“Semakin berisi semakin merunduk”, demikian kata khiasan yang sangat lazim kita dengar sejak kita mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar. Tidak hanya padi, hampir semua jenis tumbuh-tumbuhan berbuah memang sifatnya demikian. Jika buahnya semakin berisi, maka dia akan semakin merunduk dan karena beratnyalah dia akan menarik pohonnya ke bawah hingga merunduk. Namun bila buahnya kosong atau busuk, maka dahan/ pohonnyapun akan sedikit mendongak. Demikian juga halnya dengan padi. Padi yang bulirnya besar-besar dan subur, maka dia akan merunduk karena lebih berat dibandingkan jika buah padi tersebut banyak yang kosong. Memang pribahasa ini mencerminkan tingkah laku seseorang yang tidak sombong, tidak suka menonjolkan dirinya walaupun sebenarnya ilmu yang dimilikinya cukup banyak. Namun yang perlu kita renungkan apakah pribahasa ini masih relevan di jaman serba global saat ini. Persaingan untuk bertahan hidup dan melangsungkan kehidupan untuk selalu menuju ke yang lebih baik, dari waktu ke waktu kian dirasakan semakin berat. Bukan berarti kita harus sombong atau menyombongkan diri untuk berpura-pura tahu.
Seperti halnya khiasan ilmu padi, ilmu bambu juga mencerminkan sifat dan tingkah laku kehidupan umat manusia. Ilmu bamboo adalah kebalikan dari ilmu padi. Bagaimanakah sifat bamboo? Bambu cenderung berusaha untuk muncul paling tinggi diantara pohon-pohon yang lainnya. Meskipun rumpun bamboo tumbuhnya di dalam hutan belantara, namun dia akan tetap menjulang ke angkasa, berusaha melampaui pepohonan lainnya. Bambu sangat kokoh persatuannya diantara rumpunnya sendiri. Dia tidak pernah mau berpisah dari rumpunnya. Ikatan diantara rumpunnya sangat kuat, susah dipisahkan.
Bambu mampu menunjukan jati dirinya yang sebenarnya, menunjukkan sikap yang tidak rendah diri.
Berpulang kepada diri kita masing-masing, mana yang sekiranya cocok buat kita dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi bahan renungan untuk ke depan.