Sabtu, 01 Juli 2023

PERTEMUAN BANJAR BATU AJI TIMUR 1 JULI 2023



Yayasan Optimis

Kita ini dipermainkan oleh umat sendiri/ kawan sendiri dan oleh pihak SL. Demikian komentar salah satu umat yang kebetulan hadir saat pertemuan warga Hindu di daerah Batu Aji timur. Pertemuan banjar yang rutin dilaksanakan tiap bulan secara bergilir dari rumah ke rumah. Kali ini dilaksanakan di rumah Putu Kertiada. Perumahan Taman Lestari blok B4 no 6. Yang hadir hanya sembilan keluarga dari 25 keluarga yang terdaftar sebagai warga Banjar Batu Aji Timur. Paling ada satu atau dua orang yang memberi informasi ketidakhadirannya. Inilah salah satu kelemahan organisasi jika mengadakan pertemuan.

Saya spontan tertawa mendengar kalimat kawan tersebut. Istilah Balinya mekebris. Saya sejak dulu dari awal mencuatnya masalah dengan SL bisa menebak bahwa permasalahan tersebut akan buntu. Berlarut larut, komunikasi bermasalah, tidak ada kemampuan menghadapi pihak SL yang notabene cara berpikirnya mengutamakan logika. Sementara pihak kita hanya inginnya pakai otot. Coba perhatikan bagaimana umat kita menyelesaikan masalah. Sudah diajak rapat susah. Hadir sekali sekali yang dibahas bolak balik tidak fokus. Tidak konsisten. Di awal bilang A, seiring berjalannya waktu kliatanya arahnya ke B, maka dia berubah pendapat ke B. 

Ada beberapa informasi yang disampaikan oleh klian banjar. Diantaranya naiknya iuran BOP dari 40 ribu menjadi 60ribu per KK tiap bulan. Info perbaikan Bale Papelik dan melanjutkan ukiran karang gajah Padmasana. Kemudian informasi kelanjutan master plan tentang Sri Lalita. Dan yang terakhir mengenai rencana pembentukan Yayasan.

Ada beberapa tanggapan atau informasi tambahan dari umat yang hadir. Seperti Sri Lalita. Minta direlokasi dan ditunjukkan tempatnya, namun yang lain katanya ada yang bilang tidak boleh disitu karena posisinya di hulu Padmasana. Gelak tawapun keluar dari yang hadir. Mungkin lucu.

Informasi penting sebenarnya yang disampaikan oleh mantan ketua BOP, Ngurah Brunayasa yaitu ada yang mempertanyakan bagaimana kelanjutan uang BOP yang statusnya dulu dipinjamkan ke panitia renovasi Padmasana. Apakah uang tersebut dikembalikan atau dihibahkan saja toh untuk pembangunan Pura. Ini berpotensi bola liar dan panas yang ditendang sewaktu waktu. Ini lagi lagi tidak ada notulen rapat. Sekarang harusnya dibuatkan nota kesepemahaman dituangkan dalam berita acara rapat agar statusnya close. Seharusnya ditentukan kapan dan saat apa kesepemahaman tersebut dibuat. Jangan hanya jadi wacana yang sementara hilang dari peredaran.

Isu lainnya adalah tentang legalitas Pura. Harus ada Yayasan yang melindungi legalitas Pura. Konon ketua Yayasan sudah terpilih yaitu Putu Suardika. Entah kapan dipilih dan siapa saja yang milih. Tinggal sekarang membentuk susunan pengurusnya. Dalam diskusi tersebut memang kembali diungkapkan bahwa nanti Yayasanlah yang menaungi semua kegiatan keagamaan. Saya menyela pembicaraan, sebelum lebih jauh membuat rencana, yang pertama harus dibuat adalah Yayasan beserta komponen komponennya. Sampai dimana pembentukan Yayasan. Yang saya dengar ada yang bilang sangat mudah mendirikan Yayasan. Ada yang bilang masih terkendala, entah apa alasannya, masih mbulet. Yang jelas optimis. Demikian kata Putu Suardika. Sekali lagi, optimis.