Kamis, 03 Agustus 2023

MAYADENAWA NGEGALUNG

Umat Hindu khususnya yang berada di Indonesia merayakan Hari Suci Galungan setiap enam bulan sekali atau setiap 210 hari. Itu perhitungan kalender Bali, 6 kali 35 hari. Tepatnya pada Hari Rabu Kliwon wuku Dungulan.

Banyak referensi dan sering diulas rentetan perayaan hari suci Galungan. Mulai dari Tumpek Wariga yaitu sekitar empat minggu sebelum wuku dungulan. Momen mengingatkan kita pada tanaman yang akan dipakai sarana di hari suci Galungan. Kemudian ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, yaitu biasanya membersihkan tempat tempat suci dan momen pembersihan secara rohani. dan rentetan terakhir setelah Galungan adalah Kuningan.

Eforia perayaan Galungan sangat terasa dengan ciri khasnya saat hari Penampahan yaitu sehari sebelum Galungan. Masyarakat Hindu biasanya pesta masakan khas Bali seperti Lawar, urutan, tum dan lain sebagainya. 

Pada hari Galungan biasanya umat Hindu melakukan persembahyangan baik bersama sama maupun pribadi ke tempat tempat suci dimana mereka berada. Umat Hindu road show dari pura satu ke pura selanjutnya, tergantung rute yang lebih simple. Terakhir biasanya malam hari dilaksanakan di Pusat Pura atau Pura yang dianggap utama. Seperti halnya di Batam, yaitu Pura Agung Amerta Bhuana.

Pada pagi hari saya bersama istri mengikuti persembahyangan bersama di Pura Sathya Dharma di Muka Kuning. Informasinya persembahyangan dimulai jam 8 pagi agar tidak terlalu panas. Ternyata jam 8 pagi umat hanya beberapa yang baru hadir. Memang rangkaian persembahyangan sudah dimulai. Kemudian sekitar jam 9 baru kemudian umat lebih banyak yang hadir, sehingga pelataran Jeroan hampir penuh. Ya berarti waktu terpagi umat bisa hadir itu jam 9 pagi.

Persembahyangan di Pura Satya Dharma dipimpin oleh Jro Mangku Agung Arif Suryanata didampingi istri. Saat Jro Mangku mulai membunyikan Gentanya saya perhatikan sepasukan monyet berdatangan dari dalam hutan. Ini yang kadang merusak konsentrasi saat sembahyang. Bagaimana tidak, monyet mencari kesempatan saat kita sembahyang. Jadi terpaksa sibuk sat set sat set ngusir monyet sambil sembahyang atau sembahyang sambil ngusir monyet.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Pura yang berlokasi di komplek Polda Riau di daerah Nongsa. Kurang lebih jaraknya sekitar 30Km. Nama Puranya Pura Adistana Samanasya. Cukup sulit mengingat namanya dan melafalkannya. Lebih gampang disebut Pura Polda saja. Ini  pertama kali saya kesana, sempat bertanya kepada polisi yang saya jumpai, dan dengan ramahnya polisi tersebut menunjukkan lokasi Pura. Bersebelahan dengan Gereja, tepatnya disamping atas lapangan bola. Di sana juga dilaksanakan persembahyangan pagi, saat saya dan rombongan tiba, persembahyangan bersama sudah usai. Akhirnya sembahyang sendiri sendiri. Kamipun pamitan setelah bersalam salaman dengan “tuan rumah” dan beberapa umat yang masih menunggu di aula Pura, bersebelahan dengan bangunan Pura.

Pada malam harinya persembahyangan bersama dipusatkan di Pura Agung. Disini dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satriayasa. Umat memang cukup banyak yang hadir. Terbukti diakhir persembahyangan MC menyampaikan dana Punia yang terkumpul sekitar 4 jutaan. Rangkaian acara persembahyangan seperti biasanya. Hal yang cukup beda dan ada kemajuan dimana pendharmawacana dibawakan oleh ketua bidang Perencanaan dan Pembangunan Pura Agung yaitu I Gusti Ngurah S. Tema yang dibawakan adalah Mitologi atau cerita Mayadenawa dan kaitannya dengan Hari Raya Galungan. Cerita klasik yang populer di Bali. Yang melahirkan adanya perayaan Galungan. Pesan terselip diakhir dharma wacanya bahwa kita sebagai orang tua harus menjaga anak cucu kita agar tidak terpengaruh oleh ajaran Mayadenawa yang saat ini berubah wujud menjadi ajaran ajaran yang menyimpang dari ajaran hindu Bali. Sudah mulai ada membuat caru yang tidak boleh memakai daging atau hewan. Begitu katanya. Inilah sebenarnya benang merah yang mau disampaikan oleh pendharmawacana. Padahal sifat sifat Mayadenawa ada di setiap orang. Tidak jauh jauh. Dalam Kakawin Ramayana disebutkan “ragadi musuh maparo, ri hati ya tongganya, tan madoh ring awak”. Apakah ini  seperti pepatah Bali, bagaikan mungutin buah gatep (sejenis jengkol) pilih pilih mana yang berisi mana yang kosong.

Suksma