Beberapa hari yang lalu ada sms dari pengurus Parisada Kota batam yang isinya undangan rapat pembentukan Lembaga Kedukaan Hindu pada hari ini minggu 15 mei 2011 di pura agung amerta bhuana. Aku sebenarnya bertanya-tanya apa yang mendasari rencana pembentukan lembaga kedukaan tersebut. Apakah ada hubungannya dengan ke pemerintahan ataukah hanya karena untuk mengakomodir/menanggulangi permasalahan internal. Jika karena alasan yang pertama, aku sangat setuju paling tidak akan menambah pos-pos untuk bantuan dana dari pemerintahan. Tentu petinggi di lembaga keumatan paham akan hal ini. Jika karena alasan yang kedua, aku sangat tidak setuju karena hanya membuang-buang waktu sebatas wacana. Lebih effective dan effisien jika dihidupkan kembali lewat banjar suka duka. Sekiranyapun sistimnya yang belum ada, ya harus dibuat dulu. Tidak perlu yang muluk-muluk. Jadi skupnya tidak hanya sebatas berduka namun juga manakala umat sedang ada sukanya.
Sampai hari ini aku sudah tiga minggu harus menggunakan tongkat, kaki masih sakit karena jatuh di ‘rumah Tuhan’. Aku merasa sangat sengsara dan berduka. Disaat seperti ini apakah harus menunggu terbentuknya lembaga kedukaan untuk paling tidak turut merasakan kedukaanku. Tak seorangpun ingin berduka, namun musibah terkadang tidak bisa dihindari. Hanya teman-temanku sesame pengurus pasraman yang datang menghiburku. Organisasi ditingkat banjar, atau lembaga keumatan ditingkat kota ? atau provinsi? Mimpi di siang bolong rasanya. Aku kecewa pada diriku sendiri. Ada rasa malu, ada rasa iri dibenakku. Sementara mereka yang berdiam diri di rumah sambil berjapa, aman-aman saja. Mereka tenang-tenang saja tanpa pernah merasa khawatir akan disingkirkan oleh umat atau banjar. Apanya yang salah dengan semua ini. Ini yang perlu dicarikan jawabannya.
Sementara, saat ada seorang ‘umat’ yang ditimpa kedukaan, padahal namanya saja belum pernah ada yang mendengarnya di batam padahal sudah bertahun tahun di batam. Beberapa orang entah mewakili lembaga ataukah pribadi, menunjukkan kalau dirinya menaruh perhatian terhadap ‘umat’ yang berduka tersebut. Ini yang membuat aku tidak habis pikir, sementara diantara yang menunjukan diri simpati tersebut, jika ada kegiatan keumatan sangat susah untuk diajak.
Kembali lagi ke masalah lembaga kedukaan tersebut, jikalah memang karena alasan yang pertama, silakan dilanjut, aku sangat mendukung.