Hari sudah malam, baru saja selesai sembahyangan bersama. seorang ibu tua terbungkuk-bungkuk sendirian menuruni anak tangga curam dari mandala utama. terbungkuk-bungkuk karena memang fostur tubuhnya bungkuk. dari kejauhan aku perhatikan dia kebingungan sendiri, aku menghampirinya. "kenapa bu, nyari siapa", sapaku. dengan bahasa bali halus dia menjawab bahwa bantennya dibawa oleh ibu-ibu entah siapa namanya. "tunggu saja sebentar bu, nanti pasti turun", kataku dalam bahasa bali juga. tak tega melihat kalau dia harus naik tangga kembali ke mandala utama.
selang berapa lama datang seorang ibu nyunggi banten si ibu tua itu, dan memberikan kepadanya. ada yang jemput bu, atau mau mekemit di pura? tanyaku. mau dijemput anak saya, kata si ibu tua itu. tak lama kemudian melintas sedan silver dan berhenti, aku perhatikan kok dari tadi mobil ini sudah bolak balik. kalau nyari seseorang kok tidak bertanya, pikirku.
seperti tertatih tatih si ibu tua yang bungkuk itu mendekati mobil sedan yang berhenti. seorang ibu berjilbab turun menyambut si ibu tua bungkuk dan mengambil bantennya. merekapun masuk mobil. yang nyupir mobil kemudian turun karena kebetulan ada yang dikenalnya, dan mengucapkan selamat hari raya. rupanya si supir itu adalah anaknya si ibu tua bungkuk, dan yang memakai kerudung adalah menantunya. oo rupanya si ibu tua bungkuk hanya diantar oleh anaknya kalau sembahyang ke pura dan dijemput kembali kalau sekiranya sudah selesai sembahyang. seketika dadaku terasa sesak akan apa yang baru saja aku lihat. entah kenapa, air mataku hampir jatuh.
selamat hari raya ya bu, maafkan anakmu. barangkali demikian kata si anak dalam hatinya.