Senin, 19 Desember 2011

Hargailah Budaya jika ingin melestarikannya.

Jika ingin melestarikan budaya kita sendiri, maka kita harus menghargainya.Bukan orang lain, karena kita sendiri yang menjiwai budaya itu. Menghargai bukan hanya dinilai dengan materi, namun bisa juga dengan merawat peralatan yang mendukung budaya tersebut ataukah menjaga penampilan dari unsur budaya itu sendiri.
Saya cukup kaget ketika seorang penari Bali mengatakan bahwa dirinya dibayar hanya beberapa puluhribu rupiah untuk membawakan dua tarian bali. Barangkali kalau diukur dari lamanya tampil di panggung yang hanya beberapa menit mungkin iya sepadan.Sebuah tarian paling lama sekitar 5 menit.Namun proses untuktampil 5 menit itu memerlukan waktu berjam-jam. Minimal 4 jam. Sungguh tidak masuk akal dari segi bisnis, pikir saya.
Saya adalah orang tua salah satu penari bali. Sulit saya menjawabnya ketika anak saya menyampaikan keluhannya kepada saya. Kok tega sekali aku dikasi uang cuman beberapa puluh ribu rupiah, aku sudah rela ninggalin mata pelajaran disekolah, kadang aku harus tidak ikut ulangan, demi ikut pentas, kata anak saya. Kamu sudah besar nak, silakan pikirkan dan ambil keputusan sendiri, ambil yang terbaik buat masa kini dan masa depan, kata saya. Selebihnya saya merenung . Ini untuk siapa? Untuk si penari bali? Demi kelestarian kesenian itu sendiri? Demi keuntungan seseorang? Entahlah saya tidak tahu. Mari kita merenung. Jangan sampai ada kesan mengexploitasi orang lain demi keuntungan sendiri.
Dilain pihak saya cukup kagum, sujatinya iri, ketika bertemu dengan beberapa orang penari daerah lain. Mereka biasanya tampil dengan 4 sampai enam orang penari,bukan penari profesional, bahkan sama sekali belum pernah nari/ pentas seblumnya. Berapa kalian dibayar menari seperti itu, tanya saya. Ya cuman 200 ribu per orang kata mereka. Itu sudah diluar ongkos rias dan sewa pakaian. Saya kaget dalam hati sambil membayangkan bagaimana ribetnya penari bali dengan dandanannya dibandingkan dengan seperti ini, yang hanya dikasi uang beberapa puluh ribu saja. Mereka nari bukan dengan lemah gemulai, tapi lemah lembut sekali. Tidak perlu dandanan yang memerlukan waktu berjam-jam, latihanpun hanya beberapa kali saja. Ini benar-benar tidak adil.
Siapa lagi yang menghargai budaya sendiri kalau bukan kita sendiri.