Sepintas kedengaran seolah olah warisan leluhur ada yang menjarah sehingga perlu diselamatkan. Padahal sebenarnya usaha menyelamatkan tersebut bukan sesuatu yang disengaja atau direncanakan. Lha wong puluhan tahun, mungkin ratusan tahun tersimpan tidak ada yang berani menyentuhnya.
19 agustus 2020, ada yang share photo pembersihan lontar di grup keluarga jero dalang. Seketika anggota keluarga yang tinggal diluar bali langsung berkomentar. Lha kok dalam photo Nampak beberapa orang asing, maksudnya bukan anggota keluarga. Disamping juga ada Nampak utusan perwakilan masing-masing keluarga. Perwakilan bale dangin, bale delod, bale daje, bale dauh, jro munduk malang, denpasar, dan puri tampak siring yang kebetulan Ida waktu kecilnya berada di Jero dalang.
Barulah kemudian salah satu mengatakan bahwa ada petugas dari Penyuluh Bahasa Bali Provinsi dibawah pengawasan dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Memang ini agenda mereka untuk melestarikan warisan budaya leluhur. Katanya.
Kemudian ada pertanyaan, bagaimana awalnya kok sampai orang lain tahu kalau di jero dalang ada warisan leluhurnya berupa lontar? Siapa yang ngasi tahu? Mengapa mereka punya agenda duluan untuk menyelamatkan lontar. Namun pertanyaan mendasar ini tidak terjawab dengan jelas. Kan aneh, tiba-tiba orang lain datang mau membersihkan lontar, sementara di internal jeroan saja tidak semua tahu ada warisan leluhur berupa lontar. Bagaikan kekayaan alam Indonesia yang dikeruk habis oleh Negara asing karena tidak mampu mengolahnya dan karena ketidak tahuan.
Apa sebenarnya tujuan dari dinas untuk membersihkan asset perorangan atau keluarga. Meskipun denger denger ada anggaran untuk itu dari pemerintah. Murnikah tujuannya untuk membantu masyarakat. Tidak ada yang tahu pasti. Karena yang mereka utarakan hanya bertujuan baik.
Klasiffikasi dan identifikasi lontar. Itulah tujuannya mereka datang. Namun sampai berita ini saya tulis belum ada kelanjutannya. Mengapa anggota keluarga tidak ada yang membuat orat oret sendiri lontar apa saja yang kita miliki. Finalisasi pembersihan dilakukan tanggal 26 agustus 2020.
Saya Tanya salah satu anggota keluarga di bali yang kebetulan bisa menemani petugas membersihkan lontar. Dari yang disampaikan petugas, ada 3(tiga) kotak lontar, kotak pertama katanya berisi riwayat perjalanan penglinsir/ leluhur dari puru Blahbatuh menetap di Dalang, nama keluarga katanya Puru Dalang Tegeh. Sampai mempunyai Pura yang namanya Pura Beji. Kotak kedua katanya berisi lontar tentang Kepemangkuan dan Pengobatan (usadha). Dan kotak ketiga tentang Pedalangan.
Setiap lontar katanya diisi label nama. Entah bagaimana wujudnya, kita tunggu sampai petugasnya menyerahkan data ringkasannya.


