Tulisan ini saya buat beberapa saat sebelum jam makan siang sekedar ngisi waktu. tiba-tiba saja saya teringat dengan seorang wanita ex-hindu bali yang telah bersuamikan non hindu yang saya jumpai beberapa hari terakhir ini saat latihan pentas malam dharmashanti nyepi caka 1934. latihannya di mandala utama pura agung amerta bhuana batam. saya tidak kenal orangnya dan rasanya tidak mau kenalan agar saya tidak sayang padanya, demikian kata pepatah terbalik, he he he.sebut saja namanya ni luh eka koncreng seorang ibu (bukan nama sebenarnya). dari teman-teman yang senior di batam saya tahu bahwa ni luh eka ini adalah orang bali dan dulu hindu mungkin karena korban cinta dia ikut agama suaminya.
Barangkali karena perasaan iri dengki di hati saya masih mengendap, entah kenapa saya antipati sekali dengan ni luh eka itu apalagi menyapanya rasanya lidah ini kelu. Sebenarnya rasa tidak adil ada di diri saya, bukankah bergelimpangan ibu-ibu yang berasal dari keyakinan yang berbeda sebelumnya dalam komunitas hindu di batam? entahlah yang jelas saya melihat ni luh eka ini over acting sekali. seperti sudah jadi seorang muslim yang fanatik, tidak mau di deketin sama anjing, najiz katanya.
Rencananya mau ikut nari di malam dharmashanti sehingga dia mau datang ikut latihan bersama. apa ndak ada penari lain di internal? demikian tanya seorang ibu dengan setengah komplin. Katanya dia penari senior, eh kok narinya begitu. lagian yang paling menjengkelkan saya, masak pas nari masih pegang-pegang blackberry, kayak ABG aja. Apa merasa dia saja yang punya BB? Tapi Syukurlah ni luh eka tidak jadi nari di malam dharmashanti.