Saya bertiga yaitu istri dan anak berangkat dari rumah sekitar jam 1.30 siang. Itu hari Minggu 6 nopember 2022. Sesuai informasi panitia, acara melasti dimulai pukul 4 sore. Dan ketika tiba di Pura belum begitu banyak umat yang hadir. Belum nampak ada kesibukan yang berarti. Kecuali sejumlah orang yang lagi sibuk masak memasak untuk konsumsi setelah melasti.
Saya berangkat dari rumah memang belum memakai pakaian sembahyang. Masih pakai celana pendek. Rasanya lebih nyaman jika beraktifitas. Aktifitas saya tentunya angkat angkat peralatan gong. Mengiringi prosesi dengan baleganjur. Itulah tugas saya.
Umat semakin banyak yang datang, kebetulan siswa Pasraman diminta masuk kelas jam 2 sore.
Waktu semakin mendekati pukul 4 sore. Bahkan sudah lewat 30 menit dari jam 4 sore. Acara ngaret. Dah biasa. Saya dibantu beberapa teman mengeluarkan peralatan. Masih beberapa orang belum datang.
Hampir jam 5 sore iring iringan prosesi menuju sei ladi dimulai. Saya memberi komando untuk mulai megambel baleganjur. Di kawal oleh beberapa personel kepolisian. Karena melewati/ nyeberang jalan umum.
Di sei ladi seperti biasa prosesi penyucian dan pengambilan air suci untuk keperluan nantinya saat piodalan. Umat yang mengikuti prosesi justru duduk di sepanjang jalan aspal. Malah ada jarak antara pemimpin upacara dengan umatnya. Barangkali takut pakaiannya kotor jika duduk direrumputan.
Matahari tenggelam, hari mulai gelap. Prosesi di sei ladi telah selesai dan iring iringan kembali menuju Pura Agung.
Sesampai di pura saya bersama team langsung mengembalikan peralatan ke tempatnya. Saya tidak mengikuti prosesi selanjutnya di pelataran mandala utama.
Waktu istirahat tiba. Umat dipersilakan mengambil prasadam prasmanan. Pada antusias takut tidak kebagian, mungkin. Sepintas saya perhatikan menu makan berlimpah.
Saya tidak ikut ngambil makanan. Bahkan nasi putihnya pun tidak. Entah mengapa saya tidak tertarik ikut menikmati masakan yang disediakan itu. Beruntung saya jumpa satu bungkus menu vegetarian. Mungkin sisa. Sumbangan dari kelompok kesadaran Krishna, konon. Lumayan perut berisi, bahkan kenyang.
Kemudian ada panggilan lewat pengeras suara bahwa persembahyangan bersama akan dimulai. Sayapun bergegas naik ke mandala utama.
Itulah pernik pernik melasti.