Senin, 25 Juni 2018

TIRTAYATRA ke pura besakih

Asing di tanah sendiri
Minggu 24 Juni 2018, Menyewa mobil avanza, saya, istri dan anak yang paling kecil serta adik sekeluarga berangkat dari rumah jam 6 pagi tujuan Pura Besakih. Setelah jalan sekitar 3 kilometer dari rumah, saya baru inget dompet ketinggalan. Akhirnya balik lagi ke rumah ambil dompet dan beberapa barang lainnya.
Sambil tterus berdoa semoga semuanya berjalan lancer, tancap gas mesti jalanan di desa tidak mulus. Harus sedikit lihai mengendalikan stir kalau tidak mau masuk lubang.
Adik berperan sebagai navigator. Setiap persimpangan senantiasa member aba aba, lurus, kiri atau kanan.
Jalanan tidak begitu ramai, mungkin karena suasana liburan. Hampir disepanjang perjalan hujan gerimis sehingga perjalanan tidak terasa gerah. sepertinya ambil jalan pintas sehingga sampai di tujuan lebih cepat.
Sampai di besakih ternyata salah parkir dan hendak jalan kaki menuju tempat sembahyang yang jaraknya masih sangat jauh. Untung ada ibu ibu yang berjualan memberitahu bahwa kalau mau sembahyang boleh bawa kendaraannya sampai ke depan gerbang pura.
Pertama jalan kaki menuju pura gua raja. sepanjang jalan menuju pura banyak penjaja canang dan sarana sembahyang menawarkan dagangannya dengan sedikit memaksa dan seperti nada memelas agar dagangannya dibeli. Kami kebetulaln membawa sarana sembahyang dari rumah sehingga tidak usah beli.

Menuruni tangga yang sangat licin. Menuruni anak tangga satu demi satu dengan  extra hati-hati takut kepeleset. Jalanan kelihatan berlumut, tapi kok tidak ada orang yang jatuh terpeleset.
Masuk ke dalam pura yang mirip goa. Sepertinya para pemedek sembahyangnya bergantian sesuai rombongan. Kami menunggu sebentar karena sedang ada rombongan yang sedang bersembahyang. Menurut cerita di pura inilah kita mencurahkan segala permasalahan yang kita miliki dan mohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa untuk mengatasi permasalahan.
Ada 3 buah pelinggih yang masing-masing dibawahnya dililit oleh naga, yang menurut cerita adalah Naga Basuki, Naga Tatsaka dan Naga Anantaboga. Sembahyang dilakukan sendiri-sendiri atau dipimpin oleh Pemangku rombongan masing-masing dan saat nunas tirta diperciki oleh seorang Pemangku wanita yang kelihatannya masih muda. Pantat harus rela berbasah-basahan karena lantai sembahyang basah dan sedikit kotor. Kami permisi dan mohon ijin sudah diberikan kesempatan tangkil di Pura Gua Raja.