Rabu, 19 Januari 2022

“SANGGAH” MERAJAN DI RANTAU


Banyak orang berkomentar, entah maksudnya heran atau apa. Wuih kok bikin merajan besar begitu di rantauan. Itu ndak boleh sembarangan lho. Berarti dia sudah menetap di rantauan dan ndak akan pulang ke bali. Dan berbagai komentar miring lainnya. Padahal ndak ada yang aneh. Lha wong sanggah merajan adalah tempat pemujaan kepada Yang Kuasa agar lebih nyaman saja. Kalau kita pergi, ya sanggahnya di pralina (dihancurkan).

Saya kebetulan diundang saat acara Ngenteg Linggih sanggah/ merajan salah satu umat Hindu di Batam. Beliau adalah pemilik bengkel mobil yang sudah sangat maju. Bengkel Arya. Lokasinya di ruko Kintamani batam center. Tiga ruko dalam satu blok. Dua ruko berdampingan, dan satu lagi dipisahkan ruko milik orang lain. Harapannya satu ruko terjepit tersebut suatu saat bisa diambil alih.

Saya kebetulan koordinator peguyuban seni karawitan bali di batam. Beberapa hari sebelum hari h saya berkunjung ke rumah pak made “bengkel” sudarta. Istilah dikampung saya, ngayah. Meski tidak diundang dalam persiapan acaranya, karena saya kenal beliau, saya datang bersama istri malam harinya.

Tak bisa dipungkiri, kasak kusuk tanda tanya apakah boleh gong di bawa keluar yang bukan acara pura. Wah, sayangnya tidak pernah ada pernyataan jelas yang melarang gong dibawa keluar pura. Kalau bisa dibuat sulit kenapa dipermudah. Begitu kata pepatah. Selama ini toh tidak ada perubahan, gong sering dibawa pentas keluar.

Dari photo photo yang di share di grup WA, yang banyak hadir di acara persiapan ngenteg linggih tersebut adalah orang orang yang punya sikap berbeda dengan umat umumnya, yang kelihatannya membentuk satu kelompok.

Acara ngenteg linggih dipuput oleh Ida Resi dari Makasar, lanang istri, yang kebetulan beliau ada di Kepri. Ida Resi “lanang” hanya mendampingi Ida Resi “istri” dalam menjalankan prosesi karena kesehatan beliau kurang mendukung. Acara dimulai dari jam 8 pagi sampai konon malam hari. Karena saya pada jam 4 sore ijin pulang duluan setelah peralatan Gong dibawa balik ke Pura Agung dan makan dua kali.

Apakah ruko ini akan jadi “markas” kelompok ini? Kita liat saja nanti.