni. sebagai penyaluran hobby dan jiwa seninya. Yang pertama adalah ogoh-ogoh untuk bapak-bapak, yang kedua untuk ibu-ibu dan yang ke tiga untuk anak-anak. Semangat umat Hindu di Batam memang patut diacungi jempol.
Di sisi lain masih butuh biaya yang sangat besar untuk kelangsungan pembangunan Pura Agung. Bagimana kalau biaya ogoh-ogoh yang puluhan juta itu dialihkan ke pembangunan. Masih banyak pembangunan yang tertunda. Tapi itu kalau kita berpikirnya ke sana. Kembali lagi ke alasan di atas.
Di sisi yang lainnya lagi, ada usulan membuat taman di areal pura. Untuk memperindah Pura, katanya. Padahal kalau saya pikir, apa bedanya membuat ogoh-ogoh dan membuat taman. Yang membedakan hanya waktu. Bikin ogoh-ogoh bisa cepat selesai, dan begitu prosesi selesai langsung dibakar dan habis tak berbekas. Hanya menyisakan catatan pengeluaran. Bikin taman perlu waktu yang lebih panjang. Saat pembuatan, kedua hal tersebut mempunyai ambisi yang sama. Berapapun tambahan biayanya pasti tertutupi. Seiring berjalannya waktu, taman juga akan hilang. Tidak ada planning perawatan. Merawat yang sudah ada biasanya jauh lebih susah dari pada membuat yang baru.
Ogoh-ogoh; perlu biaya, ada nilai seni, ada nilai ritual, cepat sirna. Taman; perlu biaya, ada nilai seni, tidak ada nilai ritual, sirnanya lama. (igstng)
